Represi Pemerintahan dan Resistensi Mahasiswa - Soeara Moeria

Breaking

Kamis, 16 Januari 2020

Represi Pemerintahan dan Resistensi Mahasiswa

Yon Batuatas
Oleh : Yon Batuatas, mahasiswi Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Islam Malang

Dengan beragam pradigma melalui persoalan – persoalan yang mengekang dan menciut beberapa waktu yang lalu terkait masalah pengesahan revisi  UU KPK dan KUHP yang telah mengkonstatir pemberlakuan segala kebijakan perundangan – undangan yang sealama ini telah berlangsung dalam normalisasi kebirokrasian, perlu diketahui dengan gejolak resonansi yang berimplikasi pada keakraban berwarga Negara sangat memprihatinkan ketidakberdayaan terobosan upaya pemerintah ini . penguatan yang direalisasi terkait masalah pengkebirian pemerintah terhadap KPK dan perubahan KUHP yang di sinyalir akan merugikan pihak lain.

Kendatinya sangat menghebohkan dunia keilmiahan lebih khususnya para aktivis mahasiswa yang mengisi pos – pos kosong sebagai gerakan oposisi serta resistensi akibat upaya pemberlakuan penerapan peraturan perundang – undangan yang telah menghegemoni, sehingga mendorong peran mahasiswa untuk mengaktifkan standarisasi pesan konstitusi mengenai demokrasi sebelum pengukuhan proses masalah yang terjadi ini sampai pada pangkalnya yakni legitimasi dan aklamasi, serempak gerakan mahasiswa se – Indonesia dalam upaya perlawanan kepada pemerintahan menimbulkan kontradiksi dan stigmatisasi terhadap pemerintah yang dimana terlalu logosentris dan monolitics. oposisi yang di isi oleh mahasiswa bukan karena memahami kelayakan dan proposisinya tetapi karena polarisasi yang tidak praktis sejatinya fungsional kelembagaan KPK hilang dan perubahan serta penambahan  kandungan KUHP yang tercabik.

Sehingga, berakibat fatal terhadap kerentanan kesenjangan masyarakat pada umumnya. Dengan mendekonstruksi peran situasional yang dapat membangun keaktifan demokrasi mahasiswa menunjukan kemilitanannya dengan progress kontribusi menjawab tantangan yang telah menghegemoni karena masalah integral perihal pemerintah yang terlalu merongrong semua aspek dari praksis social sampai pada praksis komunikasi. Menurut ringkas peristiwa apakah wajar kearifan birokrasi selalu mutlak dalam pemberlakuan peran eksekutif? Ketidaktahuan yang lebih mendalam oleh kaum buruh dan para awam menjadikan keberagaman pro kontra mengenai konflik ini diharapkan tidak ada yang menunggangi kepentingan yang terselubung karena akan memperparah kualitas Negara dalam usaha melanggengkan standar operasional prosedur untuk melanjutkan hak dari pesan konstitusional.

Bebrapa universitas dengan sejawatnya merehabilitasi pembaharuan yang sudah lama vakum. Maka, mahasiswa dari beragam kalangan yang terbagi meliputi akademisi dan organisatoris yang membungkam segala praksis yang di berlakukan oleh pemerintahan sangat mengecewakan dan bersedih. Saya selaku penulis karena upaya mahasiswa yang kian aktif dalam memberikan perlawanan bukan sekedar eksistensi tetapi hal yang paling fundamental realitanya tidak berujung dengan semestinya. Perlawanan yang tidak akan terbantahkan dengan segala unsur sudut pandang dapat dimaknai dengan segala pembuktian bahwasanya segala konflik yang diharapkan tertuju konsensus akhirnya dipecahkan dengan saksama.

Cenderung pemerintah telah menunjukan represi dengan kemapanan penerapan yang telah direncanakan tidak bisa diganggu gugat. Kelanggengan yang sebenar - benarnya dalam merampung kebenaran sangatlah arif dan baik. Mahasiswa telah dibugkam dengan bertolak pada sikap eksekutif yang mumpuni dalam mengelolah dan mengatur segala tatanan kebijakan yang dijalankan. Disesalkan dengan kenyataan yang terjadi bersifat implicit membatasi ruang gerak dalam berdemokrasi ketidakpastian dan canggung membuaut rasa pesimisme masyarakat bahwa majenun oleh para pemangku kebijakan telah mengkonstatir semuanya. Monopoli kebenaran biasanya bersumber dari logosentrisme yaitu suatu ikhtiar untuk memperoleh pengetahuan atau berpengetahuan yang sayangnya terlalu dipusatkan dan diseragamkan.

Penciptaan citra merupakan bagian integral dari kenyataan sejarah bahwa setiap pemikiran selalu berusaha menjadi dominan. Caranya adalah dengan melakukan represi dan hegemoni. Menurut Gramsci “ide – ide dominan menjadi penentu keberhasilan seseorang atau kelas tertentu dalam pertarungan kekuasaan.” Jadi keterbantahan gerakan social oleh para mahasiswa perihal untuk mewujudkan kemaslahatan tidak bisa menghardik. Tetapi hanya sekedar perlawanan yakni ide ide itu selalu dikendalikan oleh kekuasaan dan selalu menghegemoni. Saya dengan penuh ketegasan selaku penulis berujar atas kesan yang meringkas sejatinya bahwasnya ide itu selalu ditentukan oleh materi. Framing yang dibangun bagian dari ide selayaknya materi dari kegiatan social mendorong keputusan pemangku kenijakan dengan gampangnya mendominasi kesemuanya. Bukan terpaut dengan keberadaan tetapi kebenaran tidak akan pernah dipertahankan dan dikultuskan. Sebab, yang mampu melanggengkan dan merapikan kebohongan yang dianggap benar selalu dipegang oleh kekuasaan. Mungkin demi kesenjangan dan pemberdayaan kepentingan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar