PHK - Soeara Moeria

Breaking

Kamis, 01 Mei 2014

PHK


Cerpen Kartika Catur Pelita

Nama saya Zoda Yudha Wibawa. Usia saya  26 tahun. Tubuh saya kekar, tampang keren. Kulit kecoklatan mirip sawo matang, rambut jabrik.  Pekerjaan: buruh pabrik!

Pagi menjelang siang, udara di sekitar pabrik berhembus garang. Musim kemarau menggila menggulai  gerah dan polusi. Saya mengencangkan ikat pinggang. Masker menyumpal mulut,  nafas berhembus liris. Sambil bersenandung  tembang  dangdut saya sedang asyik mengebor  komponen  kaki kursi, ketika  Aisah Aini-cleaning service-di Pabrik  Furniture  ini membawa satu kabar berita.

“Kamu dipanggil Personalia, Zodak.”

“Kapan?”

“Sekarang juga ke kantor Personalia!”

Saya segera menyelesaikan pekerjaan mengebor. Tanggung. Tinggal dua frame meja yang belum aku bor! Setelah selesai saya meminta ijin pada Mandor.

“Mau ke mana, Dak?” tanya Gonzi,  teman saya. Ia Operator Spindle.

 “Ke kantor Personalia. Dipanggil  Albabi!” Saya menyebut nama personalia pabrik tempat  saya dan ratusan teman mencari sesuap nasi.

“Ya…selamat masbro  kamu naik gaji. Jangan lupa usulkan gajiku juga, Dak.”

Saya tersenyum kecil. Sebulan yang lalu upah buruh pabrik ini dinaikkan saicrit. Naik 10 %.  Tak sebanding dengan harga-harga sembako di luaran yang naik lebih dari 50%.

Ah…tapi memang beginilah nasib wong cilik. Buruh. Kuli. Bekerja, seperti robot. Gaji irit. Sedikit. Bagaimana bisa hidup sejahtera?

Untuk bertahan hidup harus bisa mengatur pendapatan sehemat mungkin. Gali lobang tutup lobang. Ngutang sana-sini. Karena  upah yang tak manusiawi ini pantas saja jika para buruh sering demo.

Saya  telah sampai  di Kantor Personalia. Mengetuk pintu.

“Masuk!”

“Selamat siang, Pak.”

“Siang. Duduk!”

Saya duduk berhadapan dengan Kepala Personalia-yang semuanya serba gendut. Kepala gendut. Pinggang gendut. Perut juga gendut.

Apa sih isi perut gendut itu?  Dari mana Pak Albabi memiliki uang banyak, sehingga hidupnya terlihat makmur?

Inilah yang sering diomongin teman-teman buruh bila kami berkumpul. Sebagian besar peraturan yang dibuatnya selalu menguntungkan pihak  pabrik daripada   kesejahteraan buruh.

“Tentu  saja dia memilih Pabrik! Pabrik kan yang memberinya makan, sehingga perutnya sebesar gantong, anaknya bisa kuliah, punya mobil mewah, gedung magrong-magrong...,” celetuk si Oye satu teman kami, suatu waktu, ketika kami sedang  menunaikan sholat di Mushola  Pabrik. Sholat  cukup lima menit. Nongkrongnya sepuluh menit.        

 “Kamu betah kerja di Pabrik ini, saudara Zodak?”

 “Ya…lumayan betah sih, Pak.” Padahal kalau ada pekerjaan yang gajinya lebih banyak saya pengen pindah kerja.

 “Kamu suka  kerja di bagian produksi, saudara Zodak?”

Saya mengiyakan. Pertama kerja di pabrik ini dan ditempatkan di bagian pengepakan, lalu tiga bulan kemudian  dipindah di  bagian service, enam bulan kemudian dimutasikan ke bagian produksi. Sebagai operator mesin bor.
 
“Bagian mesin boiler dan tungku pengopenan  kekurangan personil. Saudara Zodak, kamu saya mutasikan ke sana!”
         
* * *

“Kamu dipindah ke mana, Kang?”

“Ke bagian Boiler, In.”

“Boiler?”

“Tungku. Ngopen kayu. Supaya kering,  In.”

“Terus apa masalahnya, Kang. Mengapa kamu  menolak pindah?”

“Karena lebih enak kerja di produksi seperti sekarang ini In,” Saya memandangi  Indah, istri saya yang  tengah berjalan tertatih- mengangsurkan secangkir teh manis untuk saya.

“Kerja di bagian produksi tak terlalu berat. Bisa  masuk pagi terus. Beda  di bagian  Boiler, In.  Saya nanti  harus masuk  3 shift, pagi, sore dan malam. Bagaimana saya nanti bisa menjaga kamu.”
Indah Suryana, istri saya  terpekur.

“Kamu besok ikut saya ke Pabrik , In. Kalau kamu yang ngomong mungkin Pak Albabi kasihan  dan tak jadi memindahkan Kakang.”

Esoknya kami menghadap Pak Albabi.
 
”Saya tak mungkin membiarkan istri saya sendirian di rumah bila  saya masuk shift malam. Ia, istri saya paling takut tidur sendirian. Indah  sering mimpi buruk, dan....”

Indah trauma gara-gara melihat juragannya dibunuh perampok dengan sadis. Bahkan ia pun menjadi sasaran  penyekapan, ketika toko emas itu dirampok. Kaki kirinya tertembak peluru, sehingga  diamputasi, dan kini harus memakai tongkat. 

Saya tak bisa membayangkan bagaimana kalau nanti saya masuk shift malam dan Indah tinggal sendirian di rumah.  Anak kami satu-satunya masih  bayi.
        
“Tolonglah agar suami saya bekerja di bagian semula saja Pak. Suami  saya jangan dipindah,” Indah memohon.

Ternyata di dunia ini memang  ada orang yang hatinya terbuat dari batu.  

“Tidak bisa, Bu. Ini sudah keputusan pabrik.”

“Tapi bapak kan yang bikin peraturan.” 

“Tidak bisa. Saudara Zodak, kamu tetap  saya mutasikan. Saya  menempatkan  karyawan sesuai kebutuhan. Saat ini ada karyawan boiler yang keluar. Kamu telah saya pilih untuk menggantikan. Kamu tak usah khawatir masalah  upah kamu. Jabatan kamu pun tetap Operator.”

Operator Boiler.  Malam-malam di saat orang tengah tidur-saya malah harus bekerja. Meninggalkan istri dan anak saya sendirian di  rumah!

Saya memijit kepala yang berdenyut-denyut. Pening. Pusing.

“Bagaimana, saudara Zodak?”

 “Bagaimana kalau saya menolak keputusan Bapak?”

“Karena  melanggar Peraturan Pabrik,  saudara Zodak, kamu saya
pecat!”

 “PHK?”

 “Ya…Pemutusan Hubungan Kerja! PHK! Tanpa pesangon!”

 “Tanpa pesangon?”
 “Tanpa pesangon!”

 “Tapi saya masih ingin bekerja, Pak. Saya butuh uang untuk hidup.

Sungguh Pak saya sebenarnya tak ingin  menolak keputusan Bapak. Tapi saya
tak bisa meninggalkan istri saya yang  cacat  di rumah di saat malam, saat….”               
    
“Itu bukan urusan saya!  Terserah kamu  masih mau bekerja di Pabrik  ini  atau kamu saya PHK!”

                                                           * * * 
                                                                                                 Kota Ukir,  2010 - 2011

Ilustrasi: Google 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar