![]() |
| KH Salam dan KH Hamid Pasuruan. |
Oleh : Mohammad Mujab
Kiai Salam, Kajen Pati, Pendiri perguruan Islam Mathali'ul Falah adalah seorang kiai rabbani yang gigih. Seorang kiai yang mengajar ilmu-ilmu dasar untuk anak-anak kecil sebelum mengajarkan ilmu-ilmu besar.
Menurut cerita Kiai Muhammadun, Pondowan, Mbah Salam melarang putra-putra beliau dan santri-santri yang masih muda untuk mengaji kitab Hikam.
Kemungkinan larangan Mbah Salam itu dikarenakan kitab hikam ini tergolong kitab muntahi (kelas tinggi) yang hanya boleh dipelajari oleh orang yang telah selesai dengan dunia. Apabila dikaji oleh santri-santri atau anak-anak muda khawatir akan salah dipahami sehingga dapat meruntuhkan semangat dalam belajar dan berjuang.
Kita tahu, pada masa Mbah Salam hidup adalah masa-masa saat dunia sedang mengalami pergolakan akibat perang PD 1. Orang-Orang Islam tidak boleh kendur semangatnya hanya gegara salah belajar kitab.
Pantangan ngaji kitab Hikam Mbah Salam inilah yang membuat putra-putra dan santri Mbah Salam tumbuh dengan karakter kuat, gigih dan pejuang. Sebut saja dua putra beliau; KH. Mahfudz (ayah KH. Sahal Mahfudz) dan KH. Abdullah Zein (Mbah Dullah).
Kiai Mahfudz adalah seorang dai yang mengobarkan perjuangan melawan penjajahan kolonial belanda. Karena kegigihanya menentang pemerintahan kolonial, akhirnya ayah Kiai Sahal ini ditangkap oleh Belanda. Konon penyergapan itu dilakukan saat beliau berada di daerah sekitar stasiuan Pamotan. Sejak saat itu Kiai Mahfudz tidak diketahui keberadaannya.
Sedangkan Kiai Abdullah Zen (Mbah Dullah), tumbuh sebagai seorang pencari ilmu yang gigih. Setelah belajar kepada ayahnya sendiri dan kepada kiai-kiai Kajen, Mbah Dullah memulai rihlah ilmiyyah ke Tebuireng untuk belajar hadis kepada KH. Hasyim Asy'ari, kemudian melanjutkan menghafalkan al-Qur'an di Madura. Beliau sempat mengaji Kitab Tafsir Munir kepada Kiai Yasir, Jekulo Kudus dan mengambil beberapa aurad. Setelah menikah dan berkeluarga rasa haus beliau akan ilmu tidak pernah berhenti. Beliau melanjutkan mengaji qira'ah sab'ah kepada Kiai Arwani, Kudus dan mengambil baiat Tarekat.
Curicullum Vittae (CV) yang cukup panjang dan melelahkan, berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya, belajar dari satu kiai ke kiai lainnya, menunjukan betapa kuat himmah (tekad) dan perjuangan beliau dalam mencari ilmu. Ini kiranya buah larangan dari Mbah Salam kepada anak-anaknya untuk tidak belajar Hikam di usia dini agar tekad dan semangatnya kuat.
Sebagai seorang kiai Mbah Dullah juga tidak mau berpangku tangan. Hanya duduk mengajar di rumah sambal mengharapkan "bisyarah" Pemberian orang. Beliau bekerja sendiri untuk mengais rizki. Beliau sadar sebagai seorang yang telah berkeluarga beliau berkewajiban memberikan nafkah bagi anak dan istri.
"Aku pernah jualan tembakau," kata Kiai Abdullah kepada santrinya yang sowan.
"Kaji Ma'ruf (pendiri pabrik rokok Jambu Bol) meminjami saya modal untuk kulakan tembakau."
"Lalu saya beli tembakau dari petani dan menimbunnya dalam gudang. Dengan harapan nanti kalau sudah jadi akan saya jual kepada kaji Ma'ruf."
"Ndilalah, tembakau segudang itu ngelaras (Maksudnya daun tembakau tersebut kering tapi kehilangan rasa dan aroma. Seperti daun klaras, daun pisang kering."
"Seandainya rumah dan tanah milik saya ini saya jual, tak cukup untuk melunasi hutang modalnya."
"Saya lalu bilang kepada Kaji Ma'ruf, Bagaimana ini Ji, tembakaunya malah ngelaras?"
" E, nggeh mpun, mbah," Jawab kaji Ma'ruf bermaksud membebaskan hutang.
"Aku jadi lega," pungkas Mbah Dullah mengakhiri cerita.
Mbah Dullah tidak lantas putus asa dan berpangku tangan dengan kebangkrutan itu. Beliau berusaha lagi dengan membuka usaha lainnya. Kali ini beliau memilih jualan Kain Jarit dan batik. Karena, secara hitung-hitungan, komoditas ini tergolong aman dan minim risiko, tidak akan basi seperti tembakau.
Dagangan jarit dan batik ini beliau titipkan kepada para pedagang dan beberapa kenalan beliau. Namun kebanyakan para pedagang yang membawa dagangan beliau tidak kembali lagi dan bahkan banyak tidak membayar. Hal ini membuat usaha Mbah Dullah bangkrut lagi.
Pernah suatu ketika saat sedang hitung-hitungan istri Mbah Dullah mengeluh, "Pye iki leh, nduk, jarite wes entek, tapi gak ana duite?" ujar istri Mbah Dullah dalam dialek Jawa Pati. Maksudnya, bagaimana ini, jaritnya sudah habis, tapi tidak ada uangnya.
Si santriwati yang dipasrahi mengurus dagangan hanya bisa menimpali, "bagaimana tidak habis nyai, wong banyak yang tidak membayar. Banyak juga jarit-jarit yang dikasihkan Mbah pada tamu,"
Mbah Dullah yang mendengar mereka berdua mengeluh hanya tersenyum.
Kebangkrutan demi kebangkrutan inilah yang nampaknya semakin mengasah kepribadian beliau. Menjadi semacam sebab yang mengantarkan beliau dari satu maqam ke maqam yang lebih tinggi. Dari makam kasab (bekerja) ke makam tajrid (tidak bekerja). Suatu konsep profesi hidup yang pernah diulas oleh pengarang Hikam, Ibnu Athaillah dalam kitabnya yang berjudul Isaqatut Tadbir. Hal ini membuat beliau semakin fokus pada dunia pendidikan dan spritual.
Kedudukan tajrid ini bisa kita lihat dari bagaimana Mbah Dullah menyikapi kebangkrutan usahanya dengan memberikan dagangan jarit dan batik tsb kepada tamu-tamunya. Sehingga lahir konsep rizki "Entek - Enthuk" Ala Mbah Dullah: Habiskan yang ada nanti akan datang lagi.
Keadaan spritual Mbah Dullah yang mulai berkilau akhirnya tercium oleh Mbah Hamid, Pasuruan. Seorang Kiai yang kewaliannya mutafaq 'alaih, diakui oleh semua kiai. Mbah Hamid menimbali Mbah Dullah ke Pasuruan dan memerintahkan beliau untuk mulai mengajar Kitab Hikam.
Sebenarnya ini adalah perintah yang berat, mengingat kitab Hikam adalah pantangan ayah beliau, Mbah Salam. Tapi, karena ini perintah Mbah Hamid, beliau pun akhirnya memberanikan diri mengaji kitab Hikam.
Kiai Muhammadun Pondowan, melanjutkan ceritanya; mengapa Mbah Dullah berani membaca kitab Hikam, Kitab yang dulu dilarang oleh ayahnya? kata Kiai Muhammadun, "karena makam kewalian Kiai Hamid lebih tinggi dari makam kewalian Mbah Salam."
Dengan begitu, Mbah Hamid secara resmi telah membaiat Mbah Dullah menjadi seorang wali (kekasih Allah). (*)
