Pancasila di Antara Generasi Milenial - Soeara Moeria

Breaking

Tuesday, 3 December 2019

Pancasila di Antara Generasi Milenial

Muhammad Edwin Ardianto.
Oleh : Muhammad Edwin Ardianto, mahasiswa Ilmu Administrasi Negara UNISMA 2019
Pada orde lama banyak tantangan yang dihadapi, yaitu muncul dari kelompok nasionalis-religius yang belum menerima pancasila. Mereka masih menginginkan sila pertama dari pancasila adalah “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Dan yang paling besar menolak pancasila adalah Kahar Muzakar yang selanjutnya membentuk DI/TII sebagai perlawanan terhadap pemerintah dan untuk menjadikan Negara Indonesia sebagai Negara Islam.

Dan pada masa orde baru yang menggantikan orde lama hadir dengan semangat “koreksi total” atas penyimpangan Soekarno pada orde lama. Pada masa orde baru ini upaya Presiden Soeharto tentang pancasila diliputi oleh paradigma yang esensinya adalah bagaimana menegakkan stabilitas guna mendukung rehabilitas dan pembangunan ekonomi di Indonesia. Itulah sekilas tentang pancasila pada masa orde lama dan orde baru, di zaman sekarang ini yang bisa disebut zaman generasi milenial.

Dalam zaman yang bergerak ini, kita akan bertemu dengan pertanyaan seperti ini, “Masih relevankah Pancasila di hari-hari ini? Bagaimana urgensinya?” Dari pertanyaan tersebut, maka Pancasila akan berhadapan pada tantangan kekinian; Pancasila di antara simpul generasi milenial, generasi yang menjadi pemilik bangsa 20 tahun ke depan. Dan untuk itu, jawaban sederhananya adalah krisis makna keutamaan Pancasila bisa terjadi jika generasi milenial belum mampu mendefinisikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dan jika keutamaan Pancasila adalah gotong royong, maka kita harus lebih sering berkenalan dengan banyak situasi yang ada di bangsa ini. Inilah pergumulan harus dihadapi.

Ada satu hal yang menyorot perhatian, yaitu pembahasan namun yang paling kekinian di antara yang paling kekinian; urgensi Pancasila di antara simpul generasi milenial. Sedikit menjelaskan soal zaman dan generasi. Adalah zaman bergerak. Peralihan zaman sekarang kerap disebut dalam fase generasi 1G ke 5G, yang lain menyebutnya generasi S, B, X (generasi yang ada sejak tahun 1928 sampai 1980-an yang disebut generasi Silent, Boomer, X) ke X, Y, Z plus Alpha (generasi 1980 hingga 2000-an sedangkan generasi Alpha adalah generasi tahun 2010-an) adapun yang sekedar menyebut generasi klasik ke generasi milenial.

Hal yang perlu dicatat adalah alih-alih menganggap bahwa generasi milenial ini berbeda dengan generasi klasik dari sisi keyakinan religi, pandangan ekonomi dan politik, kehidupan sosial, dan cara-cara kebangsaan yang mereka alami. Mereka memiliki pendifinisian keutamaan kehidupan sosial yang agak sedikit berbeda dari generasi sebelumnya.
  
Dalam konteks generasi milenial, ciri khas lain generasi ini adalah akrab dengan teknologi dan media sosial. Selain itu, generasi milenial sangat lebih terbuka dengan pemikirannya maka mereka juga dengan mudah mengadopsi nilai sosial yang lebih berperilaku modern.

Di sinilah titiknya. Untuk memperkokoh mental berbangsa yang berkebudayaan Indonesia, generasi milenial sebagai generasi pemegang masa depan bangsa Indonesia perlu banyak berkenalan dengan banyak nilai dasar Pancasila. Sebut saja sila pertama, Ketuhanan yang maha Esa. Ketuhanan tidak dalam artian yang sempit, tidak terkotak pada identitas agama tertentu namun makna sila satu yang paling esensi adalah “Hendaknya Negara Indonesia ialah Negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang paling leluasa”.
   
Singkatnya, permasalahannya adalah, jika generasi milenial tidak serta merta menyerap nilai-nilai Pancasila seutuhnya, kemungkinan yang bisa terjadi adalah ke depan dominasi generasi ini mudah disusupi paham yang bertentangan dengan budaya dan nilai Pancasila, rentan akan perpecahan, akrab dengan ketidakadilan dan kejujuran yang langkah. Generasi milenial yang tidak dapat menyerap dengan baik nilai Pancasila akan mengakibatkan krisis makna keutamaan pandangan hidup berbangsa, dalam hal ini cita-cita bangsa Indonesia; Pancasila.

Pancasila yang seharusnya menjadi spirit berbangsa dan bernegara dalam bingkai agung nasionalisme akhirnya menemukan lawan tandingnya yaitu zaman yang bergerak. Zaman yang terus melahirkan simpul generasi-generasi baru seperti generasi yang disebut generasi milenial, yang tidak bisa dimusnahkan tidak juga bisa diabaikan. Dalam artian bahwa Pancasila akan mengalami benturan pemaknaan nilai Pancasila dengan derasnya kemajuan teknologi dengan arus informasi tanpa batas yang akrab pada generasi milenial. (*)

No comments:

Post a comment