![]() |
| Pemilihan langsung Ketua (Lurah) Pondok Putra untuk masa bakti Tahun Ajaran 2026/2027, Minggu (12/7/2026). |
Jepara, soearamoeria.com - Pondok Pesantren Nailul Muna, Kalipucang Wetan, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, menggelar pemilihan langsung Ketua (Lurah) Pondok Putra untuk masa bakti Tahun Ajaran 2026/2027, Minggu (12/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan pesantren tersebut menjadi bagian dari pendidikan demokrasi bagi para santri melalui praktik pemilihan yang mengedepankan prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Luber Jurdil).
Sebanyak empat kandidat mengikuti kontestasi pemilihan, yakni nomor urut 1 M. Fikrom Murod, nomor urut 2 Abdul Latif Jauhari, nomor urut 3 M. Rizki Alfarizi, dan nomor urut 4 M. Azkan Najjah.
Puluhan santri yang memiliki hak pilih memberikan suaranya secara langsung melalui mekanisme pencoblosan menggunakan surat suara.
Berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan suara, M. Fikrom Murod berhasil memperoleh suara terbanyak dengan 23 suara. Posisi kedua ditempati Abdul Latif Jauhari dengan 22 suara.
Sementara M. Rizki Alfarizi memperoleh 3 suara dan M. Azkan Najjah memperoleh 4 suara. Selain itu, panitia juga mencatat terdapat dua surat suara tidak sah karena pemilih mencoblos lebih dari satu kandidat.
Hilal Ambiyat selaku panitia menyampaikan, seluruh tahapan pemilihan telah dilaksanakan secara sistematis sebagaimana mekanisme pemilihan pada umumnya.
Mulai dari pembentukan panitia, pendaftaran bakal calon, penyampaian visi dan misi, hingga persiapan logistik berupa surat suara, bilik suara, dan kotak suara.
Pengasuh Pondok Pesantren Nailul Muna, KH. M. Ali Masrukhin, mengatakan bahwa pelaksanaan pemilihan ketua pondok merupakan bagian dari proses pendidikan karakter dan pendidikan demokrasi bagi para santri.
"Kegiatan ini merupakan wujud pendidikan demokrasi yang kami berikan kepada para santri agar mereka mengetahui sekaligus mempraktikkan sistem demokrasi yang berjalan sesuai dengan ketentuan negara. Santri tidak cukup hanya memahami ilmu agama, tetapi juga harus memiliki kepedulian sosial, memahami aturan kehidupan berbangsa dan bernegara, serta mampu menjadi warga negara yang bertanggung jawab," ujarnya.
Menurutnya, penerapan sistem pemilihan langsung dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil menjadi sarana edukasi untuk membentuk karakter pemilih yang cerdas, kritis, dan berintegritas.
"Melalui pengalaman ini, para santri belajar bahwa setiap suara memiliki nilai yang sama. Mereka juga belajar menghormati perbedaan pilihan, menerima hasil pemilihan dengan lapang dada, dan menjaga persatuan setelah proses demokrasi selesai. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari pengamalan hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air sebagai bagian dari keimanan," kata KH. M. Ali Masrukhin.
Kang Azmi salah seorang santri peserta pemilihan mengaku antusias mengikuti proses tersebut. Menurutnya, mekanisme pemilihan langsung memberikan pengalaman nyata mengenai tata cara demokrasi yang selama ini hanya diketahui melalui teori.
"Saya senang karena bisa merasakan langsung bagaimana proses pemilihan yang sebenarnya. Semua berjalan terbuka, transparan, dan setiap santri mempunyai hak yang sama untuk memilih. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami," tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, Pondok Pesantren Nailul Muna tidak hanya membekali santri dengan pendidikan keagamaan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai demokrasi, kepemimpinan, tanggung jawab, serta budaya musyawarah sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (ah)
