| 100 guru dan kepala sekolah/ madrasah di bawah LP Ma'arif NU Jateng ikuti workshop pembelajaran bahasa Inggris di Hotel Novotel Semarang. |
Semarang, soearamoeria.com - Lebih dari 100 guru dan Kepala sekolah/madrasah dari berbagai jenjang pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah mengikuti kegiatan workshop yang diselenggarakan di hotel Novotel Semarang. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 12.30 WIB ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah dalam memperkuat kualitas pembelajaran bahasa Inggris melalui kolaborasi strategis bersama Medan Pustaka Mas dan Pearson Indonesia.
Kegiatan dibuka oleh Dr. Hidayatun, M.Pd., Plh. Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, yang menegaskan bahwa kemampuan berbahasa Inggris tidak lagi dapat dipandang sebagai kompetensi tambahan, melainkan salah satu bekal penting yang perlu dipersiapkan sejak dini agar peserta didik mampu memanfaatkan berbagai peluang yang terbuka di era global.
Ia menyampaikan bahwa LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah terus membuka berbagai peluang kolaborasi dengan institusi nasional maupun internasional, termasuk dalam menyiapkan peserta didik untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Oleh karena itu, penguatan kompetensi bahasa Inggris menjadi salah satu fondasi penting agar peserta didik memiliki kesiapan untuk bersaing dan berkontribusi di tingkat global.
“Program ini merupakan wujud dari mimpi yang sudah lama kami bangun. Berangkat dari kebutuhan agar anak-anak memiliki daya saing internasional, program ini tidak hanya menghadirkan sumber belajar berstandar global, tetapi juga pendampingan selama satu tahun penuh untuk meningkatkan profisiensi guru. Kita perlu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa anak-anak kita harus dipersiapkan untuk berkompetisi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat global,” ungkapnya.
Business Development Manager Medan Pustaka Mas, Derby BS, mengajak para peserta untuk melihat kembali arah pembelajaran bahasa Inggris di sekolah. Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini bukan lagi sekadar memastikan siswa menyelesaikan materi pelajaran, tetapi bagaimana sekolah mampu membangun sistem pembelajaran yang secara konsisten menghasilkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Derby menjelaskan bahwa salah satu tantangan yang sering muncul adalah adanya perbedaan ekspektasi antara guru, sekolah, orang tua, dan peserta didik mengenai hasil belajar bahasa Inggris. Tidak sedikit sekolah yang mengukur keberhasilan hanya berdasarkan nilai ujian atau kemampuan mengerjakan soal, sementara kompetensi berbahasa yang sesungguhnya membutuhkan proses yang lebih panjang dan terukur.
Oleh karena itu, diperlukan kerangka acuan yang jelas agar seluruh pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai target pembelajaran dan indikator keberhasilannya. Melalui pengenalan Common European Framework of Reference (CEFR) dan Global Scale of English (GSE), peserta diajak memahami bagaimana standar internasional dapat membantu sekolah merancang perjalanan belajar yang lebih terstruktur, menetapkan target yang realistis, serta mengukur perkembangan peserta didik secara lebih objektif dan bermakna.
Dian Fransiska Maharani, S.Pd., Pearson Master Trainer, mengangkat berbagai tantangan yang masih dihadapi dalam pembelajaran bahasa Inggris di ruang kelas. Salah satu tantangan terbesar, menurutnya, adalah paradigma pembelajaran yang masih terlalu berpusat pada penguasaan struktur bahasa dan tata bahasa semata.
Ia menjelaskan bahwa proses pemerolehan bahasa (language acquisition) tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak aturan tata bahasa yang dipahami siswa, tetapi juga oleh seberapa sering mereka terpapar dan menggunakan bahasa tersebut dalam konteks yang bermakna.
Ia memberikan analogi sederhana yang dekat dengan keseharian para guru. Ketika seorang anak belajar bahasa Jawa dan melakukan kesalahan dalam berbicara, orang tua atau lingkungan sekitar umumnya tidak langsung menjelaskan aturan tata bahasa secara rinci. Sebaliknya, mereka akan memberikan contoh penggunaan yang benar, mengulanginya dalam berbagai situasi, hingga pada akhirnya anak mampu menggunakannya secara alami. Prinsip yang sama berlaku dalam pembelajaran bahasa Inggris.
Karena itu, guru perlu mulai menggeser perannya dari sekadar pemberi informasi menjadi fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar yang kaya akan interaksi dan penggunaan bahasa. Penggunaan bahasa Inggris sebagai medium of instruction di kelas juga menjadi salah satu strategi penting agar peserta didik mendapatkan paparan bahasa yang lebih banyak dan lebih autentik.
Selain mendapatkan paparan konsep dan strategi pembelajaran, para peserta guru juga mengikuti berbagai aktivitas praktik menggunakan sumber belajar internasional serta pemanfaatan platform digital untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik di kelas. (ah)