![]() |
| Hindun Afiah. Foto: koleksi pribadi. |
Oleh : Hindun Afiah, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Qadim Paiton Probolinggo
Akhir-akhir ini banyak sekali kita jumpai di sosial media terkait konten sedekah. Sekilas terlihat sangat baik dan mengandung motivasi. Namun, ada hal yang tidak disadari dari konten tersebut yaitu kondisi penerima. Sedekah merupakan perbuatan baik tapi jangan lupa untuk tetap menjaga akhlak kita kepada penerima sedekah.
Sebagai Umat Islam, kita perlu menjaga akhlak dalam bermedia sosial. Sebab dengan akhlak kita bisa menjaga tingkah laku agar tidak menyakiti orang lain. Rasulullah SAW merupakan suri tauladan yang baik. Sehingga umat islam perlu meniru akhlak yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Seperti jujur, Amanah, rendah hati, menghormati orang lain dan lain sebagainya. Hati yang bersih dapat membentuk akhlak yang luhur.
Media sosial merupakan tempat yang bisa dijangkau oleh siapa saja dan dimana saja. Oleh karenanya kita harus menjaga akhlak yang baik dalam bermedia sosial. Sebab ketikan yang kita unggah dalam sosial media itu sangat berbahaya jika tidak dibersamai dengan akhlak mulia.
Banyak sekali di zaman ini orang yang mengunggah apapun yang sedang dilakukan. Baik itu menyangkut kegiatan di rumah, ditempat kerja, keadaan hati, apapun diposting seolah-olah media sosial merupakan tempat baginya berbagi apapun dengan siapapun.
Salah satu kegiatan yang sering diunggah adalah kegiatan berbagi dengan sesama. Kegiatan berbagi merupakan perbuatan yang baik dan mendapatkan pahala bahkan disebutkan sebuah sedekah. Bersedekah dapat mencegah akan datangnya bala' musibah. Sebagaiana Hadits Nabi Muhammad SAW.
بَاكِرُوْا بِالصَّدَقَةِ فَإِنَّ البَلاَءَ لاَ يَتَخَطَّى الصَّدَقَةَ
Artinya: “Segeralah bersedekah, karena sesungguhnya bala tidak akan bisa melewati sedekah.” HR. Thabrani.
Hadis ini secara makna menunjukkan anjuran untuk segera bersedekah. Bisa juga dipahami sebagai anjuran untuk bersedekah sepagi mungkin. Hanya saja, hadis ini statusnya sangat lemah. Hadis ini diriwayatkan at-Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath dan statusnya dhaif jiddan (lemah sekali).
Kemudian ada hadis shahih yang semakna, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
Artinya : Setiap datang waktu pagi yang dialami para hamba, ada 2 malaikat yang turun, yang satu berdoa: “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Sementara yang satunya berdoa, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang kikir.” (HR. Bukhari 1442 & Muslim 2383).
Syekh Ali Jaber juga sering menyampaikan paada setiap mengisi sebuah kajian, beliau dawuh “jika ingin menolak bala’ atau penyakit, maka perbanyaklah bersedekah di pagi hari sebelum beraktivitas.”
Karena bersedekah banyak hikmah yang terkadung di dalamnya. Kita tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini, maka sedekah bisa menjadi tameng. Sedekah bisa menyelamatkan kita. Dan sedekah pula dapat melapangkan rezeki. Karena apa yang kita sedekahkan, maka Allah akan membalas dengan sesuatu diluar prediksi kita.
Namun hal ini dapat menuai kontroversi terkait kegiatan bersedekah yang diunggah di publik dengan tanpa menyamarkan identitas penerima. Karena hal tersebut dapat membuat si penerima malu karena di tonton oleh banyak orang di media sosial.
Zaman sekarang hal tersebut dianggap suatu hal yang biasa dengan dalil untuk saling support sesama agar termotivasi berbagi atau sedekah. Mereka menggunakan dalil Al-Qur’an Surah Al-Baqoroh ayat 271.
اِنْ تُبْدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۚ وَاِنْ تُخْفُوْهَا وَتُؤْتُوْهَا الْفُقَرَاۤءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِّنْ سَيِّاٰتِكُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya. “Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu baik. (Akan tetapi,) jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahanmu. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Ayat di atas menunjukkan kebolehan menampakkan sedekah. Namun lebih baik menyembunyikannya untuk menjaga hati agar tidak riya’. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW.
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا
Artinya : “Barangsiapa yang mencontohkan sunnah hasanah dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengamalkannya.”
Jadi boleh menampakkan sedekah lewat konten dengan tetap menjaga akhlak. Jika berbicara tentang niat, tentu kita tidak bisa membaca hati seseorang. Namun, yang kita tegaskan disini adalah adab kita dalam bersosial media, khususnya tentang konten sedekah. Hal tersebut diperbolehkan dengan syarat tetap menjaga etika yaitu salah satunya dengan menyembunyikan identitas penerima.
Meng-upload konten sedekah dengan tanpa menyebutkan nama penerima atau menyamarkan foto (blur) merupakan akhlak baik sebagai bentuk menghormati penerima sedekah. Membantu tanpa membuat mereka merasa malu.
Jadi, mari lebih bijak lagi dalam bersosial media khususnya dalam konten sedekah. Boleh mensyiarkan kebaikan dengan tujuan agar orang lain termotivasi. Namun jangan lupa,untuk menjaga martabat seseorang. Kita tidak tau dengan sedekah yang kita kontenkan justru membuat orang lain merasa hina. (*)
