Notification

×

Iklan

Iklan

Puasa Bagi yang Bertakwa, Bagi yang Belum Siap Harus Berikhtiar: Pesan dari Al-Qur'an dan Hadits

Kamis, 19 Februari 2026 | 07:52 WIB Last Updated 2026-02-19T00:54:05Z
Imam Kusnin Ahmad. Foto: Koleksi pribadi. 


Oleh : H. Imam Kusnin Ahmad S.H.,Wartawan Senior dan Ketua Takmir Masjid Al Musthofa Udanawu Blitar


Puasa adalah salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan sangat penting dalam kehidupan umat Muslim. Dalam ajaran agama Islam, puasa tidak hanya diwajibkan bagi mereka yang telah memenuhi syarat, tetapi juga menjadi teladan bagi mereka yang belum mampu untuk terus berusaha memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 


Al-Qur'an secara jelas menjelaskan bahwa puasa adalah ibadah yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Baqarah [2]: Ayat 183 yang berbunyi:


 "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ"


Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa."


Sementara bagi mereka yang belum dapat melaksanakannya karena berbagai alasan, ajaran Islam mengingatkan untuk terus berikhtiyar, seperti yang dipertegas dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA: 


"لاَ يُحِبُّ اللَّهُ إِلاَّ الْمُحْسِنَ الْمُجْتَهِدَ وَلَوْ قَلِيلاً"

Artinya: "Tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintai oleh Allah SWT daripada hamba-Nya yang berbuat kebaikan dan berusaha (ihtiyar), walaupun sedikit."), yang dinilai shahih dan termasuk dalam kitab Shahih Sunan Tirmidzi.

 

Firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 menunjukkan bahwa puasa bukanlah ibadah baru yang diperkenalkan pada umat Islam, melainkan telah menjadi bagian dari ajaran agama yang diberikan kepada umat terdahulu, dengan tujuan utama agar manusia dapat mencapai tingkat ke-taqwa'an yang tinggi.

 

Kata "takwa" dalam ayat ini memiliki makna yang luas, yaitu rasa takut yang mendalam kepada Allah SWT, disertai dengan kesadaran akan segala perbuatan yang dilakukan dan upaya untuk selalu menjauhi segala bentuk kemungkaran serta mengerjakan kebaikan. 


Puasa dijadikan sebagai sarana untuk melatih diri dalam mengendalikan hawa nafsu, mengembangkan rasa empati terhadap sesama yang kurang beruntung, dan memperdalam hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Bagi orang yang telah bertaqwa, puasa menjadi ibadah yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, bukan hanya sebagai kewajiban yang harus dipenuhi semata.

 

Namun, ajaran Islam juga mengakui bahwa tidak semua orang dapat menjalankan puasa dengan sempurna atau bahkan sama sekali tidak dapat melakukannya. Beberapa kelompok seperti orang sakit, wanita hamil atau menyusui, musafir yang dalam perjalanan jauh, serta orang yang belum baligh, diizinkan untuk tidak berpuasa dengan catatan tertentu. 


Bagi mereka yang belum mampu menjalankan puasa karena belum mencapai kedewasaan atau karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan, ajaran Islam tidak memaksakan, tetapi malah mengajak untuk terus berihtiyar dalam memperbaiki diri dan mempersiapkan diri agar kelak dapat menjalankan ibadah ini dengan penuh kemampuan.

 

Sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa Allah SWT lebih mencintai hamba-Nya yang berbuat kebaikan dan berusaha walaupun sedikit, memberikan pencerahan bahwa usaha dan upaya yang dilakukan dengan ikhlas oleh seorang hamba, meskipun dalam skala kecil, akan selalu mendapatkan pengakuan dan ridha dari Allah SWT.

 

Bagi mereka yang belum dapat berpuasa, berihtiar dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Misalnya, dengan belajar memahami hikmah dan tujuan dari ibadah puasa, melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu dalam kehidupan sehari-hari, membantu orang lain yang sedang berpuasa dengan memberikan makanan atau minuman saat berbuka, serta meningkatkan kualitas ibadah lainnya seperti shalat, membaca Al-Qur'an, dan bersedekah. 


Semua bentuk usaha ini merupakan bagian dari persiapan diri agar kelak ketika sudah mampu, mereka dapat menjalankan puasa dengan penuh keikhlasan dan manfaat.

 

Ikhtiyar juga berarti tidak pernah menyerah dalam berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Bagi anak-anak yang belum baligh, berihtiar dapat dilakukan dengan cara mengikuti pengajaran tentang ibadah puasa dari orang tua atau guru agama, mencoba berpuasa sebentar-sebentar sesuai dengan kemampuan mereka, dan memahami bahwa puasa adalah ibadah yang penuh berkah yang akan mereka jalankan nantinya. 


Bagi orang yang sedang sakit atau memiliki kondisi khusus yang tidak memungkinkan untuk berpuasa, berikhtiar dapat dilakukan dengan cara menjaga kesehatan diri, memohon kesembuhan kepada Allah SWT, dan menggantikan puasa tersebut ketika sudah mampu atau dengan membayar fidyah sesuai dengan ketentuan syariat.

 

Puasa sebagai ibadah yang diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa membawa pesan mendalam tentang pentingnya mengendalikan diri, meningkatkan rasa empati, dan memperdalam hubungan dengan Allah SWT. Bagi mereka yang belum dapat menjalankan puasa, ajaran Islam mengajak untuk tidak merasa minder atau putus asa, tetapi malah untuk terus berihtiar dalam memperbaiki diri dan mempersiapkan diri agar kelak dapat menjalankan ibadah ini dengan sempurna. 


Ayat Al-Qur'an dan hadis Rasulullah SAW yang telah disebutkan memberikan landasan yang kuat bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan ikhlas akan selalu mendapatkan balasan yang baik dari Allah SWT. 


Semoga kita semua dapat menjadi orang-orang yang bertaqwa yang mampu menjalankan ibadah puasa dengan penuh kemampuan, atau bagi yang belum mampu, selalu di diberikan kekuatan untuk terus berihtiar dalam meraih kebaikan dan kedekatan kepada Sang Pencipta. Wallahul A'lam Bisshawab. (*)

close close