Penyair Kudus Luncurkan Antologi Puisi “Menjadi Dongeng” - Soeara Moeria

Breaking

Wednesday, 1 May 2019

Penyair Kudus Luncurkan Antologi Puisi “Menjadi Dongeng”

Bincang-bincang Puisi "Menjadi Dongeng" di UMK. (Foto: Nur Ahsin)
Kudus, soearamoeria.com - Mukti Sutarman Espe yang merupakan penyair ternama dari Kudus meluncurkan buku antologi puisi terbarunya berjudul “Menjadi Dongeng”. Acara peluncuran buku tersebut dikemas dalam acara bincang-bincang puisi, pada Selasa (30/4/2019) bertempat di ruang Seminar Rektorat Lantai IV Universitas Muria Kudus (UMK).

Acara itu diadakan Komunitas Sastra Keluarga Penulis Kudus (KPK) bekerja sama dengan Kelompok Kajian Sastra (Kasa) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK).                                                                                                                                          
Selain penulis buku kegiatan juga Nadjib Kartapati, sastrawan dari Jakarta kelahiran Pati. Nadjib kesempatan itu membedah antologi puisi secara mendalam dan menarik. Sedangkan Mohammad Kanzunnudin yang ditunjuk moderator tampak gayeng dalam memimpin diskusi.

Acara yang dihadiri sekitar 150 mahasiswa dibuka pembacaan puisi yang disampaikan Lutfi Hibbatul Aziz dan Afif Khoirudin, mahasiswa PBSI UMK semester dua. Selain itu juga ada pembacaan puisi Kinanti Kinasih Gusti dari Omah Dongeng Marwah dan pembacaan dari Ketua KPK Widya Hastuti Ningrum.

Dalam paparannya Nadjib menjelaskan bahwa puisi sah disebut puisi terletak pada indah atau tidaknya puisi itu. Bukan pada isi yang terkandung di dalamnya. Jika membaca baris demi baris kata dan menemukan keindahannya, maka itu sah disebut puisi.

“Menurut hemat saya, semua puisi yang ada pada buku ini, sah disebut puisi. Sebab Mukti mengutamakan keindahan. Bahkan untuk memberikan keindahan itu, dia bersusah payah menjaga ritme dan nada, sehingga tak jarang dalam puisinya ada efek bunyi yang apik atau indah,” katanya.

Ia mencontohkan puisi Mukti Sutarman yang berjudul “Rindu Ibu”. Diksinya dipilih dengan sangat bagus dan menarik. Efek bunyi yang ditimbulkan pun sangat indah. Berikut kutipan puisinya. Merindu Ibu/ tak berhabis waktu/ satu lalu/ hadir lagi beribu/ seperti air kali merindu/ deras mengalir/ dan ibu setia menunggu/ sebagai hilir/ apapun yang kubawa/ibu menerima.

Setiap pembaca tentu memiliki orientasi kepentingan yang berbeda. Kalau kita meletakkan masalah humanism pada skala prioritas yang tinggi, sangat mungkin setuju untuk menyebut puisi-puisi Mukti Sutarman  punya makna yang cukup penting. “Sebab sebagian besar dari puisinya yang terdapat dalam buku antologi Menjadi Dongeng berbicara soal kemanusiaan atau humanism,” ungkap Nadjib.

Nadjib menambahkan, tapi, bagi yang menganggap masalah politik adalah masalah penting, maka dalam antologi puisi Mukti Sutarman ini hampir tidak ada yang berbicara masalah politik. 

“Penyair harus akrab dengan kamus. Dampak dari menulis puisi itu luar biasa, karena memiliki manfaat yang banyak,” tandas Kanzunnudin.

“Jangan takut menulis puisi, ketika orang suka menulis puisi, maka percayalah pada saya, ketika kelak jadi pejabat ia tidak korup. Kalau ia jadi manusia, ia jadi manusia yang di atas rata-rata. ia akan jadi manusia yang lembut dan penuh kasih sayang. Ini sungguh, karena biasanya penyair itu berhati lembut. Mari angkat pena, buka buku dan mulailah menulis,” pesan Mukti Sutarman kepada peserta yang hadir.

Kepala Prodi PBSI FKIP UMK, Mila Roysa mengungkapkan melalui kegiatan bincang puisi pihaknya berharap para peserta khususnya mahasiswa dapat lebih produktif berkarya menulis puisi, seperti Mukti Sutarman. Selain mahasiswa PBSI UMK, acara tersebut juga dihadiri oleh anggota Kelurga Penulis Kudus, perwakilan Omah Dongeng Marwah, pelajar, dan masyarakat umum. (na)

No comments:

Post a comment