Notification

×

Iklan

Iklan

Sibaja Balai Bahasa Jateng Jadi 10 Finalis Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Kemendikdasmen

Kamis, 21 Mei 2026 | 14:55 WIB Last Updated 2026-05-21T07:55:34Z

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati S.Pd., M.Hum saat menyampaikan Bimtek Guru Utama. 


Semarang, soearamoeria.com - Senarai Istilah Budaya Jawa (Sibaja), produk kamus digital Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, terpilih sebagai sepuluh finalis dalam Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kiprah) tahun 2026 untuk kategori Inovasi Digital. 


Kompetisi yang diinisiasi Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia (OSDM) Kemendikdasmen tersebut diumumkan pada 13 Mei 2026. Tahap selanjutnya adalah seleksi wawancara yang akan dilaksanakan pada Rabu, 20 Mei 2026.


Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati S.Pd., M.Hum., menyampaikan ungkapan syukur atas capaian tersebut. Pihaknya terus mendorong peningkatan kualitas dan kinerja pelayanan publik yang prima serta mendukung percepatan reformasi birokrasi. 


“Inovasi yang diajukan dalam kompetisi ini 60 inovasi dan kami masuk sepuluh besar kategori Inovasi Digital. Kompetisi dengan tajuk Kiprah ini memang dimaksudkan untuk meningkatkan budaya inovasi dan kualitas pelayanan publik. Untuk itu, kami mohon dukungan masyarakat, khususnya masyarakat Jawa Tengah, untuk mendukung inovasi ini dengan mengeklik tautan Sibaja pada laman https://senaraiistilahjawa.kemendikdasmen.go.id,” ungkap Dwi Laily Sukmawati dalam rilisnya pada Senin, 18 Mei 2026.


Laily menuturkan bahwa istilah-istilah budaya Jawa lambat laun menghilang dari percakapan sehari-hari dengan indeks vitalitas bahasa Jawa sebesar 0,74. Artinya, bahasa Jawa termasuk bahasa daerah yang berpotensi mengalami kemunduran (perlu dirawat).


“Untuk menjawab tantangan tersebut, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah mengembangkan Sibaja (Senarai Istilah Budaya Jawa), inovasi kamus digital yang memuat kosakata budaya Jawa. Selama ini baru ada kamus umum dan kamus istilah Jawa, bahasa Jawa bidang tertentu, yang disusun secara terpisah-pisah,” jelasnya.


Laily menambahkan bahwa Sibaja merupakan sebuah kamus budaya yang terintegrasi. Kamus digital ini memuat istilah bidang bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencarian, sistem religi, dan kesenian.


”Sibaja ini merupakan kamus digital bahasa Jawa pertama yang memiliki fitur urun daya, LKS, gim interaktif, difabel, dan penyuaraan lema. Melalui fitur-fitur yang ada, Sibaja diharapkan dapat digunakan sebagai pendamping pembelajaran bahasa Jawa di sekolah jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK/MA. Penggunaan Sibaja oleh siswa juga diharapkan mampu meningkatkan vitalitas bahasa Jawa sehingga bahasa Jawa tetap lestari,” terangnya.


Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pengembangan Bahasa dan Sastra, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Ema Rahardian, M.Hum., mengatakan bahwa inovasi Sibaja memiliki potensi replikasi tinggi secara nasional. Potensi ini dapat dijadikan sebagai strategi pelestarian bahasa daerah, terutama daerah yang memiliki tingkat kepunahan bahasa tinggi. 


“Sibaja mudah diadopsi oleh instansi lain yang bergerak dalam pelestarian bahasa dan budaya daerah karena memiliki POS yang baku dan sistematis. Dari sisi gagasan, Sibaja digunakan untuk pendokumentasian bahasa daerah sehingga kepunahan bahasa daerah dihindari. Dari sisi teknis, Sibaja memiliki berbagai fitur,” ujar Ema Rahardian dalam Sosialisasi Sibaja kepada peserta Bimtek Guru Utama Pelindungan Bahasa Daerah di Gedung Balairung pada Senin, 18 Mei 2026.


Ema menerangkan bahwa jumlah pengguna Sibaja mengalami peningkatan per tahunnya dengan persebaran pengguna hingga mancanegara (Malaysia, Singapura, Amerika, Norwegia, Jepang, Taiwan, Kamboja, Belanda, dan Hongkong).


“Tautan Sibaja dapat disematkan di laman sekolah, instansi, mitra, dan pemangku kepentingan di Jawa Tengah. Kami sangat senang jika banyak instansi menyematkan Sibaja ini. Dengan begitu, kita bersama-sama turut serta dalam upaya pelestarian bahasa dan budaya Jawa,” ungkapnya. (as)

close close