Notification

×

Iklan

Iklan

Santri Nderek Ulama, Ulama Nderek Prabowo, Prabowo Nderek Trump

Selasa, 10 Maret 2026 | 09:38 WIB Last Updated 2026-03-10T02:38:21Z
Ali Achmadi. Foto: koleksi pribadi. 


Oleh : Ali Achmadi, Peminat Masalah Sosial, Tinggal di Pati


Di negeri ini, urutan kepatuhan kadang lebih rapi daripada urutan shaf salat berjamaah. Santri nderek ulama. Ulama nderek presiden. Presiden nderek kepentingan global. Atau, versi yang sedang populer di warung kopi: Santri nderek ulama, ulama nderek Prabowo, Prabowo nderek Trump. Urutannya jelas. Tidak perlu diskusi panjang. Tidak perlu bahtsul masail. Tidak perlu forum ijtima'. Cukup satu undangan ke istana. Selesai.


Beberapa hari terakhir, sejumlah ulama dan pimpinan ormas Islam diundang ke istana oleh Prabowo Subianto. Agendanya tentu mulia. Silaturahmi. Mendengar penjelasan pemerintah. Menyatukan pandangan. Demi bangsa. Demi umat. Demi stabilitas. Begitu biasanya kalimat pembuka setiap konferensi pers. Setelah pertemuan itu, beberapa pernyataan mulai bermunculan.


Nada suaranya relatif sama. Ada yang mengatakan kebijakan pemerintah sudah tepat. Ada yang menyatakan dukungan penuh. Ada pula yang menegaskan umat harus percaya pada kepemimpinan nasional. Kita mesti mendukung presiden, karena tugas presiden itu berat. Bahasanya halus.


Tapi pesannya jelas: Ikuti saja.


Di bawah, para santri mengangguk. Memang dari dulu begitu. Tradisi pesantren sangat jelas: santri nderek kiai. Santri tidak bertanya panjang. Santri tidak debat di kolom komentar. Santri percaya.


Kalau kiai bilang jalan ke timur, ya ke timur. Kalau kiai bilang pemerintah benar, ya benar. Kalau kiai bilang kebijakan itu demi kemaslahatan umat, ya demi kemaslahatan umat. Sederhana.


Masalahnya, Setelah undangan istana itu, beberapa kritik yang sebelumnya terdengar agak keras tiba-tiba berubah menjadi lebih lembut. Yang tadinya "perlu dikaji ulang" berubah menjadi "insyaAllah membawa kebaikan". Yang tadinya "perlu koreksi" berubah menjadi "kita dukung bersama". Begitulah politik bekerja. Ia tidak selalu berteriak. Kadang hanya cukup dengan secangkir kopi di istana.


Tapi cerita ini belum selesai. Karena ternyata presiden nderek kepentinan global. kepentingan Geopolitik. Dan tentu saja tokoh-tokoh besar dunia seperti Donald Trump, Netanyahu, Xi Jinping yang selalu punya pengaruh dalam percaturan global. Di era sekarang, kebijakan nasional sering kali tidak lahir di ruang hampa. Ia lahir dari jaringan kepentingan yang sangat panjang. Dari Washington. Dari Beijing. Dari Tel Aviv. Dari pasar global. Kadang lebih panjang daripada rantai sanad hadis.


Akhirnya rakyat hanya melihat ujung rantainya. Santri mengikuti ulama. Ulama mengikuti presiden.


Presiden mengikuti arah angin dunia. Semua bergerak. Semua mengikuti. Tidak ada yang benar-benar berdiri sendiri.


Yang menarik justru pertanyaan sederhana. Kalau semua nderek, siapa yang sebenarnya memimpin arah? Santri percaya ulama. Ulama percaya negara. Negara percaya dunia. Lalu umat percaya siapa?


Di pesantren-pesantren ada nasihat klasik: "Ulama iku pewaris nabi." Ulama adalah pewaris nabi.


Karena tugas ulama bukan sekadar menjaga stabilitas. Tugas ulama adalah menjaga kewarasan dan keberanian berkata benar. Walaupun itu tidak nyaman. Walaupun itu tidak populer. Walaupun itu menyebabkan tidak diundang ke istana.


Tentu saja tidak semua ulama begitu. Masih banyak yang tetap kritis. Masih banyak yang tetap menjaga jarak dengan kekuasaan. Tapi di era kamera dan media sosial, yang paling terlihat sering kali justru yang paling dekat dengan panggung kekuasaan. Dan panggung itu, seperti kita tahu, selalu terang. Terlalu terang. Sampai kadang-kadang membuat kita lupa melihat bayangan di belakangnya.


Akhirnya rakyat hanya bisa tersenyum. Sambil mengulang kalimat yang kini jadi semacam pepatah politik baru: “Santri nderek ulama. Ulama nderek Prabowo. Prabowo nderek Trump.”


Entah siapa yang benar-benar berjalan di depan. Atau jangan-jangan, yang di depan hanya terlihat memimpin, padahal sama-sama sedang mengikuti. (*)


close close