![]() |
| Ali Achmadi. Foto: dokumen pribadi. |
Oleh: Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan, Peminat Masalah Sosial, Tinggal di Pati.
Selamat buat NU. Nahkoda baru sudah terpilih. Semoga NU makin maju, makin keren, dan—yang paling penting—makin banyak manfaatnya bagi umat dan bangsa. Tapi ada satu pesan: Jangan merasa kecil.
NU itu bukan organisasi kemarin sore. Umurnya bahkan lebih tua daripada Prabowo, Jokowi, Gibran, Anies, KDM, Ganjar, Megawati, dan banyak nama besar lain yang hari ini memenuhi layar televisi.
Bahkan NU lahir ketika NKRI belum lahir. Jadi, kalau hari ini ada politisi datang membawa senyum selebar spanduk kampanye, jangan buru-buru merasa terhormat. Bisa jadi bukan NU yang membutuhkan mereka. Mereka yang sedang membutuhkan NU.
Sebab NU bukan selevel dengan GRIB dan kawan-kawan yang baru kemarin sore ramai-ramai mencari tempat duduk di panggung kekuasaan. NU itu legend. Kalau masih kurang keren, sebut saja mythic. Atau istilah paling sederhana: sesuatu yang sudah ada jauh sebelum para politisi menemukan cara membuat baliho dengan wajah sendiri.
Maka agak lucu kalau organisasi sebesar NU malah terlihat sibuk mendekati kekuasaan. Politisi mestinya yang datang. Cium tangan. Nunduk sedikit. Caper sedikit. Kalau perlu berbaris antre ala kang-kang pondok mau sowan kiai.
Bukan karena NU harus menjadi penguasa. Justru sebaliknya. Karena NU tidak perlu menjadi penguasa untuk menjadi besar. Kekuasaan itu cuma titipan. Hari ini seseorang duduk di kursi empuk, besok kursinya ditempati orang lain. Hari ini dielu-elukan, besok bisa saja pakai rompi KPK.
Kursi kekuasaan itu memang ajaib. Bisa membuat orang merasa dirinya abadi. Padahal yang abadi cuma pergantian pejabatnya. Karena itu, NU sebaiknya jangan terlalu dekat dengan mereka yang sedang memegang kekuasaan. Dekatlah dengan Yang Maha Kuasa. Itu jauh lebih aman. Sebab manusia hanya bisa memberikan jabatan, anggaran, proyek, tambang, bahkan fasilitas. Tetapi Tuhan bisa memberikan sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh APBN: keberkahan.
NU tidak membutuhkan kekuasaan untuk membuktikan kebesarannya. NU sudah besar sebelum para penguasa itu lahir. Sudah punya pesantren sebelum mereka punya partai. Sudah punya ulama sebelum mereka punya ketum. Sudah punya jamaah sebelum mereka punya follower. Dan sudah mengurus umat ketika sebagian politisi bahkan belum tahu bagaimana caranya mengurus negeri.
Maka kepada nahkoda baru NU, selamat berlayar. Kapalnya besar. Penumpangnya banyak. Sejarahnya panjang. Jangan sampai kapal sebesar itu malah sibuk mengejar perahu kecil yang kebetulan sedang membawa pejabat.
Biarkan politikus yang merapat ke NU. NU cukup menjaga jarak dari kekuasaan. NU tidak perlu menjadi bagian dari kekuasaan untuk ikut menentukan arah bangsa. Bukan berarti NU harus memusuhi pemerintah. Bukan. Pemerintah tetap harus dihormati, kebijakan yang baik tetap harus didukung. Tetapi NU juga harus tetap punya keberanian untuk berkata “tidak” ketika kekuasaan mulai kebablasan.
Kekuatan NU ada pada kemampuannya berdiri di tengah: dekat dengan rakyat, kritis terhadap penguasa, dan tetap menjaga nilai-nilai yang diwariskan para ulama. Sebab organisasi sebesar NU terlalu naïf jika hanya menjadi stempel kekuasaan. Tetaplah menjadi NU: tempat orang mencari arah ketika para penguasa mulai kehilangan kompas. (*)
