Notification

×

Iklan

Iklan

Dinarpusda Grobogan Gelar Bimtek Kedua, Fokus Teknis Menulis, dan Penerbitan Buku Budaya Lokal

Rabu, 20 Mei 2026 | 09:50 WIB Last Updated 2026-05-20T02:50:56Z

Muhlisin Badiatul Asti, penulis Grobogan saat menyampaikan materi kepada peserta bimtek. 



Grobogan, soearamoeria.com - Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Kabupaten Grobogan menggelar bimbingan teknis (bimtek) kepenulisan berbasis konten budaya lokal di aula lantai 2 pada Selasa, 19 Mei 2026.


Acara ini merupakan pertemuan kedua, setelah pada pertemuan sebelumnya peserta diberikan gambaran umum tentang cara menulis konten budaya. Pada kesempatan kali ini, bimtek lebih berfokus pada teknis penulisan dan proses penerbitan buku.


Sebanyak 70 peserta yang hadir tampak antusias mengikuti jalannya acara. Seluruh peserta diketahui telah mengirimkan karya tulis mereka yang berfokus pada tiga tema utama, yaitu asal-usul daerah, tokoh lokal, dan tradisi di Kabupaten Grobogan.


Kepala Bidang Perpustakaan Dinarpusda Grobogan, Kurniawan, S.H., M.M., menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh peserta atas partisipasi dan kontribusi mereka. Ia berharap kemampuan para peserta dapat terus berkembang.


"Kami berharap kreativitas ini terus dikembangkan agar kualitas tulisan mengenai Grobogan semakin meningkat dan berbobot," ujar Kurniawan.


Lia Herliana, seorang ibu rumah tangga sekaligus penulis produktif yang telah menelurkan lebih dari 90 judul buku anak memberikan materi mengenai teknik menulis artikel serta membagikan kisah perjalanan panjangnya di dunia literasi.


Sementara itu, Muhlisin Badiatul Asti, seorang penulis, penyunting, sekaligus penerbit buku asal Bugel, Godong, Grobogan memiliki rekam jejak panjang di dunia jurnalistik dan literasi, dengan karya-karya yang telah dimuat di berbagai media massa, baik cetak maupun daring (online), skala lokal hingga nasional sejak tahun 1990-an.


Dalam paparannya, Muhlisin menceritakan tantangan menulis pada masa lalu yang belum didukung oleh kecanggihan teknologi seperti sekarang. Kala itu, untuk memperkaya kosakata, seorang penulis harus membuka lembaran-lembaran kamus fisik secara manual.


Ia juga menambahkan bahwa pada awal kariernya, ia tidak terlalu terpaku pada teori formal dan lebih memilih mengikuti alur tulisan mengalir begitu saja.


Kendati demikian, karya-karyanya tetap mampu memenuhi kaidah bahasa yang baik, yang saat ini dikenal sebagai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). (Maftuhan)

close close