![]() |
| Sosialisasi empat pilar yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Hadi, Mranggen, Demak, Senin (8/12/2025). |
Demak, soearamoeria.com - Musibah dan bencana yang terjadi belakangan ini, tentunya bukan sesuatu yang serta merta datang begitu saja.
Bencana tersebut sebetulnya bisa diantisipasi lebih dini apabila dalam pengelolaan dan pelestarian lingkungan diprioritaskan. Sehingga, kerusakan alam yang berakibat bencana banjir dan tanah longsor bisa diminimalisasi.
“Bencana ini, boleh dikatakan karena memang kelestarian lingkungan diabaikan. Hutan yang seharusnya dijaga kelestariannya, justru mengalami deforestasi besar-besaran dengan dalih industrialisasi tanpa memperhitungkan efek yang ditimbulkan,” ujar Wakil Ketua Badan Pengkajian MPR RI, Hindun Anisah, dalam acara sosialisasi empat pilar yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Hadi, Mranggen, Demak, Senin (8/12/2025).
Hindun pun mengkritisi kebijakan pemerintah yang seakan menyederhanakan masalah bencana karena iklim atau cuaca. Padahal, kata dia, kalaupun akbat dari iklim dengan tingginya curah hujan, dipastikan tak mampu mencerabut pohon-pohon besar dari akarnya.
“Ini mustahil kalua karena cuaca atau iklim. Kan jelas-jelas kayu gelondongan bekas potongan mesin yang terhampar diberbagai tempat. Lucu kalua angina tau derasnya hujan mampu mencabut pohon dari akrnya di tengah hutan yang lebat,” ulasnya.
Dirinya berharap, agar pemerintah serius mengungkap para pelaku pembalakan hutan yang sangat sporadis itu. Meskipun, sambungnya, secara legal Perusahaan telah mengantongi izin.
“Kalau bisa diurai lebih serius. Siapa yang salah dalam pengelolaan hutan dan lingkungan ini. Kalaupun karena mudahnya perizinan yang dikeluarkan, tentunya harus ada evaluasi total terhadap pengambil kebijakan,” tandas anggota Komisi IV DPR RI ini.
Kerugian materiil dan besarnya korban jiwa, menurut Hindun, tak sebanding dengan rusaknya hutan dan lingkungan. Apalagi, kata dia, ekosistem hutan termasuk satwa pun menjadi musnah akibat salah dalam mengambil kebijakan. (ya)
