![]() |
| Ali Achmadi. Dok. pribadi. |
Oleh : Ali Achmadi, peminat masalah pendidikan dan sosial, tinggal di Pati
Pukul 06.50. Gerbang sekolah mulai ramai. Satu per satu siswa berdatangan. Ada yang berjalan kaki, ada yang diantar orang tuanya, ada pula yang naik sepeda motor. Beberapa sudah berlarian ke halaman. Sebagian lagi langsung menuju kelas sambil menyalami guru piket. Petugas piket sudah berdiri di tempatnya. Senyum sudah disiapkan sejak sepuluh menit lalu. Kepala sekolah sesekali melihat jam tangan.
Semuanya tampak normal. Hanya ada satu yang belum terlihat. Seorang guru. Jam bergeser menjadi pukul 07.00. Bel berbunyi. Kegiatan pagi dimulai. Lima menit kemudian. Sebuah sepeda motor berhenti mendadak di halaman sekolah. Mesinnya bahkan belum benar-benar mati ketika pengendaranya turun.
Tas langsung disandang. Langkah berubah menjadi setengah berlari. Wajahnya terlihat terburu-buru.
Langsung menuju ke kelas. Begitu sampai di depan kelas, napasnya masih terengah-engah. "Maaf, anak-anak, kita mulai pelajaran sekarang." Murid-murid berdiri memberi salam. Pelajaran berlangsung seperti biasa. Guru itu sebenarnya mengajar dengan baik. Anak-anak menyukainya. Materinya dikuasai.
Cara menjelaskannya menarik. Kalau hanya menilai kualitas mengajar, mungkin ia termasuk guru yang baik.
Masalahnya hanya satu. Ia sering terlambat. Besoknya. Terulang lagi. Minggu depannya. Masih sama.
Sebulan kemudian. Polanya tidak berubah. Inilah situasi yang sering membuat kepala sekolah berada dalam posisi yang tidak mudah. Yang terlambat bukan guru yang malas. Bukan guru yang tidak peduli.
Bukan pula guru yang tidak kompeten. Justru sering kali guru yang cukup berprestasi. Yang lemah hanya satu. Disiplin waktunya.
Banyak kepala sekolah langsung mengambil jalan tercepat. Memanggil guru itu. Lalu bertanya dengan nada kesal. "Bu, kenapa sih selalu terlambat?" Jawabannya hampir bisa ditebak. "Maaf Pak, tadi motr bermasalah."
Esoknya terlambat lagi. "Maaf Pak, anak saya kurang enak badan."Beberapa hari kemudian. "Ban motor bocor, Pak. "Seminggu berikutnya. "Ada keperluan mendadak."
Percakapan itu berulang. Lagi. Dan lagi. Yang berubah hanya jenis alasannya. Bukan perilakunya. Karena pembicaraan selalu berhenti pada alasan. Tidak pernah sampai pada akar persoalan. Seorang kepala sekolah yang bijak biasanya memilih cara berbeda. Ia tidak menegur di depan guru lain. Tidak mempermalukan. Tidak meninggikan suara. Ia justru mengajak bicara secara pribadi. Rilek. Tanpa penonton.
Setelah suasana cukup tenang, ia membuka pembicaraan. "Bu, saya ingin berbicara. Tapi bukan tentang keterlambatan Ibu hari ini." Guru itu mulai terlihat bingung. Kepala sekolah melanjutkan. "Saya ingin berbicara tentang pola keterlambatan yang terus berulang."
Kalimat itu biasanya membuat suasana berubah. Guru mulai diam. Tidak lagi sibuk mencari alasan. Karena yang sedang dibahas bukan satu kejadian. Melainkan sebuah kebiasaan.
Lalu kepala sekolah bertanya dengan nada yang tetap tenang. "Menurut Ibu sendiri, apa penyebab utamanya?"Pertanyaan itu sederhana. Tetapi sangat kuat. Karena tidak menghakimi. Tidak menyudutkan. Yang dilakukan hanyalah mengajak guru melihat dirinya sendiri. Kadang jawaban yang muncul justru tidak pernah terdengar sebelumnya.
"Tiap pagi saya harus mengantar anak sekolah dulu." Mungkin ada juga yang berkata pelan. "Sejujurnya, saya memang sering salah mengatur waktu." Nah, di situlah akar persoalan mulai terlihat.
Namun pembicaraan belum selesai. Kepala sekolah lalu menggeser fokusnya. Bukan lagi kepada aturan.
Melainkan kepada murid. "Bu, saya tidak sedang menghitung lima atau sepuluh menit keterlambatan Ibu."bGuru itu mengangguk pelan. Kepala sekolah meneruskan.
"Yang saya pikirkan adalah anak-anak yang sudah duduk rapi di kelas, tetapi masih harus menunggu gurunya datang." Suasana menjadi hening. Kalimat itu lebih mengena dibandingkan: "Ibu melanggar tata tertib."
Guru pada dasarnya adalah pendidik. Hatinya lebih mudah tersentuh ketika berbicara tentang murid dibandingkan soal-soal administratif. Lalu datang bagian yang paling penting. Jangan buru-buru memberi ancaman. Jangan pula langsung mengeluarkan surat peringatan. Ajak guru ikut menemukan solusi.
"Menurut Ibu, apa yang bisa dilakukan supaya bulan depan ini tidak terulang?" Guru berpikir beberapa saat. Lalu menjawab. "Saya harus berangkat lima belas menit lebih awal." Kepala sekolah tersenyum. "Baik. Kita lihat selama satu bulan kedepan. Saya akan membantu memonitor. Kalau ada kendala, mari kita cari jalan keluarnya bersama." Perhatikan satu hal. Solusi itu bukan datang dari kepala sekolah.
Tetapi dari guru sendiri. Komitmen yang lahir dari diri sendiri hampir selalu lebih kuat daripada perintah dari orang lain.
Ada satu kesalahan yang juga sering dilakukan pimpinan. Mereka berbicara berdasarkan perasaan. "Saya merasa Ibu sering terlambat." Kalimat seperti itu mudah diperdebatkan. Karena perasaan tidak punya ukuran. Lebih baik gunakan data. "Dalam satu bulan terakhir, Ibu tercatat terlambat sepuluh kali." Tidak ada yang bisa dibantah. Data membuat percakapan menjadi objektif. Tidak berubah menjadi adu alasan.
Namun ada hal lain yang tidak kalah penting. Sering kali perhatian kepala sekolah hanya tertuju kepada guru yang bermasalah. Sementara guru yang disiplin dianggap biasa saja. Padahal mereka juga membutuhkan penghargaan. Tidak harus berupa uang. Tidak harus berupa hadiah. Kadang cukup sebuah kalimat saat rapat.
"Terima kasih kepada Bapak dan Ibu guru yang selama bulan ini selalu hadir tepat waktu. Karakter disiplin seperti inilah yang sedang kita bangun bersama." Kalimat sederhana. Tetapi mampu membuat orang merasa dihargai. Dan penghargaan sering kali lebih kuat daripada hukuman.
Pada akhirnya, persoalan ini sebenarnya bukan soal pukul 06.50 atau 07.05. Bukan soal lima menit. Bukan pula soal absensi. Yang sedang dibangun adalah budaya profesional. Yang sedang dibangun adalah sebuah karakter. Sekolah yang hebat tidak lahir karena memiliki guru yang sesekali tampil luar biasa.
Sekolah yang hebat dibangun oleh guru-guru yang setiap hari konsisten melakukan hal-hal sederhana dengan benar. Datang tepat waktu. Masuk kelas tepat waktu. Keluar kelas tepat waktu. Memberi teladan.
Karena murid tidak belajar disiplin dari tulisan besar yang ditempel di dinding sekolah. Murid tidak belajar disiplin dari pelanggaran yang dikonversi ke angka kredit. Mereka belajar dari sosok yang setiap pagi mereka lihat. Dari guru yang datang sebelum mereka. Dari guru yang menyambut mereka dengan senyum. Dari guru yang menunjukkan bahwa disiplin bukan sekadar aturan. Melainkan karakter. Dan karakter selalu lebih mudah ditangkap melalui keteladanan daripada ceramah panjang dan hukuman. (*)
