Kita Bukanlah Siapa-siapa Saat Kita Bukan Apa-apa - Soeara Moeria

Breaking

Wednesday, 8 January 2020

Kita Bukanlah Siapa-siapa Saat Kita Bukan Apa-apa

Lu'lu Il Maknun
Oleh: Lu’lu Il Maknun. Mahasiswi semester I, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Malang
    
Di era sekarang ini kita dituntut untuk tidak hanya merubah diri sendiri tapi juga dituntut untuk merubah dunia, salah satunya dengan memotivasi seseorang atau membuat seseorang termotivasi dengan apa yang kita capai. Kebanyakan sebuah motivasi, perubahan terhadap sesuatu dan pola pikir berasal dari kata-kata. Namun, tidak semua kata-kata yang kita ucapkan atau yang kita tulis dapat diterima dan didengar oleh orang lain.

Sebab, tidak setiap orang bisa melakukan perubahan meski ia memiliki ide atau gagasan yang dapat merubah perspektif orang lain. Karena apa? Karena kita bukanlah siapa-siapa dimata mereka. Kita harus menjadi sesuatu yang dapat mereka lihat, entah itu menjadi orang sukses yang memiliki uang milyaran, menjadi pengusaha yang memiliki cabang perusahaan dimana mana, menjadi seorang motivator, petinggi negara atau malah menjadi seorang selebgram, artis/idol, youtuber,  dan sebagainya. Pada intinya, kita tidak akan bisa mengubah dunia sebelum kita mengubah diri kita sendiri.
     
Banyak sekali contoh dalam kehidupan sehari-hari tentang bagaimana sebuah proses perjalanan kehidupan seseorang harus benar-benar dimulai dari bawah untuk mencapai puncak keinginannya dalam menggapai cita-cita yang kemudian berujung menjadi sebuah motivasi untuk orang lain. Mereka kemudian dihormati, disanjung dan dihargai dalam berbagai hal. Lalu, banyak dari mereka yang penasaran dengan proses tersebut. Sehingga mereka mengapresiasikan hasil itu semua dengan cara bercerita disela pidato mereka, mengenang kisah itu dengan menulis di media sosial, atau mendengar hal tersebut dari orang lain.

Namun itu semua tidak lagi berarti saat sebuah kata-kata hanya menjadi sebuah tulisan bahkan hanya sekedar omongan belaka hanya karena kita bukanlah siapa-siapa dimata mereka. Karena di negara Indonesia ini sebuah pembicaraan tidak didengarkan jika seseorang itu belum menjadi orang hebat. Berbeda dengan negara-negara maju lainnya yang menghargai pendapat orang lain tidak perduli apakah orang tersebut sudah sukses ataupun belum. Semua perkataan didengarkan untuk mengetahui orang itu hebat atau tidak.
     
Untuk mencegah itu semua kita harus menjadi “ORANG HEBAT” dan berkumpul dengan orang-orang hebat lainnya. Itu semua bukan berarti hanya akan membuatmu dipandang hebat melainkan juga membantumu untuk berpikir hebat, menjadikan dirimu adalah siapa dan memiliki apa-apa. Karena saat kamu sudah menjadi dan memiliki apa-apa kisah inspiratifmu tidak hanya mengubah persepsi dan cara pikir orang di sekitarmu saja, tapi juga dunia. Orang yang inspiratif seolah bisa merasuk dan menghipnotis pikiran orang lain, sehingga kata-katanya teringat terus. Inspirasi yang mereka terima, membuat mereka ingin mengembangkan diri, melakukan lebih dari keadaan sebelumnya.

Di sisi lain, kita bisa juga menyaksikan pemimpin, pejabat atau atasan yang tidak membawa dampak dalam hidup kita. Kata-katanya, pengumumannya, pidatonya, seolah lewat begitu saja, tidak menggelitik kita untuk memikirkan apa yang diungkapkan ataupun mengadakan dialog dengan diri sendiri. Mengapa ada orang yang bisa begitu kuat menginspirasi namun sebaliknya ada orang yang seolah hanya punya "pesan kosong" dalam ekspresinya? Itu karena mereka hanya memiki obsesi semata bukan menjadi siapa dimata orang lain seharusnya.
    
Untuk itu jadilah seseorang yang tidak perlu mengenalkan lagi siapa dirimu dan siapa namamu dan jadilah seseorang yang memiliki sesuatu apapun itu, baik berupa cara berpikir maupun kata-kata  yang dapat menginspirasi dan merubah dunia.

No comments:

Post a Comment