Notification

×

Iklan

Iklan

Timelime Gerakan Koin NU Cilacap, dari Infak Rp50 menuju Kemandirian Organisasi dan BUMNU

Kamis, 17 September 2026 | 08:15 WIB Last Updated 2026-09-17T01:15:16Z
Timeline gerakan koin NU Cilacap. 


Koin kecil. Gerakan besar. Dari infak Rp50, NU Cilacap membangun mesin kemandirian organisasi.


Gerakan ini berakar pada ๐—ฃ๐—ž๐—ฃ๐—ก๐—จ. Sejak Maret 2015, Pendidikan Kader Penggerak NU dilaksanakan secara massal. Hingga 2021 lebih dari 3.000 kader lahir dari proses itu. Perintah ke-6-nya jelas: gerakkan potensi warga NU dan sumber-sumber pendanaan NU. Tahun 2015–2016 menjadi masa mencari bentuk, agar jargon “Harokah itu Barokah” tidak berhenti di slogan.


Dari situ muncul ๐—š๐—ข๐—–๐—”๐—ฃ. Namanya merujuk pada koin Rp50. Sosialisasi pertama berjalan lewat Silatda. Koordinator dibentuk di tingkat kecamatan. Pada 18 Maret 2017 kaleng aluminium mulai dibagikan. Di tahun yang sama muncul gerakan pendahulu Infak Sehari Seribu. Di Desa Gentasari, Kroya, 235 munfiq mengumpulkan sekitar Rp4 juta per bulan. Saat itu lingkupnya masih terbatas pada alumni PKPNU.


Titik balik terjadi pada ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿญ๐Ÿด. Konfercab di Pondok Pesantren Raudlatul Huda, Adipala, menempatkan pendanaan dan kemandirian organisasi sebagai salah satu program dasar. Kemudian Muskercab I di Pondok Pesantren Nurul Islam Karangjat, Sampang, menyerahkan pengelolaan GOCAP sepenuhnya kepada ๐—ก๐—จ ๐—–๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ-๐—Ÿ๐—”๐—ญ๐—œ๐—ฆ๐—ก๐—จ ๐—–๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฝ. Mandatnya sederhana dan tegas: membentuk UPZIS, menyusun regulasi, dan memperluas gerakan ke luar kalangan kader.


Operasi formal dimulai ๐Ÿฎ๐Ÿฌ ๐—ก๐—ผ๐˜ƒ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿญ๐Ÿต, setelah studi banding ke Sragen, Banyumas, Temanggung, dan Bantul. Penjemputan pertama Rp15 juta dari lima desa, dengan sekitar 1.100 kaleng. Tanggal itulah yang kemudian diperingati sebagai hari lahir gerakan.


Pertumbuhan cepat terjadi pada 2020–2021. Desember 2020, perolehan hampir Rp1 miliar dalam sebulan. Aplikasi GOCAP menjadi pionir digitalisasi Koin NU di Indonesia dan pada Desember 2021 mendapat pengakuan dari PP LAZISNU. Setahun kemudian jaringannya sudah sampai 253 ranting, sekitar 2.500 PLPK, dan puluhan ribu munfiq.


Pada 2022–2024 gerakan ini menjadi rujukan nasional. Pengelolaan memakai prinsip ๐— ๐—”๐—ก๐—ง๐—”๐—ฃ: modern, akuntabel, transparan, amanah, profesional. 20 November 2024 menandai lima tahun gerakan. Sepuluh hari kemudian digelar tasyakuran bersama 2 dekade LAZISNU. Lalu pada 15 Februari 2025 Cilacap meluncurkan ๐—ž๐—ผ๐—ถ๐—ป ๐—ก๐—จ ๐——๐—ถ๐—ด๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—น bersama NU Online Super App, sebagai salah satu dari tujuh PCNU percontohan nasional.


๐—”nalisis ๐——ampak

Dampak finansialnya paling mudah diukur. Dari sekitar Rp10 juta pada 2017, perolehan naik menjadi ratusan juta, lalu tembus belasan miliar per tahun sejak 2021. Titik baliknya pertengahan 2020, ketika setoran bulanan mencapai sekitar Rp1 miliar, kemudian sekitar Rp1,3 miliar per bulan pada 2023. Uang receh berubah menjadi arus kas rutin.


Dampak kelembagaan tidak kalah penting. Jaringan merambah 278 ranting, 23 UPZIS MWCNU, dan lebih dari 2.000 PLPK. Dana dikembalikan berjenjang: 47,5 persen ranting, 28,5 persen UPZIS/MWC, 19 persen LAZISNU kabupaten, dan 5 persen dana kebencanaan. Dari situ tumbuh aset layanan: 24 mobil kemanusiaan, plus mobil rescue, mobil klinik, dan perahu layanan. Ranting yang dulu sering kehabisan dana operasional kini punya napas bulanan.


Dampak sosial terasa di tingkat rumah tangga. Ada beasiswa, biaya berobat, ambulans, modal usaha, bedah rumah, renovasi musala, dan tanggap bencana. Manfaat mikronya nyata. Namun secara makro, program ini lebih tepat disebut jaring pengaman komunitas daripada mesin pengentasan kemiskinan.


Dampak yang sering luput dari angka justru ada di budaya. Filosofinya bukan menarik uang dari masyarakat, melainkan membangun kesadaran berinfak: dari, oleh, dan untuk warga NU. Infak menjadi kebiasaan bulanan. Muncul relawan yang disebut ๐—ธ๐˜‚๐—ฟ๐—ถ๐—ฟ ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ถ๐˜. Mereka adalah para Petugas Lapangan Penjemput Koin (PLPK). Dan budaya dimaksud adalah orang merasa memiliki organisasi, bukan hanya disuruh berdonasi.


Ke luar kabupaten, Cilacap menjadi rujukan. Puluhan PC LAZISNU datang belajar. Model ini lalu naik ke tingkat nasional lewat digitalisasi. Dengan kata lain, dampaknya tidak berhenti di dana lokal.


Ada batas yang perlu jujur diakui. Gerakan ini sangat bergantung pada semangat PLPK. Antar-ranting masih timpang. Volume bantuan mikro kadang kecil dibanding kebutuhan. Ia memperkuat komunitas NU, bukan menggantikan peran negara. Semakin besar dananya, semakin tinggi pula tuntutan transparansi dan inovasi penyaluran.


Kesimpulannya ringkas. Koin NU sangat kuat sebagai mesin kemandirian organisasi dan model filantropi berbasis jamaah. Ia kuat sebagai jaringan layanan sosial. Ia sedang sebagai alat mengubah kemiskinan struktural. Dampak terbesarnya bukan membuat setiap penerima langsung sejahtera, melainkan memberi organisasi napas sendiri dan memberi warga saluran infak yang terpercaya sampai ke desa.


๐——ari ๐—žoin ๐—ก๐—จ ke ๐—•๐—จ๐— ๐—ก๐—จ

Koin NU menjawab pertanyaan 2015: dari mana dana organisasi? ๐—•๐—จ๐— ๐—ก๐—จ menjawab pertanyaan berikutnya: bagaimana agar organisasi tidak selamanya hidup dari kotak infak?


Pada pelantikan PCNU 2024–2029, 11 Agustus 2024, BUMNU dicanangkan sebagai program prioritas. Alasannya terang: LAZISNU sudah mampu menghimpun sekitar Rp16 miliar setahun. Reputasi, jaringan ranting, dan arus kas itulah yang memberi keberanian masuk ke dunia usaha.


Gagasan BUMNU adalah mengubah modal sosial menjadi kedaulatan ekonomi. Tanpa ekonomi sendiri, kemandirian mudah tinggal retorika. Siklus yang dibayangkan sederhana: Koin NU menguat, BUMNU memutar nilai, keuntungan kembali ke organisasi dan umat. Problem lamanya warga NU masih menjadi pasar, belum produsen, dan kegiatan masih mengandalkan urunan. BUMNU dimaksudkan membalik posisi itu. (*)


Sumber : FB Abdal Malik

close close