Hakikat Puasa di Tengah Pandemi - Soeara Moeria

Breaking

Thursday, 21 May 2020

Hakikat Puasa di Tengah Pandemi

Ilustrasi : liputan6.com
Oleh : Muhamad Lutfi, Guru MAN II Tapin

Bagi umat Islam, bulan Ramadan merupakan bulan yang sangat dinanti.  Di bulan ini umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh. Ramadan juga menjadi bulan di bukanya pintu-pintu rahmat Allah dan dilipatgandakannya pahala agar umat Islam lebih bersemangat untuk melaksanakan ibadah, baik yang wajib maupun sunnah untuk mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah swt.

Tahun ini dunia sedang dihebohkan dengan adanya virus covid-19 yang menyerang hampir di seluruh belahan dunia. Di Indonesia sendiri, virus ini terkonfirmasi sejak awal Februari 2020. Meskipun pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk menangani virus Covid-19, pada faktanya pergerakan kasus virus covid-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan. Hal ini secara tidak langsung berdampak besar pada beragam aspek kehidupan bermasyarakat, baik ekonomi, sosial, pendidikan, meupun aktivitas keagamaan. Dari dampak tersebut tentu membuat Islam mau tidak mau harus melaksanakan ibadah puasa di Bulan Ramadan tahun ini di tengah ancaman wabah Covid-19.

Ramadhan identik dengan puasa, karena pada momen ini umat Islam diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh. Puasa atau “As-Shiyam” mempunyai arti yang sama dengan “Al-Imsak” yang berarti menahan. Namun ada beberapa di antara kita yang salah mengartikannya bahwa puasa hanya menahan diri dari makan dan minum saja. Ironis memang,  ketika puasa hanya dipahami dengan menahan dari makan dan minum semata. Padahal sejatinya puasa itu menahan diri kita dari sesuatu yang lebih besar dan lebih berat yaitu menahan diri kita dari hawa nafsu.

Pada masa pandemi ini kita dituntut untuk di rumah saja untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Keadaan ini tentunya membuat ramadan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, seperti tidak adanya suasana buka bersama, sahur on the road, tarawih keliling, ngabuburit menjelang berbuka dan agenda-agenda lainnya.

Hakikat puasa kita tahun ini memang benar-benar diuji, apakah kita mampu untuk “imsaak” atau menahan diri kita dari hawa nafsu saat menjalankan ibadah puasa atau malah sebaliknya justru melaksanakan hal-hal tidak penting lainnya seperti nongkrong, ngabuburit dan lain-lain.

Selain itu, kita juga harus bisa menahan diri dari kebiasaan membelanjakan sebagian harta kita dari sesuatu yang tidak penting untuk ditabung dan disedekahkan kepada mereka yang kena dampak pandemi covid-19. Oleh karena itu bulan ramadhan kali ini mari kita jadikan momentum untuk menjaga diri kita dari hawa nafsu dan memaknai hakikat puasa secara baik dan benar. (*)

No comments:

Post a comment