![]() |
| Ali Achmadi. Foto: koleksi pribadi. |
Oleh : Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan dan Peminat Sosial, tinggal di Pati
Tujuh ratus tiga tahun bukan usia yang pendek. Pati sudah melewati banyak zaman, banyak pemimpin, dan tentu saja banyak janji.
Setiap Hari Jadi, spanduk dipasang. Logo baru diluncurkan. Tema dibuat indah. Tahun ini berbunyi "Sumunar Terang Mbangun Kemajengan." Kalimat yang indah. Harapannya juga indah. Tinggal satu pertanyaan sederhana: apakah cahaya itu benar-benar sampai ke rumah-rumah rakyat?
Rakyat Pati sebenarnya tidak meminta yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin hidup lebih sejahtera. Jalan yang baik. Harga hasil panen yang layak. Nelayan yang bisa melaut dengan tenang. Lapangan kerja yang terbuka. Pelayanan publik yang tidak mempersulit. Sesederhana itu.
Mereka juga berharap dipimpin oleh orang yang amanah, bukan yang gemar dipuji dan arogan. Yang mau mendengar, bukan hanya ingin didengar. Jabatan seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati.
Begitu pula wakil rakyat di DPRD. Namanya saja wakil rakyat. Maka yang harus lebih sering didengar adalah suara rakyat, bukan suara kepentingan. Kursi empuk lima tahun tidak boleh membuat telinga menjadi kebal terhadap keluhan masyarakat.
Pati dikenal dengan semboyan "Bumi Mina Tani." Sebuah doa sekaligus identitas. Tanah yang subur. Laut yang kaya. Potensi yang luar biasa. Jangan sampai yang makmur hanya angka-angka di laporan, sementara rakyat masih sibuk menghitung harga beras, pupuk, dan biaya sekolah.
Di usia ke-703 ini, semoga Pati benar-benar semakin terang. Terang pemerintahannya. Terang kebijakannya. Terang masa depan generasi mudanya.
Karena kemajuan daerah bukan diukur dari megahnya seremoni Hari Jadi, melainkan dari senyum warganya yang semakin mudah mencari nafkah, semakin adil mendapatkan pelayanan, dan semakin bangga mengatakan:
"Inilah Pati. Bumi Mina Tani. Tanah yang benar-benar memakmurkan rakyatnya." (*)
