![]() |
| Ali Achmadi. Foto: Koleksi pribadi. |
Oleh : Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan dan Peminat Masalah Sosial, Tinggal di Pati
Teknologi kita sudah bisa memotret lubang hitam. Sudah bisa berkomunikasi dengan satelit di luar angkasa yang jaraknya ribuan kilometer, tanpa pernah khawatir sinyalnya hilang di tengah jalan. Gerhana? Jangan tanya. Seratus tahun ke depan, jam sekian, menit sekian, detik sekian, sudah ada jadwalnya.
Tapi kita masih tersandung di satu hal: kapan mulai puasa, dan kapan Lebaran. Rasanya, ini bukan soal tidak mampu. Ini soal tidak mau selesai.
Setiap tahun, panggung itu digelar lagi. Sidang isbat. Teleskop diarahkan. Hilal dicari seperti mencari mantan yang masih bikin gamon. Padahal di meja sebelah, perhitungan sudah selesai sejak lama. Rapi. Presisi. Bahkan bisa dibuat kalender sampai cucu-cicit.
Tapi tetap saja, hasil akhirnya bisa dua. Bahkan kadang tiga. Satu kelompok sudah takbiran. Kelompok lain masih tarawih.
Langitnya satu. Bulannya satu. Negaranya satu. Tapi tanggalnya bisa beda. Lalu rakyat disuruh maklum. Katanya ini perbedaan metode. Ada yang pakai hisab. Ada yang rukyat. Ada yang percaya angka. Ada yang percaya mata.
Padahal—kalau mau jujur—ini bukan lagi soal metode. Ini sudah masuk wilayah ego dan gengsi. Kalau semua sepakat, lalu siapa yang paling benar? Maka perbedaan itu dipelihara.
Dirawat. Bahkan mungkin—tanpa sadar—dinikmati.
Karena setiap tahun, ada panggung. Ada peran. Ada cuan. Ada otoritas yang ingin tetap terlihat penting. Dan rakyat? Cukup jadi penonton yang bingung.
Ibu-ibu mulai tanya di grup WhatsApp: “Jadi besok puasa atau tidak?” Anak-anak bingung: “Temanku sudah takbiran, kok aku belum?” Pedagang lebih bingung lagi: “Ini harus jual ketupat hari ini atau besok?”
Negara? Menjawab dengan elegan: “Silakan mengikuti keyakinan masing-masing.”Kalimat paling aman. Sekaligus paling tidak menyelesaikan. Padahal masyarakat sederhana saja maunya: Lebaran bareng. Tidak minta roket ke Mars. Tidak minta jaringan 7G. Cuma ingin takbiran bersama, salat Id bersama, makan opor bersama—tanpa harus cek kalender versi siapa.
Aneh memang. Hal-hal besar bisa kita satukan. Pilpres dan pileg saja bisa serentak satu hari. Tapi menentukan satu Syawal? Selalu terasa terlalu berat. Mungkin benar, ini bukan soal ilmu. Bukan soal teknologi. Ini soal: siapa yang rela kehilangan panggung.
Dan itu—ternyata—lebih sulit dari menghitung posisi bulan. Akhirnya kita sampai pada kesimpulan sederhana: perbedaan ini akan terus ada. Bukan karena tidak bisa disatukan. Tapi karena selalu ada alasan untuk tidak menyatukan.
Entah itu gengsi. Entah itu tradisi. Atau—siapa tahu—proyek tahunan yang terlalu sayang untuk dihentikan. Maka setiap tahun, kita ulang lagi cerita yang sama. Dengan aktor yang sama. Dengan dialog yang hampir sama.
Dan rakyat, lagi-lagi, diminta memahami. Sambil diam-diam berharap: tahun depan mungkin bisa bareng. Meski dalam hati kecil sudah tahu: Harapan itu juga—seperti hilal—lebih sering mengikuti kepentingan daripada langit. (*)
