![]() |
| Gebyar pendidikan inklusif Kabupaten Semarang 2026 di Pendopo Kabupaten Semarang pada 14 Februari 2026. |
Semarang, soearamoeria.com - Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang mengukuhkan langkah strategis dalam mewujudkan ekosistem pendidikan ramah disabilitas.
Melalui helat "Gebyar Pendidikan Inklusif Kabupaten Semarang 2026" di Pendopo Kabupaten Semarang (14/2/2026), kegiatan ini secara resmi menjadi bagian dari rangkaian FGD dan pengisian Profil Belajar Siswa (PBS) yang diinisiasi oleh Direktorat KSKK Madrasah Kemenag RI bulan Juni tahun lalu.
PBS merupakan instrumen nasional untuk memetakan kebutuhan khusus peserta didik secara akurat, sehingga pemberian Akomodasi yang Layak (AYL) dapat dilakukan secara presisi dan berkelanjutan di setiap madrasah.
Ketua FPMI Pusat, Supriyono, memimpin Proses Deklarasi Komitmen "Satu Tekad, Satu Aksi". Deklarasi Komitmen yang dibacakan langsung oleh Bupati Semarang, Wakil Ketua DPRD, Kepala Kankemang, dan unsur masyarakat ini menegaskan peran Kemang dan FPMI sebagai motor penggerak dalam mendampingi pendidik melakukan transformasi dari pola asuh berbasis belas kasihan (charity-based) menjadi pemenuhan hak asasi (rights-based).
Kepala Kankemenag Kabupaten Semarang, Ta'yinul Birri Bagus Nugraha, menekankan bahwa komitmen ini diwujudkan melalui penguatan struktur pendukung teknis.
"Kankemenag telah membentuk Unit Layanan Disabilitas (ULD) sebagai pusat sumber dukungan. Bersama instrumen PBS dari Kementerian Agama, ULD akan memastikan setiap anak di madrasah mendapatkan layanan yang sesuai dengan profil belajarnya," tuturnya.
Salah satu momentum penting dalam acara ini adalah penyerahan bantuan fasilitas bagi peserta didik. Bantuan yang disalurkan oleh Disdikbudpora, Dinas Sosial, dan BAZNAS Kabupaten Semarang merupakan hasil nyata dari proses pendataan Peserta Didik Penyandang Disabilitas (PDPD) yang dilakukan secara kolaboratif oleh Kankemenag dan Disdikbudpora dengan dukungan teknis FPMI. Berkat akurasi data tersebut, bantuan berupa uang pembinaan, kursi roda, hingga alat bantu dengar dapat diberikan secara tepat sasaran kepada mereka yang membutuhkan.
Kemeriahan acara mencapai puncaknya pada sesi Panggung Talenta, di mana para peserta didik menunjukkan bakat luar biasa yang merefleksikan keberhasilan pendampingan inklusif di masing-masing satuan pendidikan.
Penampilan dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an kolaboratif yang syahdu oleh siswa SLBN Ungaran dan MI Beji, dilanjutkan dengan harmoni religi duet salawat dari MI Nyatnyono 02 serta musikalisasi puisi penuh penghayatan oleh perwakilan RA Tuntang.
Suasana semakin semarak dengan gerak gemulai seni tari kreatif anak-anak RA Leyangan dan alunan ansambel angklung yang harmonis dari PKBM Kristha Pertiwi, hingga akhirnya ditutup dengan gempita penampilan Tari Warok Inklusif dari siswa-siswi MIN 5 Semarang yang memukau seluruh hadirin.
Sembari menyaksikan penampilan tersebut, Bunda Inklusi Kanwil Kemenag Jateng, Ade Komaria Saiful Mujab yang didampingi Bunda Inklusi Kankemenag Kab. Semarang, Lu’lu’ul Sholikhah Bagus Nugroho, tampak terharu dan memberikan apresiasi tinggi.
"Apa yang kita lihat hari ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi; jika kita memberikan panggung dan dukungan yang tepat, talenta mereka akan bersinar melampaui ekspektasi kita semua," ungkapnya dengan penuh rasa bangga.
Gebyar ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Kabupaten Semarang, memastikan prinsip no one left behind benar-benar terwujud dalam langkah nyata dan kolaborasi yang bermartabat. (ah)
