Notification

×

Iklan

Iklan

Lesbumi Kudus Dorong Kretek Segera Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Selasa, 06 Oktober 2026 | 07:53 WIB Last Updated 2026-10-06T00:53:31Z

Penyalaan obor dan teatrikal menjadi penutup rangkaian acara Puja Doa Kretek yang digelar di depan Monumen Kretek Indonesia, Sabtu (3/10/2026) malam. 


Kudus, soearamoeria.com - Suasana malam di kawasan Taman Oasis Kudus dipenuhi nuansa reflektif melalui agenda Puja Doa Kretek yang digelar di depan Monumen Kretek Indonesia, Sabtu (3/10/2026) malam. 


Kegiatan yang berlangsung pukul 21.30–23.30 WIB tersebut menjadi ruang untuk mengenang perjalanan panjang kretek dalam kehidupan masyarakat sekaligus menyuarakan harapan agar kretek segera ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.


Rangkaian kegiatan diisi dengan doa bersama, Orasi Budaya oleh Ketua Lesbumi Kudus, Abud SB Runcing, serta dilanjutkan dengan penyalaan obor dan pertunjukan teatrikal. 


Dalam orasinya, Abud menempatkan kretek tidak semata-mata sebagai produk ekonomi, tetapi sebagai bagian dari perjalanan sejarah, kreativitas, pengetahuan, dan kebudayaan masyarakat Kudus. 


Menurutnya, pengakuan sebagai WBTB menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga ingatan kolektif dan pengetahuan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.


“Kretek bukan sekadar benda atau produk, tetapi bagian dari perjalanan manusia, kerja, pengetahuan, dan kebudayaan masyarakat. Pengusulan WBTB ini adalah ikhtiar agar warisan tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi dapat dirawat dan dipelajari oleh generasi mendatang,” ujar Abud dalam orasinya.


Panitia penyelenggara, Purwono Nugroho, menyampaikan bahwa Puja Doa Kretek digelar sebagai bentuk penghormatan dan peringatan atas perjalanan panjang kretek dalam menopang kehidupan masyarakat, khususnya warga Kudus dan masyarakat Indonesia secara lebih luas. 


Menurutnya, kretek memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.


“Acara ini merupakan bentuk penghormatan atas jerih payah kretek dalam membangun kehidupan masyarakat Kudus khususnya dan warga Indonesia pada umumnya. Kami berharap ikhtiar pengusulan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda segera mendapatkan pengesahan dari Kementerian Kebudayaan RI,” kata Purwono.


Penyalaan obor dan teatrikal menjadi penutup rangkaian acara sekaligus simbol harapan agar sejarah dan pengetahuan tentang kretek tetap menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya. 


Di hadapan Monumen Kretek Indonesia, para peserta menghidupkan kembali kesadaran bahwa warisan budaya bukan hanya sesuatu yang dikenang, tetapi juga perlu dirawat, dikaji, dan diwariskan.


Bagi masyarakat Kudus, harapan atas penetapan kretek sebagai WBTB tidak semata-mata berkaitan dengan pengakuan formal. 


Lebih jauh, hal tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat dokumentasi sejarah, menjaga pengetahuan budaya, serta memberi ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk memahami perjalanan kretek sebagai bagian dari sejarah masyarakat dan kebudayaan Nusantara.


Melalui Puja Doa Kretek, masyarakat kembali diingatkan bahwa warisan budaya adalah titipan lintas generasi: diterima dari masa lalu, dirawat pada hari ini, dan kelak diwariskan kepada masa depan.


Kretek Adikarya Nusantara — merawat warisan, menjaga martabat, dan menyongsong masa depan. (ah)

close close