Notification

×

Iklan

Iklan

Stroberi Tiyo

Sabtu, 07 Maret 2026 | 17:39 WIB Last Updated 2026-03-07T10:39:42Z
Ali Achmadi. Foto: Koleksi pribadi. 


Oleh : Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan dan Peminat Sosial, Tinggal di Pati


Kemarin saya membaca lagi istilah yang sedang populer: generasi stroberi. Istilah yang terdengar manis. Tapi sebenarnya sinis. Merah. Mengilap. Menarik. Namun ditekan sedikit langsung lembek.


Itulah label yang rajin ditempelkan kepada anak-anak muda hari ini. Terutama yang masih sekolah. Terutama yang disebut Gen Z.


Sedikit dimarahi guru, katanya trauma. Sedikit tugas menumpuk, katanya burnout. Sedikit dikritik, katanya tidak sehat secara mental. “Zaman kami dulu tidak begitu,” kata generasi senior. Kalimat itu biasanya diucapkan sambil mengenang masa sekolah yang penuh romantika penghapus papan tulis melayang. 


Dulu guru marah itu biasa. Guru membentak itu wajar. Guru melempar penghapus juga dianggap bagian dari metode pembelajaran. Tidak ada murid yang berani berkata: “Pak, saya tidak nyaman.”


Kalau ada yang berani bicara begitu, kemungkinan besar dia akan belajar satu hal baru: berdiri di depan kelas. Dan anehnya, generasi yang dulu mengalami itu sekarang merasa dirinya sangat tangguh. Padahal mungkin mereka hanya sangat terlatih untuk diam.


Sekolah sekarang berbeda. Murid berani bertanya. Murid berani berpendapat. Kadang bahkan berani mengkritik. Sebagian orang tua dan guru langsung menggeleng. “Ini generasi stroberi.” Label yang praktis. Tidak perlu riset. Tidak perlu refleksi.


Lalu muncul fenomena Tiyo Ardiyanto. Anak muda yang hidup di dunia yang jauh berbeda dari dunia sekolah generasi sebelumnya. Ternyata yang ia lakukan justru sebaliknya Ia berani tampil. Berani berbicara. Berani menyampaikan kritik di ruang publik. Bukan di ruang kelas yang penontonnya hanya tiga puluh orang. Tapi di ruang yang jauh lebih besar. Dan jauh lebih kejam. Ruang yang bernama media sosial. Perlu mental yang cukup tebal untuk menghadapi netizen.


Kalau guru marah biasanya masih ada batasnya. Netizen tidak punya kurikulum kesopanan.


Mereka bisa mengkritik. Mereka bisa menyindir. Mereka bisa membuly. Mereka bisa menghina dengan kreativitas yang luar biasa. Namun anehnya, anak-anak Gen Z tetap tampil di sana.


Mereka tetap membuat konten. Mereka tetap berbicara. Mereka tetap mengekspresikan diri.


Mereka tetap menyampaikan kritik atas sesuatu yang tidak benar. Setiap hari. Di ruang publik digital yang tidak selalu ramah. Kalau mental mereka benar-benar stroberi, seharusnya mereka sudah menghilang sejak lama.


Generasi lama sering merasa lebih kuat. Karena dulu mereka tahan dimarahi guru. Tapi generasi sekarang harus tahan dihujat dan dimarahi seisi dunia. Saya tidak yakin yang kedua lebih ringan. Karena itu saya mulai curiga. Jangan-jangan istilah generasi stroberi ini sebenarnya bukan diagnosis.


Melainkan nostalgia. Cara halus untuk mengatakan: “Zaman kami dulu lebih hebat.” Padahal belum tentu.


Bisa jadi anak-anak sekarang bukan stroberi. Mereka hanya generasi yang hidup di dunia yang jauh lebih bising. Dan seperti biasa, dunia yang lebih bising selalu terlihat lebih rapuh bagi mereka yang tumbuh di dunia yang lebih sunyi. (*)

close close