![]() |
| Dr. Muh Khamdan terima piagam penghargaan dari pengurus PAC IPNU IPPNU Nalumsari. |
Jepara, soearamoeria.com - Suasana hall outdoor SMAN 1 Nalumsari, Jepara, pada Sabtu, 4 Juli 2026, tidak sepenuhnya sunyi. Di sela pemaparan materi, terdengar sesekali tawa peserta ketika narasumber menyampaikan ilustrasi mengenai pentingnya membangun jejaring. Beberapa peserta mencatat poin-poin penting, sementara yang lain tampak aktif berdiskusi. Sebanyak 40 kader pilihan mengikuti Latihan Kader Muda (Lakmud) Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Nalumsari yang berlangsung selama tiga hari, Jumat (3/7/2026) hingga Minggu (5/7/2026).
Peserta Lakmud bukanlah kader yang datang tanpa proses. Mereka merupakan delegasi terbaik dari pimpinan ranting dan komisariat sekolah se-Kecamatan Nalumsari. Sebelum dinyatakan lolos mengikuti kaderisasi tingkat menengah itu, setiap peserta melewati tiga tahapan penyaringan yang menguji loyalitas, disiplin, kemampuan dasar organisasi, serta komitmen untuk mengembangkan IPNU dan IPPNU di wilayah masing-masing.
Memasuki sesi jelang siang, Dr. Muh Khamdan membuka materinya dengan pertanyaan yang sederhana. "Mengapa ada organisasi yang terus berkembang, sementara organisasi lain berjalan di tempat?" Ruangan mendadak hening. Beberapa peserta mencoba menjawab tentang kepemimpinan, pendanaan, hingga jumlah anggota. Muh Khamdan kemudian mengangguk sebelum menyampaikan bahwa organisasi yang bertahan dalam jangka panjang hampir selalu memiliki satu kesamaan, yakni kemampuan membangun jejaring dan kolaborasi.
Menurut Muh Khamdan, kompetensi individu memang menjadi syarat utama untuk berkembang. Namun, organisasi tidak akan melesat apabila anggotanya gagal membangun hubungan dengan lingkungan di sekitarnya. "Kesuksesan individu ditentukan oleh kompetensi, tetapi kesuksesan organisasi ditentukan oleh kualitas networking yang dibangun. Organisasi yang besar selalu ditopang oleh jejaring yang luas, kepercayaan yang kuat, dan kolaborasi yang berkelanjutan," katanya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa networking bukan sekadar memperbanyak kenalan atau bertukar nomor telepon. Networking, kata dia, merupakan rangkaian upaya untuk memelihara, merawat, dan mengembangkan hubungan kemitraan sehingga seluruh pihak memperoleh manfaat. Hubungan yang dibangun secara konsisten akan melahirkan kepercayaan, sementara kepercayaan akan membuka pintu bagi kerja sama yang lebih luas.
Pembahasan kemudian bergeser pada lobbying. Muh Khamdan menilai istilah tersebut sering disalahartikan sebagai upaya memengaruhi pihak lain demi kepentingan pribadi. Padahal, dalam organisasi, lobbying merupakan seni membangun komunikasi yang persuasif, etis, dan berbasis kepentingan bersama. "Networking membuka pintu peluang, sedangkan lobbying yang beretika mengubah peluang itu menjadi keputusan dan kolaborasi yang membawa manfaat," ujarnya.
Diskusi berlangsung hidup. Sejumlah peserta mengangkat tangan untuk menceritakan pengalaman mereka mengembangkan organisasi di tingkat desa maupun sekolah. Ada yang mengaku kesulitan mengajak pelajar bergabung, ada pula yang mengalami kendala menjalin komunikasi dengan pemerintah desa dan lembaga pendidikan. Muh Khamdan mengajak peserta melihat tantangan tersebut sebagai ruang belajar untuk membangun kepercayaan dan memperluas kolaborasi.
![]() |
| 40 peserta Lakmud PAC IPNU IPPNU Nalumsari berfoto bersama narasumber. |
Ketua PAC IPNU Nalumsari, Shalahuddin Yusri, mengatakan Lakmud merupakan bagian dari investasi organisasi dalam menyiapkan kepemimpinan masa depan. Menurut dia, kaderisasi tidak boleh berhenti pada penguasaan materi ke-NU-an dan administrasi organisasi, tetapi harus melahirkan kader yang mampu menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat. "Kami berharap para peserta pulang bukan hanya membawa sertifikat, tetapi membawa semangat baru untuk membesarkan IPNU-IPPNU melalui kolaborasi dan pengabdian di ranting maupun komisariat masing-masing," ujarnya.
Ketua Panitia Lakmud, Lukman Hadi Cahyo, menjelaskan bahwa proses seleksi peserta dilakukan secara bertahap agar kualitas kader yang mengikuti pelatihan benar-benar terjaga. Dari setiap ranting dan komisariat sekolah dikirim kader terbaik yang telah menunjukkan rekam jejak aktif di organisasi. "Lakmud menjadi ruang pembentukan karakter kepemimpinan. Kami ingin peserta tidak hanya memahami teori organisasi, tetapi juga memiliki keberanian mengambil inisiatif, membangun komunikasi, dan bekerja sama dengan berbagai pihak," katanya.
Sementara itu, anggota Majelis Alumni IPNU, Zaenal Anwari, menilai kaderisasi merupakan mata rantai yang menentukan keberlangsungan organisasi. Menurut dia, alumni memiliki tanggung jawab moral untuk mendampingi proses pembinaan kader agar IPNU dan IPPNU tetap menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda Nahdlatul Ulama. "Organisasi akan kuat apabila kader mudanya dibimbing oleh pengalaman para senior, namun tetap diberi ruang untuk berinovasi sesuai tantangan zamannya," ujar Zaenal.
Selama pelaksanaan Lakmud, para peserta tidak hanya menerima materi di dalam kelas. Mereka juga mengikuti diskusi kelompok, simulasi kepemimpinan, presentasi, hingga latihan menyusun strategi organisasi. Seluruh rangkaian dirancang untuk melatih kemampuan berpikir kritis, bekerja dalam tim, menyelesaikan persoalan, sekaligus memperkuat jejaring antarkader dari berbagai desa di Kecamatan Nalumsari.
Menjelang akhir sesi materi, diskusi ditutup dengan refleksi bersama. Muh Khamdan mengingatkan bahwa organisasi yang mampu bertahan bukanlah organisasi yang memiliki sumber daya paling besar, melainkan organisasi yang mampu menjaga kepercayaan publik. Kepercayaan, katanya, lahir dari integritas, komunikasi yang baik, dan kesediaan untuk terus memberi manfaat kepada sesama. "Mulailah dari lingkaran terdekat. Bangun hubungan dengan teman, guru, tokoh masyarakat, pemerintah desa, hingga organisasi lain. Dari jejaring kecil itulah lahir perubahan yang besar," tuturnya.
Bagi PAC IPNU-IPPNU Nalumsari, Lakmud tahun ini bukan sekadar agenda kaderisasi rutin. Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, pelatihan itu menjadi ikhtiar menyiapkan generasi pemimpin muda yang memiliki fondasi ideologi, kemampuan memimpin, kecakapan membangun networking dan lobbying, serta keberanian menjalin kolaborasi. Dari ruang kelas di SMAN 1 Nalumsari itulah, harapan tentang masa depan organisasi pelajar Nahdlatul Ulama kembali dipupuk. Bermula dari empat puluh kader muda yang dipersiapkan untuk menjadi penggerak perubahan di lingkungan mereka masing-masing. (ah)

