Eksistensi Organisasi Daerah Jepara di Yogyakarta - Soeara Moeria

Breaking

Tuesday, 14 May 2019

Eksistensi Organisasi Daerah Jepara di Yogyakarta

Misbahul Ulum. (Foto: Dok. Pribadi)
MASKARA dalam Catatan Kecil di Tahun 2000 an

Oleh : Misbahul Ulum

Maskara adalah sebuah organisasi kedaerahan (orda) sebagai wadah berkumpul mahasiswa berasal dari kabupaten Jepara yang sedang melakukan studi di  UIN (dahulu bernama IAIN_red.) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ghirah belajar yang kuat serta merasa senasib (sesama orang rantau) menjadi pemantik untuk membentuk satu organisasi. 

Dekade akhir 90 an hingga awal 2000 an orda Jepara yang ada di berbagai kota besar seperti Yogyakarta, Jakarta, Malang dan Semarang mengalami puncak kejayaan. Saat itu, orda Jepara berperan sebagai wadah berkumpulnya mahasiswa asal kota ukir yang menimba ilmu di pelbagai daerah. Visi-misinya menjadi ajang silaturahmi dan edukasi dalam mengembangkan daya intelektual serta turut seta dalam membangun daerah asal, Jepara Bumi Kartini.

Lebih dari itu, keberadaannya sebagai agent of controlling (pengawas) terhadap kebijakan pemerintah. Berbagai kebijakan yang anti-rakyat kerap dibendung dengan komentar (pernyataan) di media. Aksi turun ke jalan serta audiensi menjadi sarana tatap muka aktivis orda dengan para pejabat.

Tidak terkecuali di pertengahan tahun 2000, mahasiswa IAIN Suka yang berasal dari lintas daerah di kabupaten Jepara mulai melakukan gerakan masif untuk menggagas berdirinya saru organisasi kedaerahan Jepara. Sebuah usaha lanjutan dari upaya yang telah dilakukan sejak tahun 1997. 

Ejawentah usaha tersebut mulai dari kumpul-kumpul di kos, Lembah Adab, Kompa (koperasi mahasiswa), Tangga Demokrasi Kampus Putih (depan Masjid IAIN), silaturrahmi (ndolani) kos-kos mahasiswa Jepara, serta membuka Stand Makrab mahasiswa baru pada akhir tahun 2000, hingga terselenggaranya Makrab sekaligus pembentukan secara resmi Maskara pada awal tahun 2001 di Kaliurang Sleman Yogyakarta.

Maskara menjadi fenomena orda lokal dalam arus uforia reformasi pada sekup nasional. Maskara dengan keberagaman anggotanya (istilah berubah menjadi warga seiring penggantian istilah konggres menjadi musywar pada konggres I tahun 2001), dari aktivis organisasi intra-ekstra kampus, aktivis organisasi pergerakan, seniman sampai pada pejabat birokrat kampus ikut aktif dalam organisasi yang baru seumur jagung tersebut.

Padahal jika kita amati perjalanan organisasi kedaerahan lainnya sejak tahun 2005 aktivitas-aktivitas orda yang dulunya begitu membumi mulai saat itu pula mengalami stagnasi (kemandegan). Menurut penulis hal terbut disebabkan  oleh beberapa hal sebagai berikut:

Lemahnya militansi, totalitas dan loyalitas. Nguri-nguri orda boleh dikata menjadi urutan kesekian. Artinya, lebih banyak mahasiswa asal daerah yang lebih memilih aktif di intra maupun ekstra kampus. Dengan banyaknya mahasiswa yang mengikuti kegiatan di luar orda,  berakibat banyak pula melupakan orda. Hal itulah yang menjadi penyebab militansi, totalitas serta loyalitas terhadap organisasi mengalami degradasi.

Jauhnya akses daerah. Aktivis orda yang sedang menimba ilmu di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Solo, Malang dan sekitarnya terbentur dengan jauhnya akses terhadap daerah. Imbasnya, kegiatan yang diperuntukkan untuk membangun daerah minimal hanya dilakukan setahun, sekali hingga dua agenda saja. Selebihnya kegiatan-kegiatan hanya bisa difokuskan di wilayah kampus. 

Minimnya pendanaan. Ide-ide kreatif aktivis orda barangkali akan mandeg manakala tidak ada pendanaan. Sebab, pendanaan menjadi penopang keberhasilan kegiatan.

Maskara, tidak lantas terjebak pada suasana kejumudan organisasi kedaerahan Jepara yang secara umum terjadi di pelbagai kota. Walaupun Maskara hanya sebagai organisasi lokal dengan garis teritori IAIN Suka dan kabupaten Jepara, namun Maskara telah dipersiapkan untuk berwawasan nasional dan global. 

Hal tersebut nampak pada AD/ ART organisasi, yaitu pada macam/ jenis keanggotaan yang mengakomodir mahasiswa selain IAIN Suka (warga luar biasa), sampai pada sedulur-sedulur mahasiswa yang berasal dari luar Jepara (warga istimewa) tercatat mahasiswa dari Medan, Kalimantan, Lampung, Palembang, NTB-NTT, Bali, Nganjuk, Kediri, bahkan mahasiswa dari Thailand dan Malaysia pernah aktif di Maskara.

Ikhtiar lain dalam upaya melanggengkan orda Jepara, Maskara mengaktifkan kegiatan di luar bidang keorganisasian seperti: bidang seni-budaya terbentuk Group Rebana EL NIDA’ Maskara, bidang olahraga terbentuk Team Sepak Bola dan Futsal Maskara, serta mengadakan kegiatan tahunan di Jepara. 

Tercatat kegiatan yang pernah diselenggaran di Jepara adalah Baksos (2002, 2003 dan 2004), Try Out Ujian Nasional SMA/ SMK/ MA se-Jepara (2002) bersama-sama dengan orda Jepara lain dalam wadah Aliansi Mahasiswa Jepara Yogyakarta AMJY, Pekan Peduli Pendidikan (2005), Istighosah Kubro Masyarakat Jepara (2005), Relawan Gempa Jogja (2006), Aksi Solidaritas Erupsi Merapi (2010), mudik bersama serta halal bi halal pada setiap tahun dan lain sebagainya.

Tulisan ini akan mencoba mengurai gerak langkah organisasi (awal tahun 2000 an). Karena terbatasnya sumber dan data maka selayaknya tulisan ini hanya menjadi pintu pembuka gerbang penulisan sejarah Maskara yang lebih lengkap, disertai dengan data dan sumber yang valid. 

Oleh karena itu, tulisan ini hanya mengangkat seorang tokoh (ketua Maskara) di masa pra dan awal pembentukan organisasi, ditulis dalam bentuk deskriptif dengan narasi bebas, data dan peristiwa hasil dari wawancara dan pengamatan langsung penulis, serta sebatas penggalian dari memori ingatan penulis. 

Alhasil, pembaca akan banyak menemukan kekurangakuratan data (tanggal, bulan dan tahun), nama-nama tokoh pelaku, atau bahkan peristiwa dalam versi yang berbeda. Sekali lagi, tulisan ini hanya pintu masuk sehingga harapan tertuang akan penelusuran dan penulisan yang lebih lengkap. 

Maskara Pra dan Tahun 2000
Fauzan, adalah mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan tahun 1994 beralamat di desa Kecapi kecamatan Tahunan kabupaten Jepara. Beliau adalah salah satu Founding Father Maskara, penggagas, pendiri dan penggerak serta nahkoda kapal Maskara. 

Jauh sebelum nama Maskara mencuat pada tahun 2000, semenjak tahun 1997 Fauzan dkk telah merintis organisasi kedaerahan Jepara di IAIN Suka Yogyakarta. Ini merupakan langkah berani, mengingat pada saat itu tidak banyak mahasiswa yang berani berorganisasi, karena Orde Baru masih menjalankan pemerintahan tangan besi dengan membatasi hak-hak berkumpul dan berpendapat.

Fauzan dkk dengan telaten mengumpulkan informasi tentang mahasiswa Jepara yang study di IAIN Suka Yogyakarta, satu persatu mereka dibuka komunikasi dan sekali waktu berkumpul hanya untuk makan-makan. Memang tidak banyak aktifitas keorganisasisan yang dilakukan, namun langkah awal pendirian Maskara telah tercapai, yaitu: berkumpulnya beberapa mahasiswa Jepara, semakin banyak intensitas pertemuan, bahkan telah ditentukan nama MASKARA (Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jepara) dan lambang organisasi berupa gambar Stier Nahkoda Kapal (Jepara sebagai daerah pesisir dan masyarakat nelayan) dengan alas kain terurai sebagai identitas almamater (IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Selama masa tahun 1997 – 1999 Maskara lebih sebagai sarana kumpul-kumpul mahasiswa Jepara, merasa senasib dan sepenanggungan, sesama perantau dari desa ke kota orang sebagaimana peribahasa Arab al ghorib ma’al ghorib qorib (orang asing dengan sesama orang asing maka akan akrab, dekat dan erat_terj.), serta menjadi sarana silaturrahim bertukar kabar berita dari kampung halaman.

Kegiatan berskala besar yang dapat diselenggarakan pada waktu itu adalah mudik bersama liburan Idhul Fitri tahun 2000, satu bis penuh pemudik dari kota Yogyakarta diberangkatkan ke desa-desa di pelosok Jepara. Kegiatan tersebut cukup berhasil diselenggarakan, walaupun pesertanya tidak semua dari kalangan mahasiswa Jepara yakni banyak dari kota-kota sekitar Jepara seperti Semarang, Demak, Kudus dan Pati yang turut serta pulang kampung bersama.

Pasca kegiatan mudik bersama tersebut, embrio dan benih-benih semangat, ghiroh, syahwat dan nafsu berorganisasi semakin besar. Sehingga gerakan yang lebih masif pun dipropagandakan pada anggota Maskara yang nantinya menjadi titik awal berdirinya maskara di awal tahun 2001.

Maskara Tahun 2001 – 2002
Habibur Rohman & Ahmad Rosyidi, pada pertengahan tahun 2000 merupakan masa terpenting dalam sejarah berdirinya Maskara. Embrio organisasi yang telah muncul dan dipelihara sejak tahun 1997 oleh Fauzan dkk, mulai menemukan jalan dan sambutan hangat dari para mahasiswa Jepara di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Seiring dengan semakin intensifnya pertemuan anggota dan beberapa kegiatan di ruang publik mampu diselenggarakan, maka semakin dikenal pula perkumpulan mahasiswa Jepara di kalangan akademisi IAIN Suka Yogyakarta pada tahun itu. 

Kondisi positif tersebut merupakan momentum yang di tunggu-tunggu sejak tahun 1997, sehingga dengan penuh antusias Fauzan dkk merancang kegiatan yang bertujuan untuk mengumpulkan mahasiswa Jepara dan disepakati dalam bentuk “Masa Keakraban (makrab) Mahasiswa Jepara”.

Stand Pendaftaran makrab di buka sepanjang waktu, mulai dari masa pendaftaran mahasiswa baru IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun akademik 2000/ 2001, masa regrestasi mahasiswa baru sampai pada masa orientasi pengenalan kampus (ospek). 

Tentunya, bendera  bergambar Stier Nahkoda Kapal sebagai identitas dengan gagah terpampang di sudut jalan masuk kampus IAIN Suka, stand pendaftaran selalu di buka setiap hari, teriakan “Jepara mbak… Jepara mas” sering terdengar ketika berlalu lalang mahasiswa baru yang lewat di depan stand.

Sekitar pertengahan bulan Maret tahun 2001, makrab diselenggarakan di Taman Wisata Kaliurang Sleman Yogyakarta, yang sekaligus sebagai peresmian terbentuknya MASKARA dan dipilih Habibur Rohman (Robayan Kalinyamatan Jepara) menjadi Ketua Maskara masa bakti 2000/ 2001. 

Moment spesial bagi mahasiswa Jepara di IAIN Suka tersebut juga sebagai tonggak baru organisasi kedaerahan (orda) Jepara di kota Yogyakarta, di mana telah terbentuk sebelumnya: Keluarga Jepara Yogyakarta KJY sebagai orda induk, Ikatan Santri Jepara ISRA (PP. Al Munawir Krapyak Yogyakarta), Ikatan Mahasiswa UMY Jepara IMUJ, Ikatan Mahasiswa kec. Kedung Jepara Yogyakarta IMKJY, serta beberapa orda Jepara di kota Yogyakarta lainnya. Tapi Maskara tetap beda, karena Maskara punya cerita. 

Habib, mahasiswa Fakultas Syari’ah Angkatan 1999 sebagai ketua Maskara bersama-sama dengan jajaran pengurus struktural menyusun program kerja yang diantaranya adalah: penataan organisasi, inventarisir anggota, pemantapan visi-misi, penyusunan rancangan AD/ ART, diskusi panel rutin 1 minggu sekali, Baksos di Jepara, Mudik Bersama, Halal Bi Halal dan sebagainya.

Namun dalam perjalanannya, Maskara yang baru saja menapak di tanah menghadapi tantangan berat. Sang ketua kehabisan amunisi, karena dalam waktu bersamaan beliau telah aktif di beberapa organisasi intra-ekstra kampus yaitu: Majalah Arena, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII, Front Pemuda Indonesia, Kemped, serta kesibukan sebagai aktivis parlemen jalanan dengan demonstrasi yang hampir setiap hari ada.

Program kerja telah disusun dan direncanakan, bahkan kegiatan rutin telah diselenggaran dan agenda besar Baksos di Jepara pun dalam proses pengajuan Pemda Jepara. Akan tetapi peran dan fungsi ketua yang kurang optimal hampir saja memacetkan mesin Maskara yang baru saja panas. 

Pada saat kritis tersebut, dalam rapat pengurus disepakati bahwa untuk tugas dan wewenang ketua dilimpahkan kepada Ahmad Rosyidi (Rajekwesi Mayong Jepara) yang menjabat sebagai wakil ketua. Untuk sementara, roda organisasi Maskara dapat berputar dan agenda yang telah dan dalam proses berjalan pun dapat dilanjutkan.

Dalam konsisi yang kurang ideal tersebut, Rosyidi bersama jajaran pengurus struktural Maskara yang aktif dapat menjaga eksistensi organisasi dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kecil di lingkungan kampus dan internal anggota, serta mampu menyelenggarakan 2 (dua) kegiatan besar yaitu BAKSOS dan KONGGRES I.

BAKSOS Maskara di selenggarakan di desa Bandungharjo kecamatan Keling Kabupaten Jepara. Berbagai kegiatan dilaksanakan meliputi Pasar Murah, Festifal Rebana, Pengobatan Masal dan Pengajian Umum.

KONGGRES I Maskara di Balai RK Sapen Yogyakarta. Hasil konggres adalah: Menetapkan AD/ ART Maskara, Merubah istilah Konggres menjadi Musywar, Merubah istilah Anggota menjadi Warga, Mengganti lambang lama (steir nahkoda kapal) dengan lambang baru yang berlaku sampai sekarang,  yaitu: gambar Tugu Jogja dalam apitan pena bulu dibingkai ukiran khas Jepara, Memilih ARIF SUSANTO sebagai Ketua Maskara masa bakti 2001 – 2002.

Selanjutnya, masa keemasan dan kemunduran Maskara silih berganti sebagai keniscayaan perjalanan organisasi. Arif Susanto (2002 - 2003), Ah. Syakur (2003 - 2004), Saiful Haq (2004 - 2005), Muhammad Syaifuddin (2005 - 2006), Nasyrul Haq (2006 - 2007), Muhammad Najib (2007 - 2008), Muhammad Safullah (2008 - 2010), Roiz Reza (2010 - 2014), dan seterusnya hingga kepengurusan sekarang. Semoga bermanfaat serta tetaplah untuk dapat ingat asal, sedikit usil dan beri usul. (*)

No comments:

Post a comment