Bukan Santri Biasa



Cerpen : Kartika Catur Pelita

Seperti tinggal di neraka. Panas. Saban hari Ayah dan Ibu bertengkar. Ribut. Adu mulut. Saling umpat. Mencari  kebenaran sendiri.
   
“Kau lelaki  buaya. Selingkuhan  di mana-mana. Padahal kau tentara. Seharusnya  memberi teladan!”
   
“Perempuan cerewet. Sukanya mengumpat. Sana urus anakmu!”
   
“Setiap hari dari Subuh sampai malam aku mengurusi mereka. Mandiin,  masak, cuci baju, ngantar  anak! Kurang apa?!”
   
“Memang itu sudah kewajiban perempuan. Tugas seorang istri!”
   
“Hei,  jangan banyak cingcong,  apa tugasmu sebagai suami? Gaji  dihabiskan  untuk mabuk dan  kenthir  sama perempuan sundal!”
    
“Ssst...diamlah.  Malu didengar orang.”
   
“Biar semua tahu.  Kau  orang berpangkat, tapi kelakuan bangs...!”
     
Plak-plak-plak!  Lelaki  kekar  menampar.  Menjambak. Mencekik. Untung si perempuan cantik bisa  melepas belitan, melesat  ke halaman rumah, menumpah serapah. “Lelaki  terkutuk. Beraninya cuma  sama  perempuan. Sekali  lagi kau memukul  kulaporkan pada komandan!”
    
Si lelaki malah menyetel radio keras-keras.  Diam-diam  tiga pasang bocah memandang peristiwa  di hadapan mereka dengan hati patah. Terluka.

* * *
  
Seperti robot. Setiap hari  berbaris, memasuki kelas, diabsen,  duduk di bangku yang sudah ditetapkan. Seorang guru masuk memberi salam,  pelajaran dimulai. Si guru mengajar, si siswa mendengarkan.
   
Saat sedang mengerjakan soal, si guru memeriksa. Tiba-tiba berteriak,  saat menemukan siswa yang bertopang dagu sendu. “Mau jadi apa kau. Bukannya mengerjakan  soal malah melamun!”
   
“Saya...saya....saya....”
   
“Bicara saja tak lancar. Dasar lelaki  lunak!”

Si siswa memilih diam, menunduk.
* * *
   
“Mengapa tadi kau melamun, sampai Pak Godi marah?”  perempuan berkucir dua duduk di sisinya. Taman depan sekolah.  Belia  sekelas dan perhatian, entah apa maksudnya.
   
“Tak ada apa-apa,” gumamnya tak yakin
   
“Kau semakin kurus. Sering bolos. Ada apa sih, Dam?”
   
“Sudahlah, aku ingin sendiri...”  memilih menghindar meninggalkan si kucir dua.  Melewati lapangan ketika   si atletis berkaus olahraga sengaja melemparkan bola voli ke arahnya. Kena kepala.
   
“Aduh,“ ia kesakitan. Airmata meleleh.  Beberapa pasang mata melecehkannya.”Weh, wekwek, menangis. Dasar banci!”

* * *
   
Setelah Ayah pergi semoga rumah tak lagi seperti  neraka.  Kemarin  mereka mengantar di pelabuhan. Ayah terlihat gagah mengenakan seragam tentara dan ransel besar. Ibu tak tampak haru saat Ayah  menyalami kami, menepuk pundak Ibu sekedip, lalu melangkah gegap menaiki geladak kapal bersama pasukannya.
   
“Berapa lama Ayah pergi tugas, Bu?” tanya Kak Ida.
   
“Entah. Mungkin tiga tahun. Kau kangen Ayah?”
   
“Tidak.”
   
Apakah ia juga merindukan Ayah? Entah. Mereka jarang bertemu. Ayah sering dinas. Malam piket. Ayah pelit  bicara. Tapi  saat bertengkar dengan Ibu,  Ayah sangat banyak  ngomong, dan suaranya keras sekali. Bikin mereka ketakutan.
   
“Sekarang Ibu lebih bahagia karena ayah kalian tak ada.”
   
Benarkah?  Karena hari-hari kemudian  ia semakin merasa gersang. Ibu di rumah kian sibuk mengurus mereka. Memasak, mencuci, mengantarjemput  adik ke sekolah. Ibu terkadang  nonton bioskop. Kakak-kakaknya sibuk  dengan dunia mereka sendiri.

* * *
   
Siswi terbata-bata mengerjakan soal matematika di papan tulis. Seorang guru menjitak. “Tolol, 7 X 8  saja tak becus.  Sudah SMA, kalah sama anak SD!”
   
Si guru botak memanggil seorang siswa lagi. Si alis tebal  mengerjakan dengan semangat,  cepat, dan  hasilnya salah!
   
“Kalian pasangan  idiot, kembali ke tempat duduk!”
  
Kelas seperti kuburan. Si botak menghampiri meja siswa jangkung berkulit putih, kurus. “Kau gering,  ke depan. Kerjakan!”
   
Layu  di depan papan tulis kayu. Tak paham rumus sin, cos, tangen- yang bikin pusing kepala. Tangannya  gemetar. Menuliskan  rumus. Salah. Dihapus. Salah lagi. Dihapus. Tulis lagi.
   
Si botak murka, menggebrak meja, memukul bahu si jangkung  putih  dengan penggaris kayu, suara mencetar. “Kalau tak bisa jangan dipaksa, jangan diperkosa!”

* * *
   
“Uang tak dikirimkan.  Gajinya di sini min. Kita  tak bisa makan, kaliren!”  Ibu menyumpah-nyumpah. Ia hanya mendengarkan, menatap Ibu sekilas, kakak, adik, lalu menunduk. “Kalian semua masih kecil. Ibu tak ada tempat tukar pendapat.“
   
“Apa maksud Ibu? Aku sudah kelas 2 SMA, “ gumam Kak Ida.
   
“Aku sudah STM, “  ungkap Kak Bian.”Dama SMP. “
   
“Kalian bisa apa?! Kalau  Ibu dan  ayahmu bertengkar  kalian cuma diam,  tak membela Ibu!”
   
“Tapi Bu,  Ayah....”
   
“Ibu yang membesarkan kalian. Sejak kalian  piyik, Ibu  jual  warisan, sawah-tanah, berhektar-hektar. Ibu melawan kakek,  demi  kalian. Supaya kalian  tetap hidup. Tidak jadi patok kuburan!”

* * *
   
Ujian semesteran. Tak  mendapat kartu  tes.  Padahal seminggu yang lalu, Ibu sudah menjual beras jatah, demi  melunasi  uang sekolah. Ia tak membayarkannya.
   
Ia duduk sesuai nomer absensi. Meletakkan kartu aspal  di atas  meja. Bel  berdendang. Guru masuk, membagikan soal. Hening tapi ramai. Guru pengawas asik merokok, peserta  tolong-menolong mengerjakan ujian. Ia memilih mengerjakan  sendiri. Sebisanya. Toh tinggal melingkari, memilih huruf a,b, c, atau d.
   
Ia sudah selesai mengerjakan soal, ketika seorang  guru  menghampiri  bangkunya. Beringas. Merobek kertas ulangan. Menyeretnya ke ruang  kepala sekolah.

* * *
   
Terminal. Orang hilir mudik. Penumpang, calo tiket,  asongan.  Duduk di bangku beton seraya  menopangkan dagu. Serombong anak sekolah melintas. Bagaimana  jika  ada yang mengenalnya, melaporkan pada Ibu?
   
Ia tak ingin pulang ke rumah. Tak mau menyakiti Ibu. Mual  mendengar Ibu marah dan berteriak.  Ibu sebenarnya  baik. Tapi, entah. Ia pusing. Bingung. Keluh, luh  meluruh,  seorang pemuda bersarung berkopiah, menghampiri, duduk di dekatnya, menyentuh pundaknya.

“Assalamu’alaikum.”
   
Ia membalas salam sambil menepis airmata
   
“Jam segini sudah pulang. Kamu sekolah  di mana?” si lelaki bersarung memandang seragam biru putihnya. Haruskah ia berkisah segalanya pada orang asing?
   
“Hehe, gak papa  cowok menangis. Seusia  kamu, aku dulu juga suka menangis. Saat-saat awal tinggal di pesantren....”
    
Ia  mengikuti langkah si lelaki sarung menaiki bis antar kota.

* * *
   
Bangunan luas  berdinding  tembok separuh bambu. Di dekat persawahan. Saban hari ia belajar, mengaji, dan beternak. Kang Dadang  membimbingnya. Mengajari  cara beribadah, cara berdoa, dari bangun hingga menjelang tidur. Di pesantren ia  menunaikan salat lima waktu, berjamah. Ia belajar membaca Al Qur’an.
    
“Seorang yang mengaku muslim, hukumnya wajib bisa membaca Al Qur’an, “ tauziah Kang Dadang.
  
“Bagaimana kalau tak bisa, Kang?”
  
“Insya Allah bisa, selama ada kemauan. Allah akan menunjukkan jalan.”
   
Ia yang dulu di rumah tidur di ranjang empuk, sekarang tidur nggeletak di  selembar tikar bersama santri lainnya pada sebuah kamar yang sempit. Ngaji bersama. Belajar bersama. Kerja bersama. Masak, makan    menu sederhana, bersama-sama.  Hanya satu yang tak akan dilakukan, mandi bersama di blumbang.  Ia memilih mandi saat sepi. Saat mandi mengenakan kolor.  

Tentu saja, bukankah dalam Islam  seseorang memperlihatkan kelamin di hadapan orang lain, entah  lawan jenis, atau sejenis, hukumnya haram.
   
“Mengapa melamun? Bebeknya sudah diberi  makan?”  Kang Dadang nongol saat ia termenung di beranda samping gothakan.
    
“Sudah. Aku ingat ibuku, Kang.”
    
“Sudah  dua  bulan kau pergi dari rumah, Dam.”
    
“Sudah  dua bulan aku jadi santri, Kang. Aku senang dan betah.  Aku menemukan ketenangan di sini.”
    
“Alhamdulillah.”
    
“Aku gabung sama teman-teman, ya, Kang. Ada  jadwal belajar  komputer.”

* * *
   
Malam yang dingin. Bukan,  bukan karena tidur di ubin  beralas tikar pandan. Ia sudah biasa. Ada yang aneh. Ia  tidur telentang dan  ketika bergerak ‘sesuatu’ terasa  menarik-narik kulit kelaminnya,  dan rasanya sakit. Ia membuka mata. Terbeliak, saat melihat sarungnya terkuak  dan teman-temannya bersorak-sorai  melihat  satu  peristiwa yang seumur hidup  takkan dilupakan. Kelaminnya ditaleni  sehelai  benang yang dicancang pada saka lemari! Suara gumam,  bisik,  dan  cemooh itu.
   
“...belum sunat. Ada santri belum sunat.”
   
“Damara  ternyata belum sunat.”                     
   
“Santri belum sunat, oi...”
   
Ia seperti  patung beku. Bagaimana ia bergerak kalau berasa sakit, karena kelaminnya yang dicancang  tiba-tiba mengeras, penuh  kemih. Sorak-sorai semakin liar. Mereka merubung. Menunjuk. Bahkan ada yang hendak memegang. Mengerikan. Memalukan.
  
“Astaghfirullah, apa yang kalian lakukan? Kalian santri, bukan preman!”
  
“Kami hanya bercanda, main-main, Ustaz.”
  
“Bercanda dalam  Islam ada adabnya.”
   
Kang Dadang datang tepat waktu dan menolongnya. Meski sesama lelaki, sungguh malu tiada ketulungan saat kelaminmu  menjadi  tontonan banyak orang. Perilaku kriminal mesti mendapat hukuman setimpal. Ia-sebagai korban-pun harus di sowankan ke hadapan Kiai Soleh.

* * *
   
“Kau belum sunat, Nak?”
    
Ia mengangguk. Tak berani menatap paras Kiai Soleh. Pemilik pesantren yang hendak memutuskan perkara yang menimpanya. Santri kok belum sunat. Salat, puasa, mengaji, tapi kok belum sunat. Apakah ibadahnya mendapat pahala? Apakah Kiai memarahinya?  
   
“Berapa umurmu, Nak?” suara Kiai Soleh tetap teduh.
   
“15, eh, 16 tahun, Pakiai.”
    
Kiai Soleh mengangguk melirik Kang Dadang. “Ustaz Dadang umur berapa kau saat disunat?”
   
“Saat saya berumur 9 tahun,  Kiai.”
  
“Sunat atau khitan hukumnya wajib bagi seorang  muslim, apalagi ketika seorang laki-laki sudah memasuki usia akil balik. Kau sudah mimpi basah, Nak?”
   
“Belum, Pakiai.”
   
“Mengapa kau belum sunat, Nak?”
   
Ia tak bisa menjawab.
  
“Nak Damar, apakah kau masih punya kedua orangtua?”
  
“Masih, Pakiai.”
   
“Salah satu kewajiban seorang ayah pada anak lelakinya adalah mengkhitankannya. Khitan mensucikanmu dari najis, supaya sah salatmu , Nak.”
    
Ia khusyu mendengarkan nasihat Kiai. Saat Kiai Soleh berniat  mengkhitankannya, ia melirik Kang Dadang. Ia mengangguk  perlahan. 
    
Kiai Soleh mengelus pundaknya, tersenyum. ”Alhamdulillah.  Saya  akan segera menyiapkan hajat sunatmu, Nak. Burung-mu ingin dipotong dengan golok atau clurit?”

* * *
   
Ia akhirnya disunat. Memandang bentuk kelaminnya yang tak berkulup lagi, sepertinya aneh. Empat hari  luka khitan baru sembuh. Kang Dadang membantu mencopot perban. Ia masih merasa sedikit risi, tapi sudah memakai sarung,  saat seorang santri mengabarkan kalau ada seseorang yang mencarinya.
   
Ia beranjak  ke ruang  tamu, dan di sana ada...Ibu!  Ternyata  Kang Dadang menghubungi Ibu. Ibu terlihat lebih kurus. “Di dunia ini seorang Ibu sangat sayang pada anak-anaknya. Meskipun anak Ibu enam orang, tapi saat seorang tak ada di sisi, Ibu merasa sedih. “
   
“Maafkan, Damar, Bu.”
   
“Sekarang kau  sudah berani memandang  Ibu saat bicara. Suaramu keras. Kau betah tinggal di sini?”
   
“Iya. Di pesantren  Damar senang.”
   
“Ayahmu dibuang ke Timtim karena medok  dan maling kayu. Di sana malah kawin lagi. Ibu sedih,  tak  bisa cerai. Komandan melarang.”
    
“...”
  
“Bagaimana sekolahmu nanti...?”
  
“Damar bisa ikut Kejar Paket B. Ada di pesantren ini.”
   
“Ibu ingin kau kembali ke rumah!”

* * *
   
Malam larut. Bintang  di langit berkedip. Suara serangga malam mengalun. Bakda  salat Isya berjamaah dan mengaji,  sebagian  teman  beristirahat, tidur.
   
Ia memilih duduk di beranda gothakan. Kang Dadang mendekat. Menyentuh pundaknya, seiring angin malam berkesiur. “Apa yang kau pikirkan, Dam?”
    
“Ibu. Apakah aku harus kembali ke rumah, meninggalkan pesantren, Kang?  Jika  tak menuruti keinginan  Ibu  aku dicap anak durhaka. Bukankah dalam  khotbah Kiai mengatakan bahwa surga berada di telapak  kaki Ibu. Kalau  aku durhaka pada Ibu,  bagaimana aku bisa mendapat surga, Kang?”
    
Kang Dadang tersenyum bijak, menepuk pundaknya beberapa kali. “Semua keinginan manusia bisa diupayakan dengan daya upaya dan doa. Allah memberi jalan terang dengan petunjuk yang diberikan-Nya. Salatlah ketika kau bingung menentukan  di antara dua pilihan. Ayo, aku antar wudlu, Dam. Aku juga hendak salat tahajud.”

* * *
   
Ia memilih menuliskan kegelisahan, kegalauan  hati ke dalam   rangkaian kata. Sebelum tidur, atau saat tengah malam terbangun, sebelum mengerjakan salat malam. Bahkan  ia suka menuliskan  mimpi ke  dalam untaian aksara indah. Tulisan curahan hati, berupa cerpen dan puisi sudah beranak pinak,  berbuku-buku.
    
Ia diam-diam suka  membacanya, tersenyum sendiri. Bahagia. Sungguh, dengan menuliskan  kegelisahan, ia merasa hati tenang.

* * *
    
Pulang. Ibu, kakak dan adik merubungi. “Barusan ada kiriman paket dari Ayah. Ada kaos dan tenun ikat Timor. Ini untuk kau, Dama, “ kata Kak Ida.
    
Apakah  Ayah sudah berubah? Mungkin  Ayah mendapat hidayah. Masih  ingat jika memiliki anak-anak  yang ditinggalkan bersama ibunya.
   
Ia diam-diam menuliskan  pengalaman  hidupnya,  sebelum  kelak  kembali ke pesantren.   Ia ingin menuntut ilmu umum dan ilmu agama. Tak ada yang lebih bermafaat dalam hidup selain memiliki ilmu umum  dan ilmu  agama. Untuk  bekal  hidup supaya selamat  di dunia  dan di akhirat.  Bekal itu bisa  diperolehnya di pesantren!

* * *
    
Ia menangis dan memeluk Ibu. Buku tulis yang berisi curahan hati dan sepenggal kisah hidupnya didekap erat.  Diulurkannya  buku itu. ”Jika Ibu rindu Damar, bacalah buku ini. Maafkan, Damar, Bu. Tempo hari Damar nakal, bandel, sering bolos, makek  uang sekolah  untuk beli  novel dan majalah. Damar suka  membaca. Sekarang suka menulis. Sambil mondok di pesantren, Damar ingin jadi penulis. Berbagi  ilmu dan pengalaman. Dengan menulis walaupun  Damar sudah mati nanti,  tulisan tetap abadi.

Damar mohon restu Ibu. Izinkan Damar mondok di pesantren, Bu. Damar menyayangi Ibu, Kak Ida, Kak Bian, Dik Sar, Dik Ifa dan Dik Ido. Damar juga sayang pada  Ayah.”
   
“Pergilah mondok ke pesantren, Damara.  Kalau rindu pulanglah ke rumah. Ibu menyayangimu!”
                                                                
___Kartika Catur Pelita, Ketua Akademi Menulis Jepara (AMJ)
Bukan Santri Biasa Bukan Santri Biasa Reviewed by Syaiful Mustaqim on 20:20:00 Rating: 5

4 comments:

  1. Cerintanya bagus KCP... Yg seting nya di pondok hampir sama dgn hidup saya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo boleh tau anda mondok di mana mas?

      Delete
    2. Terimakasih sudah membaca dan mengaspresiasi, Mas Dede Rabuansyah Dede. Salam sukses.

      Delete
  2. Terimakasih sudah membaca Bukan Santri Biasa, dan mengaspresiasinya, Mas Dede Rabuansyah Dede.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.