Notification

×

Iklan

Iklan

Ligusty Poeziya Pentaskan Musikalisasi Puisi tentang Patiayam

Selasa, 03 Maret 2026 | 10:04 WIB Last Updated 2026-03-03T03:04:27Z
Musikalisasi Puisi Ligusty Poeziya soroti situs purbakala Patiayam sebagai medium ingatan kultural. 


Kudus, soearamoeria.com - Komunitas sastra Ligusty Poeziya yang bernaung di bawah Lesbumi Kudus turut ambil bagian dalam agenda Serah #2 yang digelar Dewan Kesenian Kudus (DKK), Sabtu malam (28/02/2026) di RKBBR. 


Dalam gelaran bertema Ruang Pertunjukan Musikalisasi Puisi itu, Ligusty Poeziya menghadirkan karya yang menyoroti situs purbakala Patiayam sebagai medium ingatan kultural.


Agenda Serah #2 merupakan forum kebudayaan yang dirancang DKK sebagai ruang perjumpaan karya dan publik. 


Mengusung konsep “serah”, karya-karya yang lahir dari pengalaman batin dan refleksi sosial para seniman dipersembahkan kepada masyarakat sebagai pengalaman estetik bersama. Puisi dan bunyi berpadu dalam suasana intim, menciptakan ruang tafsir yang hidup.


Dalam kesempatan tersebut, Ligusty Poeziya membawakan musikalisasi puisi yang mengangkat kegelisahan atas kondisi situs purbakala Patiayam. Melalui perpaduan teks, aransemen musikal, serta ekspresi panggung, karya tersebut menghadirkan kembali kesadaran kolektif tentang pentingnya merawat sejarah dan identitas lokal Kudus.


Koordinator Ligusty Poeziya, Edi Buseng, menegaskan bahwa sastra tidak hanya menjadi ruang ekspresi personal, tetapi juga medium refleksi sosial. “Patiayam bukan sekadar situs purbakala, melainkan jejak peradaban yang membentuk kesadaran kita hari ini. Lewat musikalisasi puisi, kami ingin mengajak publik kembali membaca ruang dan sejarahnya,” ujarnya.


Ketua Lesbumi Kudus, Abud S.B Runcing, turut mengapresiasi partisipasi Ligusty Poeziya dalam forum tersebut. Menurutnya, keterlibatan komunitas sastra dalam ruang-ruang kebudayaan menjadi bagian penting dari ikhtiar merawat warisan lokal. 


“Lesbumi hadir untuk memastikan kebudayaan tidak terputus dari akar sejarah dan nilai-nilai masyarakatnya. Patiayam adalah identitas kultural yang harus terus dihidupkan melalui berbagai medium, termasuk sastra dan pertunjukan,” katanya.


Selain Ligusty Poeziya, sejumlah penampil lain turut meramaikan panggung, mulai dari kelompok pelajar hingga sastrawan muda yang membawakan karya dengan pendekatan musikal kontemporer. Forum diskusi yang menyertai pertunjukan juga mempertemukan generasi muda dan pegiat sastra senior dalam dialog tentang lanskap literasi hari ini.


Melalui partisipasi dalam Serah #2, Lesbumi Kudus menegaskan komitmennya dalam merawat kebudayaan berbasis kearifan lokal. Panggung sastra semacam ini dinilai penting sebagai ruang bertumbuhnya ekosistem seni yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat relasi antara teks, ruang, dan identitas masyarakat Kudus. (ah)

close close