Notification

×

Iklan

Iklan

Menyikapi Takdir, Ketika Harapan Tak Sesuai Kenyataan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:54 WIB Last Updated 2026-07-11T14:54:42Z

Ilustrasi: Unsplash.com. 


Jika ditanya, pernahkan harapan kita tidak sesuai kenyataan? Sudah tentu jawabannya sering. Harapan, manusia tak henti-hentinya berharap. Karena dengan harapan manusia merasa lebih bersemangat untuk meraih impian, tidak mudah putus asa dan merasa lebih senang. 


Namun apa jadinya bila harapan tidak sesuai kenyataan? tentu akan merasa kecewa, sedih, frustasi dan memicu rasa marah. Marah adalah emosi yang wajar dan manusiawi. Seseorang harus bisa mengelola rasa marah tersebut agar tidak meledak-ledak sehingga berpotensi melukai diri sendiri, merusak,  bahkan menyakiti orang lain.


Saat kita kecewa berat karena harapan tak sesuai kenyataan, reaksi awal yang di alami adalah marah. Ini wajar, sebagai  bentuk pelampiasan rasa sakit. Ketika menghadapi musibah seseorang akan merasa sedih dan marah. Yang menjadi masalah, saat amarah tidak dikelola yang terjadi adalah penolakan terhadap kenyataan. 


Kita menolak kenyataan tersebut dan bertanya mengapa hal buruk tersebut menimpa kita. Kalau kata orang-orang, hari sial tidak ada di kalender. Bukan tidak mungkin pula kita menyalahkan takdir, menganggap Tuhan tidak adil. Jika di biarkan terus menerus sangat berpotensi melemahkan keimanan. 


Maka dari itu, mari kita mulai memperbaiki diri, mengelola emosional dan mendekatkan diri dengan Tuhan. Lalu bagaimana memulainya? sedikit tips ini semoga bisa membantu.


Kita mulai dengan memahami konsep takdir? Mungkin kita sudah sering mendengar apa itu takdir, namun apakah kita benar-benar memahami apa itu takdir. Sejatinya takdir adalah sesuatu yang telah ditentukan oleh Tuhan. 


Dalam perspektif Islam, takdir adalah sesuatu yang harus diyakini keberadaanya, sebagaimana yang termaktub dalam rukun Iman. 


Adapun dalam buku Teologi Islam Terapan (M. Amin Syukur, dkk) dijelaskan bahwa takdir adalah ketentuan Allah SWT atas segala sesuatu yang pasti akan terjadi sesuai dengan kehendak-Nya sejak dahulu kala. Menurut Abu Hasan Al Asy’ari takdir merupakan wujud kehendak Allah dalam bentuk dan keadaan yang sesuai dengan ilmu Allah SWT.


Konsep takdir atau nasib dalam hal ini termasuk dalam qadarullah (takdir Allah). Istilah qadha dan qadar mempunyai makna yang berbeda. 


Qadha merupakan hasil akhir dari qadar, di mana semua penyebab telah ditetapkan dan tidak ada lagi kemungkinan perubahan (bersifat mutlak, seperti kelahiran dan kematian).


Sedangkan qadar adalah ukuran yang telah ditetapkan oleh Allah SWT yang masih mungkin berubah karena merupakan tahap awal yang belum mencapai penyelesaian (dapat diubah melalui ikhtiyar dan do’a). 


Kamarudin Hidayat dan Ahmad Sanusi membedakan qadar dalam dua kelompok, pertama qadar mubram yaitu ketentuan Allah kepada manusia, alam semesta dan segala peristiwa yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari. Kedua qadar muallaq yaitu ketentuan Allah yang masih bisa diubah. 


Sebelum masuk ke cara menyikapi takdir, saya ingin menyampaikan sedikit pengalaman hidup ketika menghadapi harapan yang tidak sesuai kenyataan. 


Jadi dulu ketika kecil saya berharap menjadi anak yang cerdas secara akademik dan menjadi juara kelas, namun Allah berkehendak lain. Kemampuan akademik saya bisa di bilang biasa saja, ada yang lebih cerdas dibanding saya. Tentu saya merasa sedih, kecewa dan marah, takdir seakan tidak berpihak pada saya. 


Namun dari hal itulah, saya berusaha belajar menerima ketetapan Allah pada saya tanpa berhenti berusaha, hingga menginjak dewasa saya sadar bahwa Allah telah merencanakan hal yang jauh lebih baik untuk saya, ternyata Allah ingin saya cerdas secara emosional, meskipun belum sepenuhnya tapi saya akan terus berusaha dan belajar. 


Dari sini kita bisa mengetahui bahwa Allah lebih tahu dibanding manusia itu sendiri, sehingga dapat disimpulkan bahwa kunci menerima takdir dengan baik adalah dengan berlapang dada, berbaik sangka kepada Allah dan fokus pada hal yang bisa diubah. Pahami konsep takdir tersebut, belajar sabar dan perbanyak ibadah. (Khayatun Nufus)

close close