Melihat Batik Tradisional Hingga Kontemporer di Museum Batik Pekalongan - Soeara Moeria

Breaking

Wednesday, 27 March 2019

Melihat Batik Tradisional Hingga Kontemporer di Museum Batik Pekalongan

https://www.pegipegi.com
Pekalongan, soearamoeria.com – Kota Pekalongan memang terkenal dengan sebutan kota batiknya. Saking terkenalnya, tak salah jika di daerah tersebut terdapat Museum Batik Pekalongan. Pada 12 Juli 2006 silam Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan museum yang letaknya berada di Jalan Jatayu No.1 Pekalongan, Jawa Tengah.

Dipilihnya Jatayu sebagai lokasi museum karena tempat ini tergolong strategis. Pertama selain sebagai pusat budaya di Pekalongan, tepat di depan museum adalah alun-alun yang menyatu dengan lapangan, tempat ibadah, beragam kulineran, dan tergolong wilayah yang ramai.

Fajar Dewa, koordinator pelayanan program museum batik Pekalongan mengatakan bahwa museum yang mempunyai peran penting dalam perolehan sertifikat pengakuan Unesco atas batik Indonesia sebagai warisan budaya tak benda ini berdiri di atas tanah seluas 3000 meter. Bangunannya berdiri menempati salah satu herritage peninggalan Belanda. 

Setelah membayar tiket Rp5.000 untuk dewasa, Rp2.000 untuk anak-anak dan pelajar dan Rp10.000 untuk turis mancanegara Anda bisa langsung masuk ke bangunan yang berarsitek peninggalan Belanda, berpadu dengan taman asri, dan bersih.  

Dikatakan Dewa, di dalam museum ada 3 ruang pamer, ruang audio visual, pelatihan batik, perpustakaan, ruang data, ruang simpan dan konservasi, aula, kedai, dan lain-lain

Di museum yang buka setiap hari mulai pukul 08.00 – 15.00 wib ini ramai dikunjungi oleh pengunjung terbilang musiman. Di antara waktu yang kerap dikunjungi ialah liburan, baik hari besar, lebaran, maupun akhir tahun. 

http://wiranurmansyah.com
Di samping itu, bersamaan dengan hari batik 2 Oktober museum ini juga ramai. Tanggal ini bersamaan pula dengan mengganti tema dan koleksi di 3 ruang pamer. Saat soearamoeria.com mengunjungi museum ini 3 ruang pamer terdiri dari, ruang 1 motif bineka, ruang kedua nusantara, dan ruang ketiga motif Pekalongan. Sehingga jika dihitung hingga saat ini koleksinya sudah mencapai lebih dari 1.200 koleksi batik.

Menurut data yang diberikan soearamoeria.com dalam 3 tahun terakhir museum yang telah mendapatkan best safeguarding practices dari Unesco mengalami peningkatan pengunjung.

“Tahun 2016 ada 20.522 pengunjung. Tahun 2017 sebanyak 23.426 pengunjung setahun, dan tahun 2018 pengunjungnya sejumlah 25.520,” terangnya Dewa yang kelahiran Jakarta ini.

Menurutnya peningkatan pengunjung dari tahun ke tahun ini tidak lain karena promosi. Media promosi yang digerakkan melalui brosur, media sosial dan media yang lain. Selain itu, tambah Dewa yang sudah bekerja di museum selama 5 tahun ini promosi yang dilakukan pihaknya juga berupa kegiatan baik internal maupun eksternal.

“Untuk kegiatan internal misalnya lomba batik, flog, dan desain batik. Untuk pameran di luar Pekalongan yang sudah kami lakukan di Kalimantan, Sulawesi, Jambi, Borneo, dll,” ungkap suami Fatimah (39) ini.

Di akhir perbincangannya dengan soearamoeria.com Dewa menyatakan bahwa tujuan dari adanya museum batik ini ada 3 yakni penelitian, edukasi, dan konservasi.

Dikemukakannya, untuk tujuan penelitian pihaknya sudah memiliki materi yang dipamerkan, kajian batik beserta databasenya. Adapun untuk tujuan edukasi masyarakat tahu tentang tata pamer, dan alur cerita tentang batik.

Ditambahkannya, selain melihat koleksi batik pengunjung juga sisi edukasi lain bisa membatik baik membayar maupun gratis. Untuk yang gratis ukurannya mini pengunjung bisa membatik sesuai dengan pola maupun sesuai keinginan sendiri. Selama membatik pengunjung akan didampingi tutor khusus dari museum.

“Untuk yang bayar sapu tangan Rp25.000, slayer 35.000, taplak meja 65.000, dan frame gramis plankan Rp35.000,” lanjutnya.

Sedangkan sebagai wahana konservasi pihaknya lewat museum juga bagian daripada melestarikan produk asli nusantara. “Dengan adanya museum ini batik semakin lestari dan makin dicintai,” harapnya. (sm) 

No comments:

Post a comment