![]() |
| Workshop Penyusunan Body of Knowledge (BoK) Program Studi, Kamis (20/8/2026), di Ruang Rapat Lantai II INISNU Temanggung. |
Temanggung, soearamoeria.com - Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menggelar Workshop Penyusunan Body of Knowledge (BoK) Program Studi, Kamis (20/8/2026), di Ruang Rapat Lantai II INISNU Temanggung.
Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat identitas keilmuan program studi sekaligus memastikan kurikulum memiliki keterkaitan yang kuat antara visi keilmuan, profil lulusan, capaian pembelajaran, bahan kajian, mata kuliah, hingga implementasinya dalam pembelajaran.
Workshop tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan penguatan kompetensi dosen di lingkungan INISNU Temanggung.
Narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Hamidulloh Ibda, S.Pd.I., M.Pd., dengan materi utama mengenai strategi mendesain BoK program studi berbasis paradigma integrasi-kolaborasi atau Takatuful Ulum (Ketupat Ilmu) dan Pancadharma.
Dalam pemaparannya, Hamidulloh menekankan bahwa BoK tidak seharusnya dipahami hanya sebagai daftar mata kuliah atau kumpulan materi yang harus diajarkan. BoK merupakan struktur pengetahuan yang menjadi fondasi identitas akademik sebuah program studi.
“BoK adalah kumpulan struktur taksonomi, konsep, prinsip, dan praktik terbaik yang disepakati secara formal oleh komunitas akademik atau profesional dalam suatu disiplin ilmu. Karena itu, BoK harus mampu menunjukkan identitas, batasan, struktur, sekaligus arah perkembangan keilmuan sebuah program studi,” jelasnya dalam materi workshop.
Menurut materi workshop, BoK memiliki fungsi strategis sebagai fondasi ontologis dan epistemologis, sintesis struktur pengetahuan, basis konstruksi kurikulum, sekaligus kerangka integrasi-kolaborasi yang membedakan domain keilmuan utama program studi dengan disiplin pendukung maupun irisan ilmu lainnya.
Ibda mendorong program studi di lingkungan INISNU Temanggung untuk tidak menjadikan BoK sebagai dokumen administratif semata. BoK harus menjadi “kompas” pengembangan akademik program studi.
Ia mengajak peserta melakukan refleksi kritis: apakah program studi telah memiliki BoK yang distingtif, atau masih mengadopsi sebagian besar struktur keilmuan dari asosiasi program studi. Pertanyaan lain yang diangkat adalah sejauh mana nilai Keaswajaan, Ke-NU-an, dan paradigma kolaborasi keilmuan benar-benar masuk ke materi pembelajaran dan asesmen, bukan sekadar tercantum dalam visi, misi, atau nama mata kuliah institusional.
“Setiap mata kuliah harus mempunyai reason for being. Artinya, harus ada alasan akademik mengapa mata kuliah tersebut berada dalam struktur kurikulum. Jangan sampai mata kuliah muncul hanya karena memenuhi kuota SKS atau kepentingan administratif tertentu,” tegasnya.
Menurutnya, keberadaan BoK juga harus dapat ditelusuri sampai pada penelitian dosen, skripsi mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan keahlian program studi.
Dengan demikian, BoK tidak hanya menjawab apa yang diajarkan, tetapi juga mengarahkan bagaimana ilmu dikembangkan, diajarkan, diproduksi, dan dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
Workshop tersebut juga membahas empat komponen pengembangan BoK yang dirumuskan dalam model yang digunakan dalam materi, yakni What to Teach, How to Teach, How to Educate and Discipline, dan How to Produce Knowledge.
Model tersebut dalam materi workshop merujuk pada kajian Eva Latipah, Noorhaidi Hasan, dan Mohamad Agung Rokhimawan berjudul Curriculum Reconstruction: Alignment of Profile, Body of Knowledge, and Learning Outcomes of the Indonesian Islamic Education Study Program, yang diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan Agama Islam Volume 20 Nomor 1 Tahun 2023.
Keempat komponen itu kemudian diterjemahkan secara lebih operasional dalam pengembangan kurikulum. Artinya, program studi harus mampu menentukan substansi ilmu yang menjadi identitasnya, strategi pembelajaran yang sesuai, proses pembentukan karakter dan kedisiplinan akademik, serta mekanisme produksi pengetahuan melalui penelitian dan aktivitas akademik lainnya.
Salah satu titik tekan workshop adalah bagaimana nilai-nilai Keaswajaan dan Ke-NU-an tidak berhenti sebagai “mata kuliah tempelan”, tetapi menjadi bagian substantif dari struktur keilmuan.
Dalam materi disebutkan bahwa integrasi tersebut dapat dilakukan melalui tiga level. Pertama, level aksiologis, yakni nilai Aswaja menjadi panduan etis, moral, dan tanggung jawab sosial dalam pengembangan ilmu.
Kedua, level epistemologis, yakni fikrah Nahdliyah digunakan sebagai pendekatan analisis, pemecahan masalah, dan penelitian.
Ketiga, level ontologis, yakni realitas masyarakat, kearifan lokal, dan tradisi Ke-NU-an/Keaswajaan dapat menjadi objek material maupun kasus dalam kajian keilmuan.
“Kalau nilai Aswaja dan Ke-NU-an hanya ditempatkan di mata kuliah tertentu, sementara mata kuliah lain berjalan dengan paradigma yang sepenuhnya terpisah, maka integrasinya belum substantif. Yang dibutuhkan adalah integrasi pada level paradigma, metodologi, substansi, dan orientasi pemanfaatan ilmu,” paparnya.
Workshop juga memperkenalkan Paradigma Ketupat Ilmu sebagai model integrasi-kolaborasi yang dikembangkan INISNU Temanggung.
Dalam materi disebutkan, paradigma tersebut juga disebut collaboration of science, kolaborasi keilmuan, atau Takatuful Ulum. Metafora ketupat digunakan untuk menggambarkan proses “menganyam ilmu”, yakni mempertemukan berbagai disiplin dan metodologi untuk menghasilkan konstruksi keilmuan yang lebih utuh.
Paradigma tersebut dibangun melalui dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Pada sisi epistemologis, materi memadukan berbagai metodologi Islam, seperti metode rasional, intuitif, dialogis, komparatif, dan kritik, dengan berbagai pendekatan metodologis Barat. Tujuannya adalah membangun pembaruan ilmu melalui proses integratif-kolaboratif.
Dalam konteks INISNU, integrasi-kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghubungkan ilmu agama, sains, ilmu sosial, teknologi, pendidikan, dan bidang keilmuan lainnya tanpa menghilangkan karakter dan batas masing-masing disiplin.
Workshop juga menempatkan BoK sebagai instrumen penting untuk membangun distingsi program studi. Program studi didorong untuk tidak sekadar mengikuti struktur kurikulum program studi sejenis, tetapi melakukan pemetaan terhadap keunggulan lokal, kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta lanskap kompetitor.
Materi workshop menyebut beberapa strategi, antara lain identifikasi rekam jejak regional, evaluasi lanskap kompetitor, integrasi core values, serta penerapan double movement untuk mengawinkan isu saintifik dan teknologi kontemporer dengan nilai etika dan keagamaan.
Dengan pendekatan tersebut, program studi dapat mengembangkan keunggulan yang lebih spesifik, misalnya melalui integrasi AI dan pendidikan, ethno-STEAM, ekopedagogi, literasi digital, teacherpreneurship, maupun isu-isu keilmuan kontemporer lainnya.
“Distingsi tidak cukup hanya ditulis dalam visi keilmuan. Ia harus terlihat dalam BoK, kurikulum, mata kuliah penciri, tema penelitian, produk inovasi, kompetensi lulusan, hingga kontribusi program studi kepada masyarakat,” ujarnya.
Bagian penting lainnya adalah bagaimana BoK diterjemahkan ke dalam struktur kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE).
Dalam model yang dipaparkan, struktur BoK dimulai dari visi keilmuan dan CPL, kemudian diturunkan menjadi domain dan subdomain BoK, peta bahan kajian, matriks integrasi BoK ke mata kuliah, serta standar pembelajaran, asesmen, dan laboratorium.
Pemetaan tersebut dianalogikan sebagai sebuah pohon keilmuan. Akar merupakan visi keilmuan dan CPL; batang utama merupakan core BoK; dahan dan cabang merupakan supporting dan emerging BoK; ranting dan daun merupakan bahan kajian serta mata kuliah; sedangkan buah menggambarkan lulusan yang kompeten dan berkualitas.
Analogi ini menegaskan bahwa mata kuliah merupakan bagian paling operasional dari struktur keilmuan. Karena itu, perubahan atau penambahan mata kuliah seharusnya memiliki keterkaitan yang jelas dengan struktur BoK dan kebutuhan pencapaian profil lulusan.
Lebih jauh, workshop menegaskan bahwa BoK harus memiliki keterlacakan sampai ke Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Dalam pendekatan OBE, BoK diturunkan menjadi Bahan Kajian, CPL, CPMK, Sub-CPMK, materi pembelajaran, aktivitas belajar, dan asesmen. Setiap RPS harus memperlihatkan hubungan yang jelas antara identitas keilmuan program studi, capaian lulusan, capaian mata kuliah, pengalaman belajar, dan bukti capaian.
Bahkan, implementasinya tidak berhenti pada penyusunan RPS. Hasil asesmen digunakan kembali untuk mengevaluasi ketercapaian CPL dan menjadi dasar perbaikan RPS, bahan kajian, materi, serta metode pembelajaran melalui mekanisme Continuous Quality Improvement (CQI).
Alur pengembangan kurikulum menjadi lebih utuh: BoK → Bahan Kajian → CPL → CPMK → Sub-CPMK → Materi → Aktivitas Pembelajaran → Asesmen → Bukti Capaian → Evaluasi/CQI.
Workshop ini sekaligus menempatkan pengembangan BoK sebagai bagian dari agenda penguatan mutu akademik INISNU Temanggung. Secara regulatif, materi workshop mengacu antara lain pada UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, KKNI, SPMI, serta regulasi terbaru mengenai penjaminan mutu pendidikan tinggi, termasuk Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 dan Permendiktisaintek Nomor 10 Tahun 2026.
Melalui penguatan BoK, setiap program studi diharapkan memiliki peta keilmuan yang lebih jelas, kurikulum yang relevan, distingsi yang kuat, serta keterhubungan antara pendidikan-pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, penguatan kaderisasi NU, dan pengembangan peradaban Islam.
Pada akhirnya, BoK diharapkan tidak menjadi sekadar dokumen kurikulum, melainkan kompas akademik program studi yang menentukan arah pembelajaran, penelitian, pengabdian, inovasi, dan pengembangan lulusan.
Bagi INISNU Temanggung, langkah tersebut menjadi penting untuk memastikan identitas sebagai perguruan tinggi Islam berbasis Aswaja An-Nahdliyah dan Keindonesiaan tidak hanya hadir dalam narasi kelembagaan, tetapi benar-benar terwujud dalam struktur dan praktik keilmuan setiap program studi. (ah)
