Dakwah Islam Lewat Jalur Seni Sastra - Soeara Moeria

Breaking

Rabu, 21 Januari 2015

Dakwah Islam Lewat Jalur Seni Sastra


Jepara, soearamoeria.com-Teater Tuman Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara adalah salah satu diantara komunitas sastra di Jepara yang masih eksis hingga saat ini.

Komunitas ini didirikan September tahun 1996 silam oleh H Abdul Kohar dkk. Mulanya, kelompok ini diilhami dari keinginan Kohar, waktu itu ia menjabat menjadi ketua Senat Fakultas Dakwah Inisnu Jepara membentuk komunitas seni budaya.

Keinginan tersebut lalu diejawantahkan dengan berdirinya Tuman. Yang berarti tukul manfaat. Nafasnya tentu sejalan dengan cita-cita almarhum KH Sahal Mahfudz, Rektor Inisnu Jepara, saat itu.

Kampus harus mempunyai wadah seni. Wadah seni ini tujuannya untuk berdakwah. Karena berdakwah lewat jalur seni lebih diterima semua elemen masyarakat ketimbang lewat “pengajian”.

Apalagi waktu itu, sedang hitsnya tembang Tombo Ati yang merupakan lagu nan religius. Disamping itu, berkesenian tidak mengenal strata. Misalnya, tradisi Al-Barjanzi yang rutin dijalankan di kampung-kampung, semua kalangan bisa bergabung. Toh, itu yang dibaca merupakan bagian dari sastra. Sastra Arab.

Bersama kawannya Malik Sujarwadi, Agus Gondrong dan kawan yang lain 18 tahun silam mulai mengagendakan rutinitas kegiatan dengan Temu Jagong. Tujuannya untuk membahas program baik jangka pendek maupun panjang.

Komunitas ini merupakan bagian dari bidang ekonomi Senat Fakultas Dakwah waktu itu. Sehingga hasil dari kegiatan berekonomi ini bisa untuk nguri-nguri komunitas.

Ditambah dengan support Abdul Kholiq MT Dekan Dakwah waktu itu, gajinya sering ditasarufkan untuk keberlangsungan Tuman. Karena ia yang bersangkutan kebetulan demen dengan kegiatan seni dan budaya. 

Bermula dari keinginan itu alhasil komunitas berjalan dari tahun ke tahun. Tujuan awalnya untuk berdakwah lewat jalur sastra. Sehingga setiap pertunjukan yang dipertontonkan tidak lepas dari napas dakwah. Dulu, bentuk apresiasi sastra yang dikembangkan pentas dari kampung satu ke kampung lain.

Sehingga yang dipentaskan lebih pada sastra realis karena obyek penonton ialah khalayak awam. Namun di akhir 90an, komunitas ini sempat mengalami masa vakum sebab sempat mengalami kembang kempis personil. Kemudian, awal 2000an eksis kembali.

Rutinitas
Tuman secara organisasi mempunyai program jangka pendek dan jangka panjang. Program jangka pendek misalnya dengan kegiatan rutinan setiap pekan. Isinya bisa latihan, diskusi, apresiasi puisi maupun musik.

Untuk agenda jangka panjang yakni pentas produksi, mengadakan Masa Penerimaan Warga Baru (Mapenwaru) dan pagelaran seni budaya dalam rangka Hari Lahir (harlah) Tuman.

Disamping itu mengadakan even besar diantaranya Java On Stage (2009), Jepara Display (2010) dan Jepara Art Carnaval (2011). Juga membuat beberapa film documenter untuk komunitas.  

Tuman berjejaring dengan komunitas seni di luar daerah. Misalnya tahun 2007, bersama Sanggar Seni Eling PMII Cabang Jepara pentas “Perang Obor” di Salatiga.

Di Muntilan, pentas “Sasmito” di padepokan Cipto Budoyo (2010). Tahun 2012 pentas teater, musik dan puisi di sanggar Teater Metafisis IAIN Walisongo Semarang.  Tahun ini pentas musik teater di tiga kota Gereja GITJ (Jepara), STAIN Kudus dan Staimafa (Pati).

Nur Sahid, salah satu mentor Tuman menguraikan sesuai dengan namanya warga Tuman harus manfaat dimana berada. Juga, anggota kudu selalu haus akan ilmu, sehingga mau mengunduh ilmu dimana-mana.

“Semangat yang harus diemban, anggota Tuman harus sejalan dengan NU, Islam dan gotong royong,” jelas aktivis teater SK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Menurut, Sarjana Sastra UIN Jogja ini menambahkan di Jepara perlu banyak lagi “kompetitor” sastra. Sehingga bisa saling ngangsu kaweruh. Bogang, sapaan akrabnya, berkomentar tentang masa kepengurusan Lurah yang hanya satu tahun.

Satu tahun baginya tidaklah cukup untuk berproses. Mulai workshop, pentas maupun produksi. Meski demikian, hal ini tidak lantas dipermasalahkan. Karenanya, sejak mengenal Tuman tahun 2002 lalu hingga kini, disela-sela kesibukannya beraktivitas ia berkenan mendampingi warga Tuman dalam berproses.

Sosoknya bagi warga Tuman tentu layak diacungi jempol. Usai hijrah sejenak di ibu kota 2008-2009 sebagai kru bidang artistik Bioskop Indonesia dan SinemaArt ia rela pulang ke kampung halaman, di Jepara.

Saat ini, dirinya disela-sela mengabdikan sebongkah pengalamannya untuk peserta didik di SMK Az Zahra Mlonggo Jepara sebagai pendidik mata pelajaran Produktif jurusan Broadcasting sisa waktunya untuk bareng berproses dengan Tuman.

Hal ini dibenarkan, M. Hasan, lurah Tuman (2008). Ia menyebut Nur Sahid sebagai mentor komunitasnya. Hasan mengenal teater sejak masih duduk di bangku MA. Dari teater ia banyak belajar mengenai manajemen ilmu, karakter dan lain-lain.

“Dari Tuman saya bisa “berperan” dalam tokoh apa pun. Bicara bisa tambah luwes dan bisa menyesuaikan diri dengan siapa saja,” urai pelopor Rumah Belajar Ilalang (RBI) Kecapi Tahunan Jepara.

Senada dengan Bogang, Hasan menambahkan Tuman saat ini perlu belajar dari masa lalunya. “Jadikan pengalaman masa lalu untuk bahan renungan sehingga kedepan Tuman semakin eksis dan tetap diterima khalayak luas,” harapnya.

Teater Tuman juga patut diapresiasi karena sebagai pelopor berdirinya teater pelajar di Jepara dan Pati. Diantaranya Teater Mapan (SMK Hasan Kafrawi Jepara), Teater Laskar (MA NU Tengguli Jepara) serta Teater Suryopati (Staimafa Pati). Beberapa komunitas teater yang dipelopori Tuman hingga kini masih eksis dan antara Tuman dengan komunitas-komunitas besutannya sering menjalin kegiatan bareng.   

Lurah teater Tuman, Ahmad Robit Himami mengungkapkan komunitasnya berada dalam naungan kampus Unisnu. Dari naungan itu tentu terkendala banyak hal misalnya minimnya mengakses anggota karena Tuman bernaung dibawah payung Fakultas Dakwah dan Komunikasi dengan mahasiswa minim.

Disamping itu juga terganjal minimnya waktu kepengurusan. Setiap lurah hanya dikasih waktu setahun. Dan waktu itu tidaklah cukup untuk berproses.

Suka dan dukanya tambah Robit juga tentu ada. Yang namanya kesenian jika sudah menjadi hobi akan menjadi kesenangan tersendiri. Dukanya jika sesama warga tidak kompak dan menyebabkan kegiatan menjadi terhambat.

Tuman mempunyai cita-cita besar yakni mempunyai harapan, dari komunitas ini muncul HB Jassin – HB Jassin dan Gus Mus – Gus Mus masa depan. Hal itu sebagaimana digelorakan pendiri H Abdul Kohar.

Dari Tuman harap H Kohar muncul aktris seni peran yang mempunyai talenta yang memadai dan karya-karya sastra yang fenomenal.

Agar cita-cita itu terwujud pemerintah terkait mesti memfasilitasi komunitas misalnya dengan support pelatihan dan workshop maupun sarana untuk pentas. Pemerintah perlu menyuport dana rutin untuk keberlangsungan komunitas. (Syaiful Mustaqim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar