![]() |
| Madrasah di Simbang Kulon Pekalongan memisahkan laki-laki dan perempuan. Foto: massimbangkulonpkl.wordpress.com. |
Oleh : Fardana Khirzul Haq
Dahulu, sekolah kami yang berada di bawah Yayasan Madrasah Salafiyah Simbang Kulon adalah sekolah yang bahkan sejak TK sudah memisahkan kelas laki-laki dan perempuan.
Tidak hanya kelasnya, gedung tempat belajar siswa laki-laki dan perempuan pun terpisah cukup jauh. Kami tidak diperkenankan bermain musik seperti gitar, bahkan acara-acara sekolah pun tidak pernah menggunakan grup band. Drama, pentas seni, dan semacamnya hampir tidak pernah diadakan.
Di sekolah, kami diajari untuk tidak menggambar makhluk bernyawa karena memang dianggap tidak diperbolehkan. Saat olahraga, memakai celana pendek adalah sesuatu yang tabu, sehingga kami tetap memakai celana panjang sekolah. Sejak masuk sekolah dasar kami sudah bercelana panjang; kami hampir tidak mengenal seragam celana pendek sebagaimana lazimnya anak-anak SD di tempat lain.
Ketika azan berkumandang, kelas langsung bubar dan anak-anak berlarian menuju masjid. Sekolah kami libur pada hari Jumat, bahkan sampai sekarang aturan itu masih berlaku. Jika masa liburan selesai, sekolah dimulai kembali pada hari Ahad, sebab Ahad memang awal hari dalam sepekan. Hal-hal seperti itu dahulu terasa biasa saja bagi kami karena begitulah lingkungan tempat kami tumbuh.
Simbang Kulon juga bukan lingkungan yang kekurangan figur ulama. Ada K.H. Amir Idris, K.H. Khudlori Tobri, K.H. Bakri Hamzah, K.H. M. Ilyas A. Jaza, dan masih banyak lagi. Nama-nama itu bukan sekadar tokoh yang sesekali datang memberikan pengajian, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat, mendidik, membimbing, menjaga madrasah, dan ikut membentuk kultur keagamaan yang kami rasakan sejak kecil.
Begitu kuatnya pengaruh para ulama itu dalam kehidupan kami, sampai perkara yang sekarang mungkin dianggap sangat personal pun menjadi bagian dari pendidikan. Jika ada siswi memakai celana, meskipun di luar jam sekolah, pada hari libur sekalipun, lalu diketahui oleh beliau-beliau, hampir pasti akan ditegur. Teguran itu tidak berhenti pada pagar sekolah, karena pendidikan pada masa itu memang tidak dipahami hanya sebagai urusan ruang kelas. Ada nilai, kepantasan, dan tradisi yang dijaga bersama oleh madrasah, keluarga, ulama, dan masyarakat.
Ajaibnya, setiap kali saya menceritakan pengalaman masa sekolah seperti ini, tidak sedikit yang bertanya, “Sekolahnya berafiliasi Salafi, ya? Konservatif sekali.” Saya biasanya menjawab, “Iya, tapi Salafiyah.” Lalu sering kali terdiam sejenak, mungkin membayangkan bahwa ternyata kultur pendidikan Salafi dan Salafiyah dalam beberapa hal tidak sejauh yang selama ini dibayangkan.
Tentu Salafi dan Salafiyah memiliki sejarah, tradisi keilmuan, dan corak keberagamaan yang berbeda. Namun dalam kehidupan sehari-hari ternyata selalu ada benang merah yang dapat ditemukan: kehati-hatian dalam pergaulan, cara berpakaian, disiplin beribadah, penghormatan kepada ulama, sampai usaha menjaga lingkungan pendidikan dari sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan nilai agama. Barangkali yang dibutuhkan hanyalah sedikit kelonggaran dan kelegawaan hati untuk melihat titik temu tanpa harus menghapus perbedaan.
Begitulah Simbang Kulon yang saya kenal dan tempat saya dibesarkan. Sebuah kampung dengan madrasah, masjid, pesantren, dan ulama yang pengaruhnya begitu kuat dalam kehidupan masyarakat. Kalau hari ini ada banyak hal yang tampak berbeda dari apa yang pernah kami alami dahulu, saya pun tidak tahu persis sejak kapan, bagaimana prosesnya, dan mengapa perubahan itu terjadi.
Zaman memang berubah, generasi berganti, dan setiap masa membawa ekspresinya sendiri. Tetapi ingatan tentang Simbang Kulon yang membentuk kami dahulu tetap ada: ketika azan membuat anak-anak berlari meninggalkan kelas menuju masjid, ketika para kiai ikut menjaga perilaku murid bahkan di luar sekolah, dan ketika nilai agama benar-benar terasa sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. (*)
Sumber: FB Fardana Khirzul Haq
