“Adat Jowo” Produksi Jahe Gula Merah, Serbuk Herbal Tanpa Bahan Kimia - Soeara Moeria

Breaking

Tuesday, 10 November 2020

“Adat Jowo” Produksi Jahe Gula Merah, Serbuk Herbal Tanpa Bahan Kimia

 

Owner "Adat Jowo" mengantarkan  pesanan jahe tokoh masyarakat.

Jepara, soearamoeria.com - Jahe Gula Merah adalah salah satu produk yang dikembangkan “Adat Jowo”, unit usaha milik Amin Syukron (37) bersama istrinya sejak Maret 2019 silam. Usaha produksi serbuk  jahe herbal tersebut muncul lantaran waktu itu dirinya belum memiliki usaha sampingan di sela-sela kesibukannya mengajar. 


“Waktu itu saya mikir belum punya usaha sampingan. Kemudian setelah mikir-mikir dapat inspirasi. Saudara istri saya di Kudus sukses jualan jahe. Dari kesuksesan itu akhirnya saya mencoba meniru untuk mengembangkannya,”kata Amin, Selasa (10/11/2020). 


Setelah menemukan produk yang akan dikembangkan yakni jahe, kemudian ia mengakses video-video di youtube dan semakin mantab untuk memulai usaha tersebut. Untuk memulai memproduksi katanya alat yang digunakan tidak banyak; kuali, kompor, parutan, dan blender. Dengan menggunakan alat sederhana tersebut ia mulai mencoba. 


“Uji coba pertama hasilnya kering dan menggumpal. Uji coba berikutnya hasilnya belum bisa matang dan lembut. Untuk uji coba ketiga setelah dapat resep dari saudara. Pada saat memasak jahe saat baru kental-kentalnya agar diaduk sampai kering. Akhirnya di percobaan ketiga baru berhasil,” terang pria kelahiran Jepara, 3 Maret 1983 ini.   


Setelah menekuni usaha setengah tahun, dirinya mencoba membranding produk agar tidak sama dengan yang dijual di pasar. Ketemulah dengan gula merah. Kenapa gula merah? Karena yang kerap dijual di pasaran jahe wangi. Di samping itu di pasaran juga belum ada kompetitor sehingga memacu produknya untuk berkembang. 


“Produk lokal banyak tapi saya waktu itu belum menemukan gula merah jadi brand apalagi yang berukuran sachet kemasan kecil. Yang ada beli seper empat kilo, dan sekilo sehingga pembeli meski mikir mengeluarkan banyak uang,” akunya. 


Setelah menemukan brand produk, produksi jahe yang dibantu istrinya Tri Anawati berlangsung hingga saat ini. Ditanya tentang bahan baku, pria yang akrab disapa Mas Amin itu mengaku jahe selalu ada di pasaran. Kendala bukan dikelangkaan bahan baku namun harga jahe yang mengalami naik turun. 


“Semenjak Corona harga per kg pernah Rp28.000, 21.000, 22.000, juga pernah sampai 46.000. Nanti lambat laun turun. Saya amati 2 tahunan ini Oktober November biasanya harga jahe naik setelah musim penghujan tiba harga turun lagi sedikit demi sedikit,” beber Amin. 


Dengan harga bahan baku yang tidak stabil ditambah dengan bahan produksi gula merah, gula putih, dan rempah-rempah semacam serai, kayu manis, dan pandan pihaknya harus tetap mempertahankan harga jual di pasaran. 


Ia membeberkan sejak Maret 2019 sampai sekarang, pria yang tinggal bersama keluarga di Dukuh Krajan Desa Kedungleper Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara itu masih menjual dengan harga yang sama. Serbuk jahe gula merah “Adat Jowo” terdiri dari beberapa macam. Ada yang 1 pack yang berisi 12 sachet seharga Rp12.000, kemasan 150 gram seharga Rp11.000, 0.5 kg dengan harga Rp30.000, dan 1 kg seharga Rp60.000. 


Menjelang 2 tahun menekuni usaha tersebut sehari rata-rata dirinya memproduksi 2.5 kg jahe. Saat diproduksi menjadi 17 pack. Perlu diketahui untuk membuat serbuk jahe membutuhkan waktu sehari. “Malam hari untuk mencuci jahe, pagi hari memarut jahe kemudian diblender, 1-2 jam berikutnya untuk pengendapan sari jahe, setelah itu dimasak semua bahan kurang lebih 2 jam di atas kompor, 1 jam berikutnya proses pemasiran, baru kemudian dijemur untuk mengurangi kadar air agar serbuk jahe tahan lama,” bebernya. 


Serbuk jahe gula merah yang diproduksi "Adat Jowo"

Diborong Orang Taiwan 30 Pack

Usaha milik putra pasangan Badruz Zaman – Mas’udah saat ini boleh dibilang sudah dikenal masyarakat luas. Seorang warga Taiwan yang memiliki usaha furniture di Jepara pernah memborong jahenya 30 pack. Puluhan pack jahe tersebut untuk oleh-oleh di negara bos furniture tersebut. Masih di tahun yang sama 2019 seorang calon jamaah haji Jepara asal Dukuh Jetis Desa Jerukwangi Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara membeli 4 pack jahe untuk bekal selama menunaikan ibadah haji. 


Selain pembeli musiman, anak ke tiga dari empat bersaudara itu juga memiliki pelanggan dari teman, relasi, angkringan, dan perkantoran. “Saat ini saya punya pelanggan tetap 4 angkringan, 10 orang yang sudah nyandu (hobi) jahe, dan getok tular dari mulut ke mulut. Saat Pilkades di Desa saya salah satu calon membawa jahe untuk sesepuh desa. Dari situ mulai dikenal karena cita rasanya,” aku pria yang memiliki motto ‘Jangan berharap jadi orang hebat, jadilah orang bermanfat ini!’

  

Dipilihnya jahe karena ia menganggap pentingnya kesehatan dan kembali ke alam dengan pengolahan rempah-rempah, menyajikan minuman herbal yang bebas dari bahan kimia. Agar usaha tersebut tetap berjalan dirinya juga merambah ke ranah yang lain yakni memproduksi susu kedelai “Soya”. Ke depan dirinya juga berkeinginan untuk mengembangan sirup jahe, jamu temulawak, dan produk herbal yang lain. 


Salah satu pembeli serbuk jahe, Kang Huri mengaku produk jahe “Adat Jowo” rasanya enak beda dengan di pasaran. “Saya siap memasarkan karena ada rasa gurih kerasa gula merah. Ada saudara saya yang buat. Serupa tapi beda rasanya,” aku pembeli asal Kecamatan Welahan, Jepara ini. 


Pembeli lain asal Desa Sekuro Kecamatan Mlonggo, Heny juga ketagihan setelah menyerutup jahe gula merah tersebut. “Saya biasanya beli 2-3 pack. Setelah stok habis biasanya saya beli lagi,” pungkasnya. (sm)  

No comments:

Post a comment