Idul Qurban dan Cerita Tenda Pengungsian - Soeara Moeria

Breaking

Rabu, 07 September 2016

Idul Qurban dan Cerita Tenda Pengungsian





Cerpen Kartika Catur Pelita

Azan Subuh  terdengar dari mushala. Udara masih terasa dingin ketika Laila terbangun. Saat dia membuka mata, ternyata Ifah dan  Nuri-teman setendanya sudah bangun. 
       
“Kalian sudah bangun duluan?” tanya Laila.
      
“Ya, “ jawab Ifah lirih. “Kami tak bisa tidur, La.
      
“Aku juga tak bisa memejamkan mata,“ kata Nuri. “Aku teringat orangtuaku.”

Nuri  yang  berkulit sawo matang  dan  berambut keriting itu   mengerjap-ngerjapkan mata. Rasanya  ia ingin  menangis.
      
“Aku terbayang wajah Ayah dan Ibu,“ gumam Ifah tak kalah haru.“ Sepertinya  mereka masih ada. Tapi kenyataannya aku tak pernah bisa lagi berjumpa  mereka.” Mata Ifah kelihatan basah. Tapi buru-buru  dia menghapus air  matanya yang jatuh.
       
Laila tiba-tiba merasakan hal yang sama. Dia pun sangat sedih kehilangan kedua orang tua. Bahkan  dia juga kehilangan Nenek yang sangat menyayanginya.

“Apakah kau tak sedih kehilangan  keluargamu?’ tanya  Ifah pada Laila. Nuri memandangi wajahnya pula. Laila risi. Dia memilih menghela nafas  pendek.
     
“Sama seperti kalian, tentu saja aku merasa sangat sedih. Tapi tak selamanya kita harus menangisi kepergian mereka. Kata Ustad Rohim kita harus merelakan kepergiannya. Kita hanya bisa mendoakan semoga mereka mendapat  tempat indah sesuai amal dan perbuatannya di dunia.”
     
“Amin….” Ifah dan Nuri mencoba mengusir sedih. Ifah dan Nuri ingin bisa tabah seperti Laila.
       
Mereka semula tak kenal, tapi pertemuan di tenda pengungsian sebagai sesama  pengungsi korban Gunung Sinabung meletus, menjadikan tiga  gadis cilik ini cepat akrab. 

Mereka merasa senasib sama-sama kehilangan orang tua. Mereka  sepantaran. Laila   dan  Nuri 12 tahun. Ifah 11 tahun.  Kalau bersekolah mereka duduk  di kelas  5 dan 6 SD.  Tapi sementara  sekolah libur. 

Karena gedung sekolahan banyak yang hancur  dan tertutup debu.  Kabarnya setelah  Sinabung tak  mengamuk lagi mereka bisa kembali sekolah. Entah kapan. Tapi ada kabar lainnya,  katanya Minggu depan akan dibuka sekolah  darurat di tenda pengungsian. 
       
Laila, Ifah, Nuri dan yang lainnya membayangkan alangkah menyenangkannya jika mereka  bisa  bersekolah kembali.  Diajar  guru, mengerjakan PR  di kelas,  saat istirahat bermain  di halaman sekolah,  bercanda bersama  teman sekolah. Duhai, alangkah indahnya masa-masa sekolah.

* * *
        
Laila, Ifah dan Nuri bergabung dengan teman-teman lainya. Mereka antri untuk mandi di kamar mandi darurat di area pengungsian ini. Setelah  mandi mereka mengenakan  jilbab. Pakaian yang  diberikan para donator. Sebagian baju baru. Sebagian baju bekas layak pakai
       
“Jilbab kamu bagus, Nur,“ puji Laila.
        
“Iya sih. Tapi agak kelonggoran,“ jawab Nuri sambil tersenyum.
         
Ya baju muslimah warna hijau lumut yang dikenakan  Nuri  memang kebesaran. Tapi Nuri  suka. Modelnya cantik.
        
“Jilbab Kak Laila juga tak kalah bagus!”  Nuri  gantian memuji ketika melihat penampilan  Laila. Laila hanya  mengagguk kecil.
        
“Jilbab kamu juga cantik, Fah, “  Laila kini  memuji  baju muslim warna  ungu- bermotif bungan-bunga kecil-yang dikenakan Ifah.  
        
“Ya,“ Ifah mengiyakan pelan. “ Tapi masih bagus jilbab  warna pink  yang diberikan  ibuku di hari  ultahku. Jilbab  itu ah tak sempat kubawa  ketika awan panas datang dan  kami berlarian menyelamatkan diri. Sayangnya  Ibu dan  Bapak tak tertolong!” Ifah  tampak sangat  sedih.

Laila buru-buru menghibur  temannya.”Sudah deh kita semua cantik,  walau pakai  jilbab bekas. Yang penting bisa  dipakai, kan? Eh,  kita kumpul sama yang lainnya, yuk. Sebentar lagi sholat Ied!”

* * *
       
Shalat Idul Adha di adakan di lapangan  terbuka.  Para pengungsi terlihat haru  ketika Khatib  berkutbah tentang bencana yang melanda.
       
“Bencana banjir, gempa bumi, tsunami,  gunung meletus, dan yang lainnya adalah  cobaan dari Allah. Percayalah di balik bencana ini ada rencana Allah untuk umatnya.  Hanya orang-orang yang beriman  yang mengetahui hikmah  apa di balik sebuah bencana. Kita  harus saling tolong menolong ketika  tertimpa  musibah atau bencna. Kita harus  tabah.”
     
Shalat Idul Adha selesai. Mereka saling bersalaman. Berpelukan. Bermaafan. Bertangisan, haru. Merasa senasib  sebagai pengungsi.
    
Laila. Ifah, Nuri  dan teman lainnya saling menguntai maaf. Tapi  tak  urung mereka meneteskan air mata ketika teringat  pada orang tercinta: ayah, ibu, saudara, kakak, nenek, teman, tetangga yang meninggal karena bencana gunung meletus! Tapi mereka buru-buru menghapus air mata, ketika melihat  relawan- di antaranya kakak-kakak mahasiswa  itu mendekatinya, menghiburnya.
     
“Hai mengapa kalian bersedih di hari seindah ini. Lebaran Kurban malah menangis? Hihiii. Sudah deh nangisnya.  Adik-adik yang  manis, cantik dan ganteng ayuk  kita  melakukan permainan tebak-tebakan,  games,  atau mendongeng,  atau baca buku  baru di mobil pintar. Nanti setelah itu  kita  melihat penyembelihan hewan kurban. Kita bikin sate  rame-rame!”
    
Laila, Ifah, Nuri dan anak-anak lainya korban bencana  mencoba mengusir kesedihan. Generasi muda pewaris tanah air Indonesia itu mencoba tersenyum. Karena mendung tak selamanya ada. Esok hari matahari masih bersinar! (*)
                                                                         
Kota Ukir, 15 November 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar