![]() |
| Ketua Dewan Pembina YAPI Jepara, mengukuhkan kepengurusan periode 2026–2031 yang dipimpin H. Agus Tri Harjono. |
Jepara, soearamoeria.com - Hampir setengah abad lalu, masyarakat Jepara menanam sebuah benih, pendidikan. Benih itu tumbuh dari dukungan masyarakat pada 1978 dan kemudian berkembang menjadi Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) Jepara. Pada Sabtu, 5 September 2026, benih yang telah tumbuh menjadi banyak lembaga pendidikan itu kembali menerima estafet amanah.
KH Noor Rohman Fauzan atau Mbah Nor, selaku Ketua Dewan Pembina YAPI Jepara, mengukuhkan kepengurusan periode 2026–2031 yang dipimpin H. Agus Tri Harjono. Di hadapan keluarga besar yayasan, pesan Mbah Nor terdengar sederhana, tetapi sekaligus menjadi pekerjaan rumah lima tahun ke depan. Seluruh pengurus dan keluarga besar YAPI harus terus berkhidmat untuk kemajuan pendidikan.
Khidmat, dalam konteks itu, bukan sekadar kata yang diucapkan dalam seremoni. Ia adalah ukuran moral bagi sebuah yayasan yang lahir dari gotong royong masyarakat. Mereka yang menerima amanah tidak hanya mendapatkan posisi dalam struktur organisasi, tetapi juga menerima warisan perjuangan para pendiri, kepercayaan orang tua, masa depan peserta didik, dan harapan masyarakat.
Di sinilah pengukuhan pengurus baru menjadi lebih dari sekadar agenda administratif. Ia menjadi momentum untuk bertanya, setelah hampir 50 tahun, sejauh mana YAPI mampu memastikan pendidikan yang diwariskan para pendahulunya tetap hidup dan relevan?
Sejarah YAPI Jepara bermula pada 1978, ketika dukungan masyarakat menjadi salah satu fondasi penting berdirinya yayasan yang memiliki semangat kuat mendukung pengembangan pendidikan LP Ma’arif NU.
Dari semangat kebersamaan itu, YAPI berkembang dan membangun sejumlah amal usaha. Kini, jejaring tersebut mencakup KB Terpadu Muslimat NU, TK Terpadu Tarbiyatul Athfal Muslimat NU yang bekerja sama pengelolaannya dengan PC Muslimat NU, SMP Al-Ma’arif Jepara, SMA Islam Jepara, SMK Islam Jepara, pondok pesantren, hingga panti asuhan. Dari pendidikan anak usia dini sampai pendidikan menengah dan layanan sosial, YAPI telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan masyarakat Jepara.
Tetapi sejarah panjang juga membawa konsekuensi. Lembaga yang telah bertahan puluhan tahun tidak cukup hanya membuktikan bahwa dirinya mampu bertahan. Ia harus membuktikan bahwa dirinya masih dibutuhkan.
Tantangan pendidikan hari ini jauh berbeda dengan masa ketika YAPI didirikan. Peserta didik tumbuh dalam ekosistem digital. Kecerdasan artifisial mengubah cara manusia memperoleh dan memproduksi pengetahuan. Dunia kerja membutuhkan kompetensi yang semakin dinamis. Orang tua menuntut mutu, karakter, keamanan, dan masa depan yang lebih jelas bagi anak-anak mereka. Sekolah yang tidak beradaptasi akan tertinggal, betapapun panjang sejarah yang dimilikinya.
Karena itu, kepengurusan YAPI Jepara periode 2026–2031 menghadapi momentum yang menentukan. Di bawah kepemimpinan H. Agus Tri Harjono, penyegaran struktur harus diterjemahkan menjadi penyegaran cara berpikir. Regenerasi tidak boleh berhenti pada pergantian nama.
Regenerasi harus menghasilkan cara kerja baru. Peningkatan standar pendidikan, penguatan tata kelola, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan karakter peserta didik menjadi agenda yang tidak bisa dipisahkan dari masa depan YAPI.
Pekerjaan besar berikutnya adalah memperluas kerja sama dan kemitraan. YAPI memiliki modal sosial yang tidak sedikit. Jejaring NU, masyarakat, guru, orang tua, alumni, serta lembaga-lembaga pendidikan yang telah berjalan puluhan tahun.
Modal itu perlu diubah menjadi jaringan kolaborasi yang lebih produktif dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan berbagai mitra strategis. Sekolah tidak mungkin berjalan sendirian menghadapi perubahan. Pendidikan masa depan membutuhkan ekosistem, bukan sekadar institusi.
Di balik agenda peningkatan mutu dan kemitraan, ada pekerjaan yang sering kali kurang mendapat sorotan, yaitu penataan aset dan sumber daya. Puluhan tahun perjalanan YAPI tentu meninggalkan berbagai aset yang harus dikelola secara tertib, transparan, produktif, dan berkelanjutan.
Aset bukan sekadar tanah, bangunan, sarana, atau fasilitas pendidikan. Di dalamnya terdapat sejarah pengorbanan masyarakat yang ikut membangun YAPI. Karena itu, setiap aset harus dipandang sebagai amanah yang harus dikembalikan manfaatnya kepada pendidikan dan masyarakat.
Sumber daya manusia juga menjadi titik krusial. Gedung yang megah tidak otomatis menghasilkan pendidikan berkualitas. Teknologi yang canggih tidak otomatis melahirkan peserta didik berkarakter.
Pada akhirnya, kualitas pendidikan akan sangat ditentukan oleh manusia yang berada di dalamnya, yaitu guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah, pengelola yayasan, dan seluruh ekosistem pendukung. YAPI membutuhkan budaya belajar yang membuat para pendidiknya terus berkembang, sekaligus tata kelola yang memberi ruang bagi inovasi dan profesionalisme.
Namun, modernisasi tidak berarti memutus akar. Justru di sinilah tantangan YAPI menjadi unik. Lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dalam tradisi NU harus mampu mempertemukan akar nilai dengan tuntutan zaman.
Pendidikan agama dan karakter harus berjalan bersama penguasaan sains, teknologi, literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kecakapan sosial. Tradisi tidak boleh menjadi alasan untuk menolak perubahan, sementara perubahan juga tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan identitas.
Bagi Mbah Nor, amanat untuk terus berkhidmat menempatkan seluruh keluarga besar YAPI dalam satu garis pengabdian. Tidak ada satu orang yang dapat mengklaim keberhasilan sebuah lembaga pendidikan sebagai miliknya sendiri.
Di belakang setiap sekolah terdapat jejak panjang para pendiri, guru, pengurus, orang tua, alumni, dan masyarakat. Karena itu, kepengurusan baru bukanlah pemilik masa depan YAPI. Mereka adalah penjaga sementara sebuah amanah yang harus diserahkan kembali kepada generasi berikutnya dalam keadaan lebih baik.
Pertanyaan paling penting kemudian bukan berapa banyak program yang akan dibuat selama lima tahun. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apa yang akan berubah dalam kehidupan peserta didik? Apakah mutu sekolah meningkat? Apakah guru semakin kompeten? Apakah lulusan lebih siap menghadapi perguruan tinggi dan dunia kerja? Apakah pesantren semakin kuat? Apakah anak-anak yang berada di bawah layanan panti asuhan memperoleh masa depan yang lebih baik? Dan apakah masyarakat masih menemukan YAPI sebagai rumah pendidikan yang dapat dipercaya? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan makna kepengurusan YAPI Jepara 2026–2031.
Pengukuhan pada 5 September 2026 boleh saja selesai dalam satu hari. Tetapi amanah yang menyertainya akan berjalan lima tahun, bahkan lebih panjang dari itu. Dari 1978 hingga 2026, YAPI telah menerima estafet dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kini estafet itu berada di tangan H. Agus Tri Harjono bersama seluruh jajaran pengurus dan keluarga besar YAPI. Mbah Nor telah mengingatkan tentang khidmat, tantangannya kini adalah mengubah khidmat menjadi kerja nyata. Sebab pada akhirnya, sejarah sebuah yayasan pendidikan tidak ditentukan oleh lamanya ia berdiri, melainkan oleh seberapa banyak masa depan anak-anak yang berhasil ia ubah. (ah)
