Ibu, Penyumbang Terbesar Perkembangan Anak - Soeara Moeria

Breaking

Kamis, 26 Oktober 2023

Ibu, Penyumbang Terbesar Perkembangan Anak

Kasih sayang ibu sepanjang masa. (Foto: suaramuslim.net)

Oleh: Irna Maifatur Rohmah, alumnus UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto


Memiliki seorang anak merupakan anugerah yang pantas untuk disyukuri setiap saat. Kehadiran anak dapat menjadi obat ketika dunia sedang tidak baik-baik saja. Ketika lelah bekerja, begitu melihat anak semua rasa lelah seolah langsung hilang. Yang tadinya mau langsung tidur berbalik kepada anak dan mengajaknya main barang sebentar. Tentunya seperti apapun kondisi anak, tidak ada orang tua yang membenci anaknya. Terlebih seorang ibu.


Perempuan yang menyandang status seorang ibu, mau tidak mau harus menurunkan egonya demi sang buah hati yang membutuhkan bantuan dan bimbingan. Istilah merelakan mimpi demi seorang anak memang benar adanya. Anak yang terlahir sebagai bayi yang hanya bisa menangis, tidur, buang air, dan makan, sangat bergantung kehidupannya kepada orang di sekitarnya, khususnya ibu. Bagaimana tidak, semenjak awal kehidupannya saja sudah menyatu dengan ibu, bukan ayah. Meski ayah juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Namun sentuhan ibu berpengaruh besar dalam perkembangan anak.


Dunia anak masih seputar ibu dan keluarga. Seluruh waktu anak dihabiskan dan melibatkan ibu. Dari sinilah mungkin istilah ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak muncul. Bagaimana kebiasaan dan didikan awal berasal dari seorang ibu, meskipun nantinya dikembangkan di sekolah. Namun yang utama adalah ibu. 


Dari beberapa kali membantu mengajar di idadiyah yang notabane-nya masih balita, ibu menyumbang beberapa hal terhadap perkembangan anak. Di antaranya sebagai berikut: Kemampuan akademik. Salah satu tujuan dari lembaga pendidikan yakni peningkatan kemampuan akademik. 


Bagi seorang balita, kemampuan akademik memiliki ikatan yang kuat dengan kondisi seorang ibu. Di balik anak dengan kemampuan akademik yang bagus pasti ada seorang ibu yang dengan telaten mengajarkan di rumah. Entah itu secara langsung atau memfasilitasinya dengan guru privat. Selain itu, kedisiplinan dan konsistensi seorang ibu juga terlibat. Sebab anak merupakan peniru yang ulung. Sehingga satu kejadian yang berulang-ulang akan melekat pada anak. 


Kemampuan emosional. Cara mendidik anak juga bisa dilihat dari kepribadian anak. Sebab kembali lagi, anak adalah peniru yang ulung. Anak dengan didikan yang lembut dan penuh kasih sayang akan menghasilkan anak yang penyayang dan tidak arogan. Namun anak yang dididik dengan keras akan menghasilkan anak yang keras dan kadang arogan. Kesabaran seorang ibu juga bisa terlihat dari anak. Anak yang mudah emosi biasanya juga memiliki ibu yang mudah emosi.


Kemampuan sosial. Dunia anak yang memang berputar di sekitaran ibu, namun tidak berarti anak tidak melakukan interaksi sosial dengan sekitar. Sekarang seringkali orang tua yang mengaku sudah mengajarkan kepada anak dan anak bisa lancar ketika di rumah, namun ketika di sekolah hasilnya zonk. Anak hanya mau dengan orang tua atau ibu. Padahal di sekolah tidak hanya ada orang tua atau ibu. 


Selama di sekolah, tanggung jawab sementara berpindah ke guru. Namun apa jadinya jika anak hanya mau dengan orang tua. Inilah pentingnya melatih anak untuk interaksi dengan sekitar. Hal ini harus dimulai dari ibu yang mengajaknya bermain dengan tetangga. Semakin luas interaksi anak semakin baik untuk perkembangan anak. 


Rasa percaya diri. Belajar di sekolah artinya anak tidak hanya belajar seorang diri. Anak akan bertemu dengan orang-orang baru dan teman sebaya yang baru pula. Lingkungan dan kondisi sekitar juga akan berbeda dengan kebiasaan di rumah yang tidak selalu seramai sekolah. 


Di sinilah kepercayaan orang tua pada anak harus diberikan sepenuhnya. Ibu harus tega melihat dan mendengar tangisan anak yang tidak nyaman dengan guru dan teman yang baru. Ibu harus membiarkan anak untuk sendiri dan memberi dukungan moril. Ibu harus meyakinkan bahwa anak bisa bergabung dengan guru dan teman tanpa rasa takut. Hal tersebut paling hanya bertahan selama seminggu. Setelahnya anak sudah terbiasa dan drama makin berkurang. Namun ibu harus siap mental di awal untuk mendengar tangisan anak. (03)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar