Notification

×

Iklan

Iklan

LP Ma’arif NU Jateng Perkuat Guru dengan Kurikulum Berbasis Cinta, Inklusi, dan Bahasa Inggris Global

Rabu, 14 Januari 2026 | 13:22 WIB Last Updated 2026-01-15T06:45:57Z
Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah menggelar satu rangkaian kegiatan terpadu. 


Semarang, soearamoeria.com - Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah menggelar satu rangkaian kegiatan terpadu yang mencakup Pelatihan Pembelajaran Mendalam Kurikulum Berbasis Cinta (PM KBC) An-Nahdliyyah, Program Pendampingan Bahasa Inggris Berstandar Internasional Pearson, serta penyelesaian Modul Pendidikan Inklusi. 


Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Rabu–Kamis, 14–15 Januari 2026, di Hotel Muria, Kota Semarang.


Wakil Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Dr. Hidayatun, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dirancang sebagai penguatan strategis bagi satuan pendidikan Ma’arif. 


Menurut dia, pelatihan ini bertujuan memperkuat implementasi PM KBC, menuntaskan modul pendidikan inklusi, sekaligus meningkatkan kapasitas guru dalam pendampingan pembelajaran Bahasa Inggris berstandar internasional.


“Pendidikan inklusi kini telah menjadi arus utama (mainstreaming) di lingkungan LP Ma’arif. Karena itu, modul inklusi harus segera dituntaskan agar dapat diimplementasikan secara seragam. Sementara pendampingan Bahasa Inggris Pearson kami harapkan mampu mendorong sekolah-sekolah Ma’arif memiliki kompetensi Bahasa Inggris dengan standar internasional,” ujar Hidayatun.


Ia menambahkan, penguasaan Bahasa Inggris menjadi kebutuhan yang tak terelakkan, mengingat berbagai sektor pendidikan menengah hingga peluang beasiswa saat ini banyak mensyaratkan kemampuan Bahasa Inggris yang memadai.


Sementara itu, Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah Dr. Ghufron Hamzah, S.Th.I., M.S.I, dalam paparannya, menegaskan bahwa kurikulum berbasis cinta sejatinya memiliki akar kuat dalam pemikiran pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, sebagaimana tertuang dalam Qanun Asasi. 


Nilai cinta tersebut, menurut dia, menjadi fondasi penting dalam membangun iklim pendidikan yang humanis dan transformatif.


“Dalam konteks kurikulum, kita sebenarnya sudah lama mempersiapkan kewajiban penguatan Bahasa Inggris, bahkan sejak jenjang sekolah dasar. Peningkatan kapasitas guru, termasuk melalui program penguatan di Pare, menjadi bagian dari ikhtiar tersebut,” kata Gufron.


Ia menekankan bahwa pendekatan berbasis cinta diharapkan mampu mengubah sikap resistif terhadap pembaruan menjadi semangat untuk belajar dan beradaptasi. 


“Dari yang semula alergi, menjadi cinta. Harapannya, forum ini melahirkan pendidik yang mampu menghasilkan peserta didik yang kompeten, berkarakter, dan berdaya saing,” ujarnya.


Kegiatan terpadu ini diikuti oleh 44 peserta yang terdiri atas guru dan pengelola satuan pendidikan Ma’arif dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah. (ah)

close close