Sang Mujtahid Islam Nusantara (Novel Biografi Abdul Wahid Hasyim)


Paska rontoknya Khilafah Islam Turki Usmani dan ketika Nusantara memasuki masa genting kehidupan keberagamaan dan kebangsaan, seorang bayi lahir ke dunia pada tahun 1914, bernama Abdul Wahid, putra Hasyim Asyari.

Sejak bayi, dia telah menunjukkan ‘mukjizat-mukjizat kecil’ yang tidak pernah dimiliki anak pada umumnya. 

Menginjak usia remaja, jiwanya seperti terbakar oleh api dahaga akan ilmu pengetahuan. Keputusannya untuk mengembara, mengaji dari satu guru ke guru lain, belajar dari satu pesantren ke pesantren lain, tidak bisa dihalang-halangi. 

Puncaknya, ia merasa harus terus mengembara ke dunia yang lebih luas, Timur Tengah.

Bagaimana lika-liku Wahid Hasyim dalam memperjuangkan persatuan Islam, berusaha mempertemukan pemikiran keagamaan dan kebangsaan dari para ulama-ulama elite saat itu? 

Bagaimana pula usaha musuh-musuhnya, baik Belanda, Jepang, maupun orang-orang pribumi, menghentikan langkah perjuangannya mewujudkan persatuan Indonesia? Satu hal yang penting lagi, sejarah mencatat, bangkitnya kekuatan militer pribumi berawal dari kesuksesan taktik Abdul Wahid Hasyim memanfaatkan kecerobohan bangsa kolonial Nippon (Jepang). Dialah sosok kiai otodidak, kritis, moderat, pemersatu bangsa, ‘penasihat militer’ Panglima Besar Jenderal Sudirman, dan ayah dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Novel ini mengisahkannya dengan sangat detail dan hidup.

* * *
“Sebuah novel yang sarat akan makna, perjuangan seorang kiai muda yang mengharu-biru dalam usahanya mempersatukan keragaman kelompok dan menempatkannya di jalur perjuangan yang tepat, untuk meraih kemerdekaan dan mengisinya dengan mencerdaskan anak bangsa.” (KH. Ahmad Musthofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin, Rembang)

Almaghfurlah K.H. Abdul Wahid Hasyim adalah sosok santri jurnalis, aktifis moderat, kiai toleran, pembaharu pendidikan Islam, negarawan sejati dan pelobi ulung. Meskipun dikenal  sebagai pemimpin nasional yang berpikiran maju, beliau tetap memiliki sikap tawadhu (rendah hati) kepada ayahandanya, Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari. Ketika ayahandaya mengajaknya berbicara dengan bahasa Arab yang fasih, Mbah Wahid Hasyim menimpali dengan bahasa jawa halus (kromo inggil). Buah pikiran dan cita-citanya selalu sebagai ramuan peradaban Islam Nusantara dan Indonesia modern.” (A. Muhaimin Iskandar, cucu dan pengagum KH. Abdul Wahid Hasyim)

“Tokoh besar selalu saja lahir dari jiwa-jiwa yang haus akan ilmu pengetahuan. Saya kira tidak berlebihan jika perjalanan hidup KH. Abdul Wahid sebagai salah satu bukti dari statement itu.” (D. Zawawi Imran, penyair)

“Hati yang bersih, pikiran yang jernih, semangat yang gigih adalah kekuatan besar yang dimiliki manusia. Bila semua itu menyatu dalam diri seseorang, perubahan besar bisa diraih. Saya kira figur KH. Abdul Wahid dalam novel ini adalah cerminan dari jiwa yang dibekali ketiganya.” (Ahmad Tohari, novelis)

“KH. Wahid Hasyim adalah tokoh muda NU yang berpikiran progresif dan visioner. Gagasannya melampaui zaman, berorientasi ke depan tapi tetap berpijak pada sejarah, tradisi dan kultur pesantren. Di Pesantren Tebuireng yang salaf, Kiai Wahid justru mendirikan Madrasah Nizamiah yang kurikulumnya 70 persen ilmu-ilmu umum. Umur 27 tahun sudah dipercaya menjadi Ketua MIAI -semacam MUI-, lantas menjadi Panitia Sembilan BPUPKI yang melahirkan Pancasila dan UUD 1945, dan diangkat menjadi Menteri Agama pertama termuda di usia 32 tahun. Inilah teladan paling lengkap sosok pemuda Indonesia yang seluruh hidupnya diabdikan untuk kebesaran bangsa dan negara yang nantinya diteruskan oleh putra pertamanya, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Aguk Irawan menuliskannya dengan sangat baik. Bacaan wajib bagi pemuda dan pemudi Indonesia.” (Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga RI)

“Meski usianya tidaklah begitu panjang, namun jejaknya terekam dalam sejarah emas bangsa Indonesia, dan setiap generasi kapan saja bisa memungutnya.” (Ahmad Suaedy, koordinator Abdurrahman Wahid Centre, Universitas Indonesia)

“Membaca biografi KH. Abdul Wahid yang tersuguh dalam lembar demi lembar novel ini, seperti menyaksikan seorang pendekar tangguh yang menebas leher musuh-musuhnya dengan pisau ilmu pengetahuan, hikmah, dan makrifat.” (Kuswaidi Syafii, pengasuh Pondok Pesantren Jalaluddin Rumi)

“KH Wahid Hasyim adalah salah seorang tokoh ulama penggerak Islam Nusantara. Segenap potret hidupnya tercermin dalam irama dan derap langkah umat Islam Indonesia dalam menghadapi tantangan penjahahan bangsa asing dan perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Potensi umat Islam digali untuk kepentingan penguatan dan  kejayaan bangsa ini. Novel ini merupakan satu tafsir jenius dari Mas Aguk Irawan untuk membaca lebih dekat dan lebih akrab akan potret kehidupan putra pendiri NU dan ayahanda Gus Dur ini.” (Ahmad Baso, sejarawan NU, penulis buku Islam Nusantara, Agama NU Untuk NKRI, dan serial Pesantren Studies)

Sumber : Moslem for all 
Sang Mujtahid Islam Nusantara (Novel Biografi Abdul Wahid Hasyim) Sang Mujtahid Islam Nusantara (Novel Biografi Abdul Wahid Hasyim) Reviewed by Syaiful Mustaqim on 18:43:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.