Teatrikal Ratu Kalinyamat, Meneladani Semangat dan Keberanian Sang Ratu - Soeara Moeria

Breaking

Monday, 29 July 2019

Teatrikal Ratu Kalinyamat, Meneladani Semangat dan Keberanian Sang Ratu

Arya Penangsang terbunuh. (Dok. Lembayung)
Jepara, soearamoeria.com -  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia memberikan fasilitasi kegiatan kesenian untuk Yayasan Lembayung Kalinyamatan (Yaleka). Fasilitasi itu kemudian dilaksanakan dengan Kirab Budaya Baratan 2019; Teatrikal Ratu Kalinyamat yang dipusatkan di Panggung Alit Desa Langon Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara, Sabtu (27/7/2019) lalu.

Sukses menyelenggarakan Pesta Baratan tahun 2019 di Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Yaleka kembali mementaskan Teatrikal Ratu Kalinyamat “Narasi Kalinyamat” di Panggung Alit yang dikelola budayawan Jepara, Ramatyan Sarjono.

Sutradara Teatrikal, Asyari Muhammad mengatakan pentas berdurasi satu jaman itu berkisah tentang pertapaan laku tapa sinjang rikma atau tapa wuda yang dilakukan Ratu Kalinyamat untuk melepaskan baju kebesaran dan emas permata gemerlap duniawi dan mendekatkan diri terhadap Tuhan yang Maha Esa.

Di samping itu juga, lanjutnya untuk mencari keadilan. Tersebab kekasih yang dicintainya Sultan Hadlirin dan kakaknya Sunan Prawoto telah dibunuh Aryo Penangsang. “Dari kebengisan itulah Ratu Kalinyamat prihatin dan meninggalkan kerajaan Kalinyamat dan bertapa di Gunung Donorojo. Beliau tidak akan mengakhiri pertapaannya sebelum keramas darahnya Aryo Penangsang. Alhasil Aryo Penangsang dapat ditaklukkan Sutowijoyo.” tambah Asyari. 

Tari-tarian khas Baratan. (Dok. Lembaynng)
Dalam pementasan dimeriahkan 100 pemain yang terdiri sapu jagad, wali kutub, ratu dan dayang, penabur bunga, penari lampion/impes, puli, obor, dan empluk. Sosok Ratu Kalinyamat, Adipati Hadiwijiyo, Sutowijoyo, Aryo Penangsang dan Pekatik hadir dalam pentas dan kelompok musik “Warna Warni” menjadikan pementasan itu menyedot warga sekitar untuk turut menyaksikan.

Ditanya tentang nilai yang disampaikan kepada masyarakat, Asyari yang juga guru seni budaya di MTs Roudlotul Mubtadiin Balekambang Nalumsari Jepara itu menekankan bahwa hutang nyawa dibalas nyawa artinya jika tidak mau disakiti maka janganlah menyakiti orang lain, dan berbuatlah kebaikan untuk keluarga atau pun masyarakat.

Sebagai pegiat budaya ia mengajak kepada masyarakat untuk meneladani semangat dan keberanian Sang Ratu dalam mewujudkan cita-cita, budi luhur, dan menjaga hati serta pikiran untuk kebaikan bersama.

Hadir dalam kegiatan Dirjen Kesenian dan Kebudayaan Kemendikbud RI Fitri, Kabid Kebudayaan Disparbud Jepara Agus Nur Slamet, Kabid SD Dikpora Amin Ahayudi, Ketua Yayasan Jungpara Ramatyan Sarjono, Petinggi Langon Santoso, dan masyarakat umum.

Ratu bersama dayang menarikan tari khas Baratan.
Dalam kegiatan yang juga dimeriahkan pentas Kentrung dan wayang Kancil, Ketua Yaleka, Winahyu Widayati mengemukakan Pesta Baratan bagi masyarakat Jepara sudah tidak dan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Sehingga, sejak tahun 2004 hingga sekarang konsisten menyelenggarakan kegiatan yang dilaksanakan jelang Ramadhan tersebut.

“Tahun ini salah satu komunitas di Jepara, Lembayung mendapatkan fasilitasi dari Kemendikbud. Sehingga kita menggelar di Kecamatan lain yaitu di Desa Langon Kecamatan Tahunan,” jelasnya.

Pihaknya berharap melalui Pesta Baratan yang masih diuri-uri hingga sekarang adalah bagian dari menjaga kearifan lokal Jepara. “Semoga kita bisa konsisten menyelenggarakannya tiap tahun,” pungkasnya. (sm)

No comments:

Post a comment