![]() |
| Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan 77 BPSDM Hukum, Kementerian Hukum. |
Semarang, soearamoeria.com - Tidak semua perubahan lahir dari ruang rapat yang besar. Sebagian justru berawal dari ruang virtual yang dipenuhi dialog, refleksi, dan keberanian mempertanyakan cara lama.
Selasa-Rabu, 7–8 Juli 2026, Widyaiswara Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang, Dr. Muh Khamdan, mendampingi peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan 77 BPSDM Hukum, Kementerian Hukum, dalam proses coaching aksi perubahan yang berfokus pada pencarian akar persoalan sekaligus penyusunan inovasi yang berdampak.
Pendampingan yang berlangsung dari ruang widyaiswara Bapelkum Semarang itu menjadi bagian penting dari perjalanan peserta menuju kepemimpinan yang lebih adaptif. Coaching tidak diarahkan untuk mencari ide yang paling rumit, melainkan menemukan solusi yang paling relevan terhadap kebutuhan organisasi dan masyarakat.
Dalam setiap sesi, peserta diajak membedah berbagai persoalan secara sistematis sebelum merancang solusi. Muh Khamdan mengingatkan bahwa inovasi yang baik selalu berawal dari kemampuan memahami masalah secara utuh. Tanpa diagnosis yang tepat, perubahan berisiko hanya menjadi program yang menarik di atas kertas, tetapi minim dampak di lapangan.
Sebagai panduan menyusun aksi perubahan, terdapat lima aspek utama yang menjadi perhatian. Pertama, ketepatan analisis masalah agar akar persoalan benar-benar teridentifikasi. Kedua, penyusunan terobosan inovasi yang menjawab kebutuhan organisasi. Ketiga, penyusunan tahapan implementasi yang realistis dan terukur. Keempat, pendayagunaan sumber daya secara efektif. Kelima, pengembangan kompetensi diri sekaligus membangun kapasitas tim sebagai penggerak perubahan.
Kelima komponen tersebut diposisikan sebagai satu kesatuan. Sebuah inovasi tidak cukup hanya kreatif, tetapi juga harus dapat dilaksanakan, memperoleh dukungan organisasi, dan menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan oleh para pemangku kepentingan.
Untuk memperkaya perspektif peserta, rangkaian coaching dilengkapi dengan pemutaran video inovasi dan showcase berbagai aksi perubahan.
Materi tersebut memberikan gambaran mengenai praktik-praktik inovatif yang telah berhasil diterapkan dalam berbagai unit kerja serta menjadi referensi dalam menyusun gagasan perubahan yang lebih matang.
Forum ini mempertemukan peserta dari berbagai satuan kerja, mulai dari BPSDM Hukum, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan, Kantor Wilayah Kepulauan Riau, Kantor Wilayah Lampung, Kantor Wilayah Jawa Barat, hingga Kantor Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Keragaman latar belakang tersebut menghadirkan ruang belajar yang kaya karena setiap peserta membawa tantangan dan pengalaman yang berbeda.
Berbagai isu strategis kemudian mengemuka. Pada bidang kekayaan intelektual, peserta mengangkat tantangan pelayanan di sejumlah daerah, seperti Kepulauan Riau, Lampung, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Beragam gagasan inovasi muncul untuk memperluas akses layanan, meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus memperkuat perlindungan terhadap hasil karya masyarakat.
Di bidang pelayanan hukum umum, diskusi berkembang pada isu-isu yang dihadapi satuan kerja di Jawa Barat maupun layanan yang berkaitan dengan atase hukum di Kuala Lumpur.
Selain itu, perhatian juga diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia, termasuk peningkatan kapasitas dosen politeknik agar mampu menjawab kebutuhan organisasi yang terus berkembang.
Muh Khamdan yang juga bertindak sebagai coach menegaskan bahwa ukuran keberhasilan inovasi bukan terletak pada seberapa baru gagasan tersebut, melainkan pada kemampuannya menjawab persoalan yang nyata. Setiap aksi perubahan harus memiliki hubungan yang jelas antara masalah, solusi, proses implementasi, hingga manfaat yang dihasilkan.
Menurutnya, manfaat inovasi juga harus dapat diukur. Organisasi memerlukan indikator yang menunjukkan bahwa perubahan benar-benar meningkatkan kualitas layanan, mempercepat proses kerja, memperkuat kolaborasi, atau memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Dengan demikian, inovasi tidak berhenti sebagai dokumen proyek perubahan, melainkan menjadi budaya kerja yang terus berkembang.
Coaching aksi perubahan PKA Angkatan 77 akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda pembelajaran. Forum ini membangun keyakinan bahwa pemimpin masa depan adalah mereka yang mampu membaca persoalan secara jernih, menggerakkan kolaborasi, serta menghadirkan inovasi yang terukur dan berkelanjutan.
Dari ruang virtual Bapelkum Semarang, lahir semangat bahwa perubahan terbaik selalu dimulai dari keberanian memahami masalah, kemudian mengubahnya menjadi solusi yang memberi dampak nyata bagi organisasi, negara, dan masyarakat. (ah)
