Toleransi Tebalkan Aqidah Bukan Perbedaan - Soeara Moeria

Breaking

Saturday, 11 January 2020

Toleransi Tebalkan Aqidah Bukan Perbedaan

Khoirotun Nisak
Oleh : Khoirotun Nisak, mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang

Indonesia kaya akan kebudayaan, ras, suku ataupun agama yang beragam. Dari Sabang sampai Merauke setiap jengkal daerah memiliki ciri khas tersendiri. Perihal keanekaragaman, Indonesia mengesahkan 6 agama didalamnya; Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghucu. Warga Indonesia hidup saling berdampingan dan berdekatan. Tempat peribadahan terbangun kokoh di seluruh penjuru daerah dengan ciri khas dan karakteristik masing-masing, kesatuan dan kedamaian tersebut adalah wujud dari ditegakkannya Pancasila.

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, Indonesia dengan Pancasila telah memberikan Guidance atau bimbingan soal relasi agama dan negara secara universal atau menyeluruh. Artinya secara eksplisit maupun implisit, Pancasila memang telah dirancang oleh The Founding Father untuk mengakomodir segala problematika dan keberlangsungan hidup agama-agama di Indonesia dalam kaitannya dengan kebangsaan dan kenegaraan, baik di masa lampau maupun kebutuhan saat ini dan ke depan. Berbicara mengenai Pancasila selalu ada keterkaitan dengan agama, seusai sila pertama; Ketuhana Yang Maha Esa. Semua agama di Indonesia menjunjung tinggi toleransi; terutama Islam, agama dengan penganut terbesar di Indonesia maupun di dunia.

Pada tanggal 29 Mei 2019, Indonesia menjadi inspirasi toleransi beragama dan multikulturalisme bagi Jerman. Pembicara dari seminar ini menyatakan bahwa Islam Indonesia di lhami oleh 4 pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika. Pancasila merupakan Platform dan Integrating force dari keberagaman yang dimiliki Indonesia. Dari sini dapat disimpulkan walaupun Islam mempunyai hukum Al-quran dan As-sunnah, warga Indonesia tetaplah menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, karena pada dasarnya sila-sila Pancasila ada keterikaitan dengan al-Qur’an maupun As-Sunnah. Islam Indonesia mencerminkan dua sumber hukum sekaligus, Al-Qur’an maupun Pancasila.

Kepala departemen Bidang Urusan Agama, Kementrian Luar Negeri Jerman, Dubes Volker Berresheim saat membuka seminar menyebutkan bahwa konsep Islam  yang berkembang di Indonesia menjadi inspirasi bagi Jerman. Menurutnya, konsep Islam Indonesia ini dapat menjadi alternatif untuk mengimbangi dominasi konsep Islam dari etnis tertentu yang saat ini berkembang di Jerman. Dari sini kita dapat memahami bahwa warga muslim Indonesia mempunyai toleran yang tinggi, sebab tentang keberagamaan yang bernilai pada sila pertama Pancasila akan tersambung kepada sila lain, kemanusiaan yang adil dan beradab. Kemanusiaan beradab adalah tidak saling mengganggu tatkala saudara yang berbeda aqidah atau keyakinan menjalankan ibadahnya sesuai kepercayaan. Nilai moral ini akan sambung dengan sila ketiga, yakni Persatuan Indonesia. Ketika semua warga Indonesa telah bermoral dan beretika yang baik, tidak ada diskriminasi, Indonesia akan tetap bersatu tanpa ada permusuhan.

Kembali ke sejarah Islam pada masa lampau di bumi Nusantara. Sebelum kedatangan Islam, penduduk Nusantara atau Indonesia sudah mayoritas Hindu maupun Budha. Islam tidak serta masuk dengan menyingkirkan agama-agama yang telah ada. Para pedagang yang menyebarkan agama Islam tetap mempertahankan budaya yang ada di Nusantara, meskipun itu adalah tradisi dari umat beragama lain. Mereka saling menghormati dan menghargai dari masing-masing tradisi ataupun dalam hal kepercayaan.

K.H. Abdurrahman Wahid atau yang kerap dipanggil dengan Gus dur mengatakan Belajar Aqidah (keyakinan) itu biar keyakinan kuat dan bisa hidup nyaman dengan beda iman, bukan malah mempertebal perbedaan. Dengan perbedaan, kita saling memahami apa atau bagaimana orang lain dengan pendapatnya, tradisinya atau bahkan kepercayaannya. Perbedaanlah yang menyatukan perorangan maupun golongan untuk mewujudkan lingkungan yang bewarna. Oleh karena itu, selama hidup di Indonesia dan berdarah Indonesia kemanapun nilai pancasila terutama toleransi harus tetap terjaga dan tetap menjadi pedoman hidup. Jikalau ada orang atau kelompok yang ingin merubah Pancasila, kita harus bertindak tegas karena Pancasila dan nilai Pancasila tidak ada yang bertentangan dengan kitab suci masing-masing agama yang ada di indonesia. Indonesia rumah kami, Ideologi Pancasila pegangan kami.

No comments:

Post a comment