![]() |
| Flyer Ketum GP Ansor dan Pemuda Muhammadiyah. |
Ada sebuah fenomena menggelikan yang terus berulang di panggung opini publik kita: sebuah amnesia selektif yang akut.
Setiap kali ada kader Nahdlatul Ulama (NU) dipercaya mengisi pos strategis di pemerintahan atau kursi komisaris BUMN, mendadak muncul paduan suara sumbang yang meneriakkan kata "politik praktis," "penjilat," hingga "pemburu jabatan."
Namun, anehnya, ketika organisasi saudara kita, Muhammadiyah, mendapatkan porsi yang serupa, suasana mendadak hening. Senyap. Tak ada hujatan, tak ada narasi "kemandirian yang tergadai," apalagi tudingan miring. Mari kita bedah standar ganda yang sakit ini.
1. Narasi yang Dipaksakan
Para pembenci NU seolah punya template khusus. Jika tokoh NU masuk kabinet, itu dianggap sebagai "transaksi." Padahal, baik NU maupun Muhammadiyah adalah pilar bangsa yang memiliki kader-kader profesional di bidangnya. Lihat saja fakta di lapangan: Ketua Umum GP Ansor dan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah sama-sama menduduki kursi komisaris di BUMN.
Pertanyaannya: Kenapa yang satu digoreng habis-habisan sampai gosong, sementara yang lain didiamkan seolah-olah itu hal yang lumrah? Apakah profesionalisme hanya milik satu golongan?
2. Antara Iri dan Ideologi
Ketajaman lidah para pengkritik ini biasanya tidak berlandaskan pada objektivitas, melainkan pada kebencian personal atau kecemburuan organisasi.
NU yang memiliki basis massa raksasa seringkali menjadi sasaran tembak karena dianggap terlalu "dekat" dengan kekuasaan. Padahal, kontribusi NU dalam menjaga stabilitas negara bukanlah barang gratisan.
Namun, bagi para pembenci, kontribusi itu buta. Mereka hanya melihat jabatan sebagai dosa jika itu diberikan kepada NU, tapi menganggapnya sebagai "pengabdian" jika diberikan kepada yang lain.
3. Berhenti Menjadi Munafik Digital
Visual yang beredar memperlihatkan kedua tokoh pemuda dari dua organisasi besar ini bersanding dengan jabatan yang setara. Pesannya jelas: Ayo Maju Bareng-bareng. Jika kalian mengaku peduli pada kemandirian organisasi massa, konsistenlah. Jangan hanya "galak" ke satu sisi tapi "mingkem" ke sisi lain.
Hujatan yang hanya diarahkan ke NU itu bukan kritik, itu adalah sentimen buta. Jika Muhammadiyah dianggap sah-sah saja berkontribusi lewat jalur birokrasi dan korporasi negara, maka NU pun memiliki hak dan kapasitas yang sama.
Sudah saatnya berhenti memelihara standar ganda. Membenci NU tidak akan membuat kalian terlihat lebih intelek jika di saat yang sama kalian menutup mata pada fakta yang identik di organisasi lain. (*)
Sumber: FB Kang Irul
