Sawan Beruk - Soeara Moeria

Breaking

Friday, 29 March 2019

Sawan Beruk

https://luvizhea.com


Cerpen Kartika Catur Pelita

Bermula dari seorang nelayan mencari kayu untuk bahan dayung perahunya. Maka ia teringat pada kebun rimbun di samping makam di pinggiran pantai. Ia gegas menaiki sepeda ontel dan berkeliling di kebun petai cina.  

Ia terpikat pada pohon yang batangnya seukuran dua kali lengan lelaki dewasa.  Ia memanjat dan memotong dahan seukuran lengan. Ia menebang,  crus,   sesuatu   itu jatuh. Buk, bukan batang atau dahan, tapi malah tubuh si nelayan tua.  Aneh, ia terjatuh dari pohon petai setinggi dua puluh meter, ia tiba-tiba terbangun,  dan terbungkuk-bungkuk menaiki sepeda. Pulang.
      
Ia tak terluka sedikit pun,  namun kala hendak mengontel sepeda, tiba-tiba  tubuh tua dan sepeda renta menghempas, menghunjam ke bumi. Gelap gulita menyelubungi benak, kemudian ia tak ingat apa-apa.

                                                                   * * *
Sejak ditemukan  pingsan di bawah pohon petai, dan  dibawa ke rumahnya,  nelayan tua terlihat seperti orang linglung. Setiap   pagi bangun tidur, ia tak mandi. Padahal biasanya  ia  seorang yang tak betah kotor, ia  dijuluki raja mandi. Tak  mandi di sumur, pun mandi di laut tidak, asal tubuh terbuai  air.  Tubuh hitam legam, bersisik khas nelayan. Entah. 
      
Ia kini enggan mandi, tepatnya takut air. Kulitnya busik, kasar.  Ia suka garuk-garuk,  mungkin tubuhnya terasa gatal. Ia pun suka membungkuk-bungkuk ketika berjalan. Ia sering cengar-cengir sendirian, padahal ia dulu pendiam, jarang tersenyum.   Melihat lagak dan polahnya maka tersiar kabar jika ia   terkena sawan beruk.
    
“Ia lancang berani menebang pohon keramat.”
    
“Kebun petai itu angker.  Ia kena kutuk.”
    
”Kalau tak segara disembur Mbah  dukun, bisa-bisa ia jadi kera selamanya.’
    
“Mengerikan!”
    
“Makanya jangan bertindak  ngawur.”
    
“Jangan asal menebang  pohon.  Apalagi pohon yang ada ‘penunggu’nya!”

* * *
Sejak nelayan tua terkena sawan beruk, ia terlihat  semakin gila berperilaku  seperti monyet.  Ia melepas  baju, telanjang dada tinggal mengenakan  celana kolor lusuh. Tubuhnya   yang kekar legam  berbulu menguarkan perilaku seekor  primata
      
Setiap hari duduk-duduk di pos ronda, enggan bekerja, tidak mau menebar jaring atau jala, bahkan memancing ikan pun, tak. Ia memilih melakukan sesuatu yang menurutnya  biasa saja,  padahal perilakunya menarik perhatian orang. Ia suka cengar-cengir, naik di atas pohon, garuk-garuk, melompat-lompat. Nguik-nguik, suara-suara aneh berdesis dari mulut dowernya.
  
Ia  suka  diam-diam  saba dan menari di kebun pisang, memakan pisang sekenyang-kenyangnya. Orang-orang memandangnya beraneka reaksi. Ada yang kasihan. Ada yang  menyumpah, ada yang takut. Anak-anak malah mengolok-olok. “Ada beruk, ada beruk...”
      
Aneh,  ia tidak marah. Malah  tertawa ringan, kegilaan semakin menjadi-jadi. Berhari-hari, berminggu. Tentu pihak keluarga merasa prihatin. Mereka ke sana-ke mari mencari obat. Mendatangi dokter,  paranormal, tabib, hingga  kiai. Obat-obat dan terapi pun diberikan. Tak mempan.  Kelakuan si nelayan tua semakin menggila.  Pernah beberapa kali ia berak dan tak cebok. Tai basah-kering berceceran di mana-mana. Warga  mengusulkan agar ia dipasung. Pihak keluarga jelas-jelas menolak.   Mereka pun  mendatangi   dukun. Dukun mengatakan hal miris:  nelayan tua terkena  sawan monyet, sawan beruk!

“Apakah dia bisa sembuh Mbah?”
     
“Tentu, asal engkau mencarikan syarat-syaratnya.”
     
“Kami akan memenuhi syaratnya. Mbah. Penting  sembuh.”
     
“Bukan sekadar syarat. Tapi tumbal.”
     
“Tumbal? Apa  tumbalnya,  Mbah?”
     
“Ayam jantan  hitam. Kalian cari ayam jantan yang masih perjaka. Ayam jantan hitam yang belum pernah mengawini babon.”
     
“Untuk apa, Mbah?’
     
“Kok untuk apa? Ya untuk tumbal penunggu  pohon petai.  Kau sembelihlah  ayam jantan hitam, darahnya kau balurkan di pohon tempat  ia menebang  pohon itu.  Ia akan sembuh.”
* * *
Maka anak si nelayan  melakukan  perburuan : mencari ayam jantan yang masih   perjaka, masih perawan, berbulu hitam pula. Sungguh sulit nian menentukan apakah  seekor ayam jantan sudah pernah atau belum pernah mengawini babon.  Mereka sudah  mencari, sabur  berusaha, sabar menanti. Si anak nelayan berpikir, bagaimanapun caranya  ia harus bisa menemukan ayam jantan itu.

Hingga timbul pikiran  cemerlang  si  anak nelayan: ia  menunggui babon yang sedang mengerami  telur. Menjaga agar si anak ayam hitam tetap perawan.
      
Ia akan menunggu, mengharap menetas ayam   berbulu  hitam. Ayam berjenis jantan. Ia akan memeliharanya, menunggunya hingga ayam besar,  kemudian menyembelih, dan melaburkan darahnya di pohon petai keramat. Semoga selama  waktu menunggu si ayahnya tidak benar-benar berubah menjadi  kera sungguhan.
                                                          
* * *
Telah tiba saatnya, si anak cemani jantan  sudah temanggang,  remaja. Bugar, bersih,  dan  segar.  Sang dukun memutuskan  malam Jumat kliwon pas  pukul dua belas tengah  kala ritual akan dilakukan. Dukun telah siap melakukan pengobatan, ubarampe : kembang, menyan, dan darah ayam  harus segera disiapkan. Tetangga berdatangan, ingin melihat proses penyembuhan  nelayan yang tersabet sawan. Mereka berharap semoga si nelayan tua segera sembuh, afiat seperti sedia kala.
      
Ritual jelang dilakukan ketika sang  nelayan  sawan kera  menghilang. Orang  was-was pada nasib buruk yang mengintai. Mungkin si  sawan  kera berbuat  nekat mengakhiri hidup, atau musibah  menjemputnya?
     
Mereka menabuh kentongan, berpenerangan obor, mencari jejak si sawan kera. Pada ujung pantai di bawah pohon petai si nelayan sawan kera akhirnya  ditemukan. Ia tengah menungging dan menyetubuhi ayam hitam yang masih perjaka! (*)
Kota Ukir, 29 Maret 2019

Kartika Catur Pelita,  prosa dan puisi  dimuat media cetak- online. Buku fiksi ‘Perjaka’ dan ‘Balada Orang-Orang Tercinta.’ Bermukim dan bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ). Novel terbarunya : Kentut Presiden.

No comments:

Post a comment