Jual Madu “Tabarrukan”, Sebulan Kantongi Omzet 20 Juta - Soeara Moeria

Breaking

Wednesday, 25 November 2020

Jual Madu “Tabarrukan”, Sebulan Kantongi Omzet 20 Juta

Rohim (32) menunjukkan madu yang dijualnya. 

Pati – Madu “Tabarrukan” yang dijual M. Abdul Rahim (32) sejak tahun 2016 saat ini sudah mulai meraih hasilnya. Per bulan ia sudah bisa mengantongi omzet 10-20 juta. Seperti apa kisahnya?


Rohim begitu pria itu akrab disapa menceritakan awal mula ia berjualan madu. Empat tahun yang lalu bersama istrinya jualan baju di ruko Kompleks Makam Mbah Mutamakkin Kajen Pati. Selain jualan produk fashion dirinya juga berkeingingan untuk menyediakan madu untuk peziarah. 


“Dulu saya dikasih saran temen untuk jual madu. Disuruh langsung jual sebab produk, harga, dan trik penjualan sudah dikasih tahu teman saya itu,” katanya mengawali cerita jualan madu. 


Karena tertarik Rohim pun akhirnya membeli lewat temannya itu. Setelah menemukan produk yang dijual madu yang diberi brand “Tabarrukan” ini dipajang di etalase toko. Selain itu dishare di media sosial facebook juga via inbok teman-teman sekolah maupun kuliah.  


“Waktu itu strateginya tak anter sampai rumah meskipun pesan cuma satu botol. Saat mau anter biasanya saya menghubungi teman-teman yang rumahnya atau daerahnya saya lewati dan saya janjikan diskon. Alhamdulillah banyak yang mau nyoba,” lanjut pria kelahiran Pati, 18 Desember 1988 ini. 


Ia juga ingat kali pertama mengantar pesanan. Ada 9 botol madu yang diantarnya dari Kayen Pati hingga Undaan Kudus. Lambat laun saat usahanya itu ditekuninya sampai sekarang pelanggan sudah mulai berdatangan. Apalagi ia yang berdomisili di Desa Ngemplak Kidul Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati ini sudah punya reseller yang jumlahnya 40 orang lebih. 


Madu "Tabarrukan" dalam kemasan botol kaca. (Dok. pribadi)

“Setiap hari InsyaAllah ada pesanan. Biasanya saya anter ketika pesanan sudah banyak. Pada Sabtu atau Minggu saya anter madu-madu pesanan reseller,” tambah Rohim.


Suami Asnunik (31) ini mengaku 4 tahun menekuni jual beli madu ia tidak ternak lebah sendiri melainkan beli langsung dari petani. “Karena tidak punya ilmunya. Risikonya juga terlalu besar karena biaya ternak lebah lumayan mahal tempat juga gak punya,” tambahnya. 


Meski demikian dirinya tetap bisa jual madu dengan harga yang bersaing. Beberapa jenis madu yang dijualnya di antaranya madu australi/ternak harganya kisaran Rp15.000-85.000, madu liar (madu jowo) mulai Rp25.000 – 135.000, Klanceng mulai Rp40.000 – 250.000, dan madu hitam pahit Rp250.000. 


Ditanya alasan berjualan madu, anak kedua dari empat bersaudara pasangan H. M. Syu'aib, Hj. Sulastri ini mengemukakan tujuan awalnya untuk mencari tambahan rezeki. “Tetapi seiring berjalannya waktu, niatnya berubah untuk membantu mempermudah teman-teman yang ingin jualan madu tetapi tidak tahu di mana cari harga yang mede dan tidak tahu kualitas madu. Jadi biar mereka tidak kebingungan seperti awal-awal saya jualan madu,” akunya. 


Pria yang memiliki motto “Hidup ini hanya sekadar menjalani. Semakin banyak kebaikan yang kita tebar maka semakin banyak kebaikan yang akan kita tuai” itu berharap jualan madunya semakin berkembang. Sehingga bisa menghidupi istri dan dua anaknya Aufa Layali Nayyiroh dan Ahmad Farih Fitriyan. (sm)

No comments:

Post a comment