![]() |
| Ali Achmadi. Foto: koleksi pribadi. |
Oleh : Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan, Peminat Masalah Sosial, Tinggal di Pati
Guru tidak membawa senjata. Guru membawa ilmu dan pertanyaan. Senjata bisa membuat orang takut. Tetapi ilmu dan pertanyaan bisa membuat orang berpikir. Dan orang yang berpikir adalah orang yang sulit dibodohi. Guru mengajarkan murid membaca. Bukan hanya membaca buku, tetapi juga membaca realitas.
Murid diajari bertanya: Mengapa? Bagaimana? Benarkah? Dari mana angkanya? Siapa yang diuntungkan? Nah, di sinilah masalahnya. Sebab rakyat yang terbiasa bertanya biasanya tidak mudah percaya hanya karena ada baliho sebesar rumah, slogan semanis madu, atau angka yang dibuat kelihatan hebat.
Rakyat yang kritis juga tidak gampang terpukau oleh seremonial. Apalagi hanya karena diberi bantuan lalu diminta percaya bahwa semua sudah baik-baik saja. Bansos memang bisa mengisi perut untuk beberapa hari. Tetapi pendidikan yang baik bisa membuat orang berani mempertanyakan mengapa perutnya harus terus bergantung pada bansos.
Maka, dalam satire paling sinis, barangkali ada penguasa yang lebih nyaman jika guru tidak terlalu sejahtera. Bukan karena guru tidak penting. Justru karena guru terlalu penting. Guru yang sibuk memikirkan cicilan akan sulit sepenuhnya fokus memikirkan masa depan murid. Guru yang terus mengejar tambahan penghasilan akan kehilangan sebagian energinya untuk mendidik.
Guru yang dihargai dan disejahterakan akan punya lebih banyak waktu untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya sangat berbahaya bagi kebodohan:mengajar manusia untuk berpikir. Guru yang sejahtera punya tenaga untuk mengajar. Guru yang dihargai punya semangat untuk mendidik.
Dan guru yang fokus mendidik akan melahirkan generasi yang cerdas, kritis, jujur, dan berani mengatakan: “Tunggu dulu. Data itu benar tidak?”. Atau: “Tunggu dulu, kebijakan itu tidak ada dasar hukumnya.” Kalimat sederhana. Tetapi bagi orang yang terbiasa memainkan data dan pasal hukum, mungkin cukup bikin keringat dingin.
Rakyat yang cerdas tidak mudah dibohongi. Rakyat yang kritis tidak gampang dikibuli. Rakyat yang sadar tidak mudah dikendalikan. Karena itu, pendidikan sebenarnya bukan sekadar urusan mencetak ijazah.
Pendidikan adalah proses mencetak manusia yang tidak gampang tunduk kepada kebohongan. Maka jangan heran jika kesejahteraan guru sering terdengar seperti urusan anggaran. Padahal sesungguhnya itu adalah urusan masa depan bangsa.
Guru yang sejahtera bukan kemewahan. Itu investasi. Investasi yang hasilnya tidak langsung kelihatan di laporan keuangan, tetapi bisa terlihat puluhan tahun kemudian: ketika rakyat mulai berani berpikir, bertanya, memeriksa, dan memilih berdasarkan akal sehat.
Dan di situlah paradoksnya. Guru yang sejahtera adalah kabar baik bagi bangsa. Tetapi mungkin menjadi kabar buruk bagi mereka yang selama ini nyaman hidup dari kebodohan rakyat. Sebab sekali guru berhasil membuat rakyat pintar, pekerjaan membodohi rakyat akan menjadi jauh lebih sulit. (*)
