![]() |
| Fikri Hailal. (Foto: koleksi pribadi) |
Oleh : Fikri Hailal, Santri Pondok Pesantren LSQ Ar-Rohmah Bantul Yogyakarta
Pagi di Mariat Pantai, Aimas, Sorong; selalu dimulai dengan desir angin laut dan pembiasaan lantunan ayat suci di jerambah masjid Baitul Mu’allaf Al-Kautsar. Ketika matahari belum sepenuhnya bangun, para santri telah duduk bersila, mushaf di tangan, menata makhraj dan tajwid dengan penuh kesungguhan. Di situlah pengabdian ini mulai berakar —bukan pada gemerlap, melainkan pada kesabaran yang tumbuh perlahan dengan penuh keterbatasan.
Pengabdian di Pondok Pesantren Baitul Muallaf Al-Kautsar, Sorong; bukan sekadar agenda, melainkan perjalanan batin yang nyata. Apa yang dulu dikaji dalam pesantren, yang dulu sempat didengar dalam lingkup perkuliahan, dan bahkan hanya ditonton lewat kanal platform media sosial. Sekarang, suasana imaji tersebut terasa nyata dan gamblang tanpa ada intervensi goreng-gorengan selera netizen.
Tanah Papua Barat Daya mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu hadir dalam mimbar tinggi, tetapi seringkali menyapa lewat kesederhanaan, keteladanan, ketekunan, dan kesediaan untuk mendengar setiap cerita kehidupan. Mengajar Risalatul Aqlam, Ta’limul Muta’allim, dan menemani santri belajar adab serta aqidah menjadi ruang belajar dua arah —bagi yang mengajar dan yang diajar.
Setiap sore, selepas aktivitas harian, pengajian kembali menghidupkan pondok dan suara teriakan usai ngaji sore. Selalu penuh dengan teriakan anak-anak santri yang bertukar tendangan bola kaki diatas lapangan pasir bercampur tanah padas. Malam-malam diisi dengan pengajian kitab washoya, tarikh Nabi, dan yasin fadhilah setiap malam jum’at yang perlahan menarik masyarakat sekitar untuk saling merajut rasa dalam ikatan suluk batin –wadhifah bersama setiap malam jum’at.
Tak selalu mudah. Sebab, jamaah datang dengan latar yang beragam; sebagian masih sangat awam, sebagian lainnya belajar menata ulang keyakinan. Namun dari situlah makna khidmah kepada masyarakat terasa: “hadir tanpa menuntut dan mengabdi tanpa pamrih”.
Di luar rutinitas, pengabdian menjelma dalam jejaring ukhuwah. Bantuan al-Qur’an hadir sebagai harapan baru; diskusi kepesantrenan mempertemukan gagasan –RPS (Rabithah Pesantren Sorong Papua Barat Daya); kunjungan para kiai menguatkan arah —bahwa pesantren di timur dan barat sejatinya satu napas. Puncaknya, sosialisasi program khidmah di sekolah membuka cakrawala generasi muda tentang jalan pengabdian yang bermartabat.
Ada keterbatasan —tenaga yang minim, administrasi yang sederhana, dan gairah jamaah yang kadang surut. Namun di sanalah Allah Swt menumbuhkan keikhlasan. Khidmah mengajarkan bahwa hasil bukan selalu angka, melainkan perubahan kecil yang istiqamah: santri yang lebih berani berkhutbah, jamaah yang mulai setia hadir, dan masyarakat yang perlahan merasakan pesantren sebagai rumah.
Ketika masa pengabdian usai, yang tertinggal bukan hanya laporan, tetapi ikatan. Ikatan hati antara guru, santri, dan masyarakat. Di tanah timur ini, pengabdian menemukan maknanya —“sebuah perjalanan sunyi yang meneguhkan iman, menumbuhkan ilmu, dan mengajarkan bahwa melayani adalah jalan pulang menuju ridha-Nya”.
Terkadang, pahitnya hidup tidak selamanya tentang kopi tanpa gula. Santri yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan tidak kembali lagi ke pondok, karena alasan hafalan. Atau mungkin, santri yang dikeluarkan karena alasan pelanggaran terhadap peraturan pondok.
Sebagai orang yang sedang belajar mendidik diri sendiri melalui para santri. Terkadang membuat hati dan pikiran menjadi runyam. Seolah seperti pemaksaan atas rasa ridho terhadap takdir-Nya. Bahwa dirinya bukan lagi menjadi bagian dari kisah kita –bukan ditinggal pas lagi sayang-sayange lho ya.
Teringat kalam dawuh dari simbah KH. Anwar Manshur; Pengasuh Pesantren Lirboyo:
“...Seorang guru tidak pernah khawatir ditinggal murid, akan tetapi guru selalu khawatir bagaimana keadaan sang murid setelah meninggalkannya”.
Mungkin, perasaan dilema inilah yang dirasakan para guru-guru kita, di saat kita beranjak meninggalkan pesantren untuk bermukim ditempatnya masing-masing, boyongan pondok.
Tabur Tuai: bagai gayung yang bersambut. Program Khidmah al-Ijtima’iyyah yang telah berjalan bukan sekadar agenda rutin pesantren. Ia hadir sebagai jawaban atas dahaga umat akan bimbingan, pendampingan, dan keteladanan. Di tanah yang majemuk keyakinan dan budaya, Pondok Pesantren Baitul Muallaf Al-Kautsar berusaha menyalakan lentera Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan cara yang santun dan membumi.
Namun khidmah tidak berhenti di dalam pagar pesantren. Ia melangkah keluar, menyapa masyarakat. Seperti di kampung Salawati, Raja Ampat, untuk sekedar khutbah jum’at. Kemudian di kampung Wariyau, Klamono, gema pengajian akbar mempertemukan mahasiswa KKN, santri, dan warga dalam satu majelis ilmu. Di KM.13 Sorong, pesan dakwah disampaikan di tengah bazar pembangunan masjid —membuktikan bahwa agama dan kehidupan sosial dapat berjalan beriringan.
Selain itu, kebersamaan juga terjalin dalam forum rapat wali santri. Di sana, musyawarah berlangsung hangat, membahas masa depan anak-anak yang sedang menapaki jalan kebaikan dibawah atap pesantren. Bahkan dalam suasana duka, ketika tahlilan digelar di rumah salah satu warga, perwakilan pihak pesantren turut hadir membersamai dan menguatkan —karena dakwah sejati adalah hadir di setiap keadaan.
Buah dari khidmah ini mulai tampak. Jumlah santri bertambah yang awalnya berjumlah 5 santri sekarang bertambah menjadi 15 santri. Kepercayaan masyarakat menguat, dan masjid semakin hidup. Meski tantangan masih ada, semangat gotong royong dan harapan akan masa depan yang lebih baik terus menyala.
Di akhir perjalanan pengabdian ini, satu hal menjadi jelas: Khidmah al-Ijtima’iyyah bukan hanya tentang mengajar dan membimbing, tetapi tentang menanam. Menanam iman, ilmu, dan akhlak. Dan kelak, dari tanah Mariat Pantai ini, insyaAllah akan tumbuh generasi yang teguh dalam keyakinan, santun dalam pergaulan, dan kuat dalam pengabdian kepada umat dan bangsa.
Salam sejahtera dan gemah ripah loh jinawi dari bumi cendrawasih. Semoga harapan kedepannya, untuk para adik-adik santri LSQ Ar-Rohmah yang hadir pada pengabdian berikutnya. Senantiasa mampu memberikan nafas pengabdian yang lebih segar dan membumi terhadap masyarakat sekitar. (09)
