Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Rumah yang Tak Sempurna

Selasa, 24 Maret 2026 | 06:59 WIB Last Updated 2026-03-23T23:59:02Z

 

Ali Achmadi. Foto: Koleksi pribadi. 


Oleh: Ali Achmadi, Peminat Masalah Sosial, Tinggal di Pati


Pagi itu, matahari belum tinggi. Tapi panasnya sudah terasa—seperti omongan tetangga yang tidak pakai tedeng aling-aling.


Di sebuah kampung di ujung utara Jawa Tengah. Di rumah sederhana berdinding anyaman bambu, Bu Sarmi duduk di teras. Tangannya sibuk menata rengginang. Sederhana. Tidak pakai merek. Tidak pakai kemasan glossy. Tapi renyahnya bisa bikin lupa diri.


Belum juga satu tampah penuh, suara datang dari arah depan. “Wah, Bu Sarmi ini memang niat sekali dari sekarang sudah siap-siap jamuan. Semoga nanti banyak yang berkenan datang.” Suara itu milik Bu Subangun. Tetangga baru. Baru lima bulan. Tapi gaya bicaranya seperti sudah lima generasi tinggal di kampung itu.


Ia berdiri dengan baju yang terlalu rapi untuk ukuran kampung. Di sebelahnya, suaminya ikut mengangguk. Kacamata hitamnya tidak dilepas.


“Iya, Bu. Tamu sekarang kan pilih-pilih. Sekarang tamu biasanya lebih senang yang tempatnya rapi dan nyaman," sambung Pak Subangun.


Sementara di luar pagar, kampung itu tetap berjalan seperti biasa—tenang, bersahaja, dan tidak terlalu sibuk menjelaskan dirinya sendiri.


Bu Sarmi menoleh. Lalu tersenyum. Senyum yang tidak mahal. Tapi juga tidak bisa dibeli. “Inggih monggo Pak, Bu. Nanti dicoba rengginangnya. Siapa tahu cocok.” Tidak ada nada tersinggung. Tidak ada balasan pedas. Padahal bahan untuk marah itu lengkap.


“Ah, nanti paling-paling juga dimakan sendiri, Bu,” sahut Bu Subangun, ringan. Lalu masuk ke rumahnya. Rumah besar berlantai marmer. Pagar tinggi. Seperti tidak ingin siapa pun masuk.


Bu Sarmi kembali ke rengginangnya. Hidup harus jalan terus. Tidak bisa berhenti hanya karena omongan orang yang baru kenal lima bulan tapi sudah merasa paling tahu standar kehidupan.


Lebaran datang. Takbir menggema. Dari musala kecil sampai ke pengeras suara sound horeg yang kadang lebih keras dari iman yang mendengarnya. Orang-orang selesai salat Id. Lalu mulai ritual yang sebenarnya: silaturahmi.


Di rumah Bu Subangun, semuanya sudah siap. Kue impor. Cokelat mahal. Minuman dingin. Semua tertata seperti etalase supermarket. Mereka duduk. Rapi. Menunggu. Menunggu tamu. Seperti menunggu hujan di musim kemarau. Dari jendela besar, mereka melihat ke seberang jalan.


Rumah Bu Sarmi. Yang katanya tidak layak didatangi. Yang katanya terlalu sederhana untuk ukuran Lebaran. Satu orang datang. Lalu dua. Lalu sepuluh. Lalu tidak terhitung.


Halaman kecil itu mendadak penuh. Orang-orang duduk lesehan. Tertawa. Ngobrol. Anak-anak lari-larian. Rengginang berpindah dari tangan ke tangan—lebih cepat daripada gosip pindah mulut ke mulut.


Hidup. Hangat. Riuh. Seperti Lebaran yang sebenarnya. Sementara itu, di rumah Bu Subangun, Sunyi. Sepi. Bahkan suara sendok jatuh pun bisa terdengar seperti dentuman rudal Iran menghujam jantung pertahanan Israil.


Orang lewat? Ada. Mampir? Tidak. Mereka melihat. Tapi tidak berhenti. Mungkin takut menginjak marmer. Atau mungkin takut tidak nyaman.


Sore itu, Bu Subangun mulai paham. Rumah besar ternyata bisa menjadi tembok. Pagar tinggi ternyata bisa menjadi jarak. Dan kue mahal tidak otomatis mengundang orang datang.


Yang membuat orang datang itu sederhana: Pernahkah kita datang duluan saat orang lain butuh? Pernahkah kita duduk tanpa menghakimi? Pernahkah kita menahan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan?


Bu Sarmi tidak punya marmer. Tapi dia orang yang pertama mengetuk pintu ketika ada tetangganya yang sakit. Dia tidak punya sofa empuk. Tapi dia punya hati yang membuat orang betah duduk lama. Dia tidak punya kue impor. Tapi dia punya kebiasaan hadir ketika tetangganya membutuhkan pertolongan.


Di kampung itu, orang akhirnya mengerti: Yang ramai saat lebaran bukan rumah yang paling mahal. Tapi rumah yang paling banyak menyimpan kebaikan. Dan yang paling sepi—biasanya bukan karena tidak punya apa-apa. Tapi karena terlalu sibuk menunjukkan bahwa dia punya segalanya. rumah yang penghuninya—diam-diam—merasa lebih dari yang lainnya. (*)

close close