![]() |
| Ritual "satanic" yang viral di sebuah karnaval malam di Pekalongan menuai kecaman luas. |
Ritual "satanic" yang viral di sebuah karnaval malam di Pekalongan menuai kecaman luas. Tapi sebelum buru-buru menghakimi anak-anak muda pelakunya, siapa sebenarnya yang lebih dulu kehilangan arah — generasi muda ini, atau para pemimpin dan pemuka yang seharusnya membimbing mereka?
Beberapa hari terakhir, sebuah desa kecil bernama Simbang Kulon mendadak menjadi sorotan nasional. Bukan karena prestasi, bukan pula karena batiknya yang mendunia, melainkan karena sebuah karnaval malam yang oleh warganet ramai-ramai disebut sebagai "ritual satanic."
Simbol-simbol yang selama ini kita anggap tabu tampil terang-terangan di jalanan kampung — disaksikan anak-anak, direkam ribuan kamera, lalu tersebar ke seluruh Indonesia hanya dalam hitungan jam. Ironinya, ini terjadi di kota yang selama ini dikenal sebagai kota santri: kota seribu pesantren, kota kelahiran banyak ulama dan habaib besar.
Semua orang punya opini. Semua orang ikut menghakimi. Tapi hampir tidak ada yang benar-benar bertanya: kenapa fenomena ini justru lahir di kota ini?
Bukan Sekadar Keisengan Kreatif
Sebagai orang yang juga berkecimpung di dunia teater, saya tahu persis bagaimana sebuah pertunjukan lahir. Ini bukan hal yang spontan. Ada proses brainstorming, latihan, pemilihan properti, kostum, hingga koreografi — semuanya hasil kesepakatan tim dan pemimpin produksinya.
Artinya, para pelaku sadar betul apa yang mereka pertontonkan, dan bahwa itu akan menuai reaksi publik. Ini mengubah cara kita seharusnya memandang peristiwa ini: bukan lagi sekadar "anak muda kurang piknik," melainkan sebuah pertanyaan — apa yang sedang mereka coba sampaikan, yang tidak berani mereka ucapkan secara langsung?
Dugaan saya, karya ini lahir dari sebuah keresahan. Bukan pemujaan setan, melainkan sindiran tentang setan yang sudah lama hidup di antara kita — setan yang duduk di kursi kekuasaan, berbicara atas nama rakyat kecil sambil melahirkan kebijakan yang justru mencekik mereka. Kepala kambing yang dipenggal di jalanan malam itu, bisa jadi bukan simbol pemujaan, melainkan simbol rakyat kecil yang terus-menerus dikorbankan atas nama karnaval besar bernama kekuasaan.
Sayangnya, karena minimnya bimbingan dan literasi simbol, pesan sekuat itu jatuh menjadi tontonan yang disalahpahami — dan para pelakunya sendiri yang akhirnya menanggung stigma.
Krisis Kepercayaan yang Lebih Dalam
Fenomena Simbang Kulon, menurut pengamatan saya, adalah gambaran keresahan generasi yang sudah tidak tahu lagi harus percaya kepada siapa.
Banyak warga menilai, ulama yang mereka kenal kerap kali hanya terlihat teduh dan sederhana di atas mimbar, sementara honor ceramah, protokol pengawalan, dan jamuan yang menyertainya kerap membebani kas warga kampung yang harus patungan demi mengundang satu penceramah selama satu-dua jam.
Di sisi lain, perhatian pemerintah kabupaten terhadap kebudayaan lokal juga dinilai sangat minim. Gedung kesenian di Kabupaten Pekalongan dikabarkan tak memiliki alokasi anggaran pemeliharaan, nyaris tanpa kegiatan seni budaya yang digelar di dalamnya. Sanggar-sanggar seni seperti sintren, brendung, jaranan, kuntulan, dan terbang gendung — yang sarat nilai budi pekerti warisan leluhur Pekalongan — dibiarkan berjalan sendiri tanpa pendampingan maupun ruang dialog dengan para pengambil kebijakan.
Ketika dimintai tanggapan media terkait insiden ini, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan disebut hanya menyampaikan bahwa pihaknya berterima kasih karena masyarakat menggelar acara tersebut secara mandiri, tanpa meminta dukungan anggaran pemerintah. Pernyataan itu, bagi saya, bukan jawaban seorang pemimpin — melainkan jawaban seseorang yang lega karena tidak perlu ikut bertanggung jawab, baik dalam pendanaan maupun pembinaan terhadap event yang digelar oleh warganya sendiri.
Absennya pendampingan itu pula yang diduga berkontribusi pada insiden susulan saat karnaval berlangsung: kericuhan antara oknum panitia dan pedagang, serta kemacetan berjam-jam di jalur utama Buaran yang terkesan luput dari antisipasi aparat keamanan.
Siapa Sebenarnya yang Menyembah Setan?
Izinkan saya bertanya ulang, dengan lebih tajam kali ini.
Jika anak-anak muda itu dituding menyembah setan karena satu malam pertunjukan simbolik, lalu bagaimana dengan mereka yang setiap hari mengejar uang dan jabatan, tapi berbicara atas nama Tuhan dan rakyat? Bagaimana dengan kebijakan yang terasa mencekik, pajak yang terus naik, dan layanan publik yang tetap berbelit meski sudah dibungkus aplikasi digital yang mahal — yang lahir bukan dari niat melayani, melainkan dari kebutuhan menyerap anggaran?
Anak-anak Simbang Kulon hanya butuh waktu satu malam dan satu koreografi untuk membuat kita semua mempertanyakan keimanan. Sementara mereka yang duduk di kursi kekuasaan, dibutuhkan bertahun-tahun untuk perlahan membuat kita ragu — bukan hanya pada mereka, tapi pada makna keadilan itu sendiri.
Mungkin yang tampil di jalanan malam itu bukan setan. Mungkin itu hanya cermin. Dan kita semua yang menontonnya lalu marah, marah karena mengenali wajah kita sendiri di dalamnya.
Penutup
Simbang Kulon bukan aib. Simbang Kulon adalah alarm.
Sebelum kita sibuk menghakimi anak-anak muda itu, mungkin kita perlu duduk sejenak dan bertanya pada diri sendiri — jangan-jangan setan yang kita cari-cari di jalanan itu, sudah lama duduk manis di ruang-ruang yang justru paling kita percayai. (*)
Sumber : FB Edykopi Tanpasusu Magisterabsurd
