![]() |
| Ali Achmadi. Foto: koleksi pribadi. |
Oleh : Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan, Peminat Masalah Sosial, tinggal di Pati
Setiap Senin pagi, jutaan pelajar Indonesia berdiri tegak.
Topi miring sedikit. Sepatu hitam kadang masih berdebu.
Lalu ikrar dibaca bersama-sama.
Kami Pelajar Indonesia, berikrar untuk:
Belajar dengan baik.
Menghormati orang tua.
Menghormati guru.
Rukun sama teman.
Mencintai tanah air Indonesia.
Selesai. Hening sejenak. Bendera tetap berkibar. Saya membaca ikrar itu pelan-pelan.
Diulang. Diperhatikan satu per satu. Ada orang tua. Ada guru. Ada teman. Ada tanah air. Tapi saya tidak menemukan Tuhan.
Saya bukan sedang cari-cari kesalahan. Saya hanya penasaran: Tuhan ditaruh di mana? Apakah Tuhan sudah dianggap otomatis hadir? Atau justru dianggap terlalu sensitif untuk disebut?
Padahal dulu, kita dibesarkan dengan kalimat sederhana:
Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kalimat itu dulu tidak bikin ribut. Tidak bikin gaduh. Tidak dianggap radikal. Tidak pula dituduh eksklusif.
Sekarang, entah kenapa, kata “Tuhan” seperti tamu yang sopan tapi tidak diundang. Mungkin ada yang berpikir begini: Anak sekolah cukup diajari sopan. Cukup pintar. Cukup nasionalis.
Soal iman? Nanti saja. Urusan rumah. Urusan orang tua.
Urusan pelajaran agama di jam tersendiri. Padahal justru di situlah masalahnya.
Anak bisa belajar dengan baik, tapi mencontek tanpa rasa bersalah. Bisa menghormati guru, tapi memaki di belakang. Bisa rukun dengan teman, tapi tega membully yang lemah. Bisa mencintai tanah air, tapi gemar merampas hak orang lain saat dewasa.
Semua dilakukan dengan rapi. Dengan senyum. Dengan alasan. Bahkan kadang dengan peraturan yang legal. Karena moral tanpa Tuhan sering kali hanya soal takut ketahuan, bukan takut berbuat salah. Mungkin kita terlalu khawatir menyebut Tuhan akan membuat ikrar terasa “tidak modern”. Padahal justru bangsa yang besar tidak alergi pada nilai dasarnya sendiri.
Pancasila saja masih menaruh Ketuhanan di sila pertama. Bukan di catatan kaki. Bukan di lampiran. Di nomor satu.
Tapi di ikrar pelajar, Tuhan malah seperti lulusan yang tidak dipanggil saat wisuda. Ironisnya, kita rajin bertanya kenapa moral generasi muda merosot. Kenapa etika menipis. Kenapa nurani dan adab sering kalah oleh nilai rapor. Mungkin jawabannya sederhana: karena sejak pagi hari, sejak upacara bendera, Tuhan sudah absen dari janji mereka sendiri.
Mungkin sudah waktunya ikrar itu dibaca ulang. Bukan untuk menambah hafalan. Tapi untuk mengembalikan yang hilang. Bukan agar anak-anak jadi sok alim. Melainkan agar mereka tahu: ada yang lebih tinggi dari guru, lebih besar dari negara, dan lebih jujur dari kamera pengawas. Namanya Tuhan. Dan rasanya, Ia layak disebut. (*)
