![]() |
| Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifatul Choiri Fauzi, saat kunjungan di Bumi Warok Ponorogo. |
Ponorogo, soearamoeria.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifatul Choiri Fauzi, menyoroti isu perundungan yang terjadi di beberapa sekolah. Menurutnya isu ini masih menghantui dunia pendidikan. Sehingga Hal ini menjadi perhatian serius kementeriannya.
Sorotan ini disampaikan dalam kunjungan kerja di Ponorogo, Sabtu (28/3/2026), ia menegaskan: tidak ada toleransi bagi tindakan yang merusak mental dan fisik generasi bangsa.
"Perundungan bukan sekadar kenakalan remaja biasa. Ini adalah ancaman nyata bagi masa depan anak-anak Indonesia," kata Arifatul Choiri Fauzi.
Saat berdialog dengan pendidik dan wali murid Sekolah Rakyat Ponorogo, Arifatul mengingatkan. Lingkungan pendidikan harus menjadi benteng terdepan pencegahan kekerasan.
Kunci utamanya ada pada sinergi antara guru dan orang tua. Perundungan tidak boleh dianggap remeh atau sekadar "bercandaan".
"Dampaknya permanen bagi psikis korban. Saya minta seluruh pihak, terutama sekolah, lebih peka. Jangan tunggu ada laporan, tapi bangun sistem pencegahan yang kuat," tegasnya.
Arifatul juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Pemerintah daerah mulai mengintegrasikan sistem pengawasan dan ruang konseling di sekolah-sekolah.
Fasilitas yang memadai sangat penting. Anak-anak harus merasa aman untuk melapor jika mengalami atau melihat perundungan.
"Sekolah harus menjadi zona aman. Saat masuk gerbang sekolah, mereka harus merasa terlindungi. Fasilitas pengaduan anonim dan ramah anak sangat dibutuhkan agar mereka berani bicara tanpa takut diintimidasi," tambah wanita yang juga menjabat Ketua Umum PP Muslimat NU itu.
Ia berharap Ponorogo bisa menjadi contoh bagi daerah lain. Penanganan kasus anak harus dilakukan cepat dan menyeluruh.
Penguatan Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) pun didorong hingga tingkat desa.
"Kita ingin setiap anak di Ponorogo dan seluruh Indonesia tumbuh di lingkungan yang mendukung. Mari putus mata rantai kekerasan ini bersama-sama," ucapnya.
Di kesempatan yang sama, Menteri Arifatul juga memberikan apresiasi tinggi terhadap keberadaan Sekolah Rakyat di Ponorogo.
Menurutnya, konsep ini bukan sekadar pendidikan alternatif. Ini adalah wadah nyata untuk memperkuat karakter dan memberikan perlindungan inklusif bagi generasi muda.
Didampingi Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita, Arifatul bahkan menyempatkan berdialog langsung dengan para siswa. Suasana terasa hangat dan cair saat ia mendengarkan aspirasi serta keceriaan anak-anak.
"Saya bangga dan terharu melihat semangat mereka. Sekolah Rakyat membuktikan bahwa pendidikan ramah anak dan berbasis komunitas bisa berjalan efektif," katanya.
Tak hanya kurikulum, fasilitas penunjang juga mendapat perhatian. Arifatul menilai sarana di sini sangat mendukung tumbuh kembang anak yang sehat dan aman.
"Ada ruang aman bagi anak untuk berekspresi. Ini sejalan dengan misi kami menciptakan lingkungan pendidikan yang benar-benar melindungi hak-hak anak," tambahnya.
Lisdyarita pun menyambut baik apresiasi dari pusat. Pemerintah daerah berkomitmen terus mengintegrasikan pemberdayaan perempuan dan pendidikan anak melalui model Sekolah Rakyat.
"Kehadiran Ibu Menteri menjadi suntikan semangat. Sekolah ini kami desain untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Tidak ada anak yang boleh tertinggal dalam pendidikan karakter dan perlindungan," ujarnya. (ik)
